Salin Artikel

Mempermalukan Anak untuk Pendisiplinan Tidak Efektif, Ini Sebabnya

KOMPAS.com - Setiap orangtua tentu punya cara untuk mendisiplinkan anaknya.

Bahkan, terkadang orangtua memiliki beberapa cara mendisiplinkan yang berbeda bagi setiap anaknya.

Pasalnya, setiap anak memiliki karakteristik berbeda, sehingga cara mendispilinkan anak pun berbeda.

Nah, di antara berbagai cara mendisiplinkan anak, child shaming atau mempermalukan anak masih banyak dilakukan oleh orangtua saat ini, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Padahal dilansir dari Moms, mendisiplinkan anak dengan cara mempermalukannya tak akan efektif. Mengapa?

Untuk menjawabnya, simak paparan lengkap tentang mempermalukan anak berikut ini.

Seperti apa bentuk mempermalukan anak?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, mungkin saja orangtua mempermalukan anak-anaknya tanpa sadar.

Itulah mengapa penting untuk memiliki pemahaman penuh tentang seperti apa bentuk mempermalukan dalam mengasuh anak.

Dikutip dari Natural Child, mempermalukan akan membuat seseorang memandang buruk dirinya sendiri, dengan harapan anak akan mengubah perilakunya.

Namun ini justru akan memberi anak pandangan negatif tentang dirinya, bukan mengoreksi perilakunya.

Misalnya, dengan mengatakan, “kelakuan kamu seperti anak manja,” “berhenti bertingkah seperti bayi,” atau “nggak ada yang seumuranmu tapi kelakuannya seperti ini.”

Semua komentar di atas adalah bentuk dari mempermalukan anak. Semuanya merupakan komentar langsung pada anak, mamun tidak mengatakan apa pun tentang perilaku spesifik yang ia dilakukan.

Apalagi, biasanya orangtua mempermalukan anak-anaknya di depan umum. Artinya, saat itu orangtua mendisiplinkan anak di depan orang lain.

Menurut Healthy Way, perilaku tersebut perlu diatasi,

Saat anak melakukan sesuatu, ajak anak ke tempat yang sepi dan bicarakan perilakunya, bulkan mengomelinya di tengah-tengah taman bermain yang ramai.

Mempermalukan anak di tahun 2022

Saat ini, cara mempermalukan anak bahkan sudah lebih luas.

Menurut Social Work Today, banyak orangtua yang menggunakan media sosial untuk mempermalukan anaknya.

Baru-baru ini misalnya, ada sebuah video yang memperlihatkan seorang ayah merekam anaknya pulang dari sekolah dengan berjalan kaki karena melakukan sesuatu yang buruk.

Padahal, taktik ini tak akan mengubah perilaku anak karena kita tidak berusaha menangani perilaku buruk itu.

Kita hanya mempermalukan anak di forum umum.

Perlu diingat, semua hal yang diunggah di internet bersifat “selamanya,” dan ini dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mental anak , terutama jika teman dan anak-anak seusianya menemukan video itu.

Dampak negatif child shaming

Selain tidak efektif, mempermalukan hanya akan merugikan anak dan orangtua.

Sebab, mempermalukan anak akan menyerang dan merusak harga diri seorang anak, membuatnya merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengannya.

Tak hanya itu, mempermalukan anak juga dapat merusak kepercayaan antara orangtua dan anak.

Padahal, orangtua dan rumah seharusnya menjadi tempat di mana seorang anak merasa aman. Namun, itu akan hancur jika orangtua terus mempermalukan anaknya untuk berperilaku baik.

Tidak perlu melakukannya

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, mempermalukan anak tidak akan efektif karena kita tidak mengatasi perilaku tersebut.

Jadi, jika anak melakukan kesalahan di sekolah, membuatnya berjalan pulang dari sekolah, merekamnya, dan mengunggahnya di internet tidak akan mengatasi dan memperbaiki perilakunya.

Ingat, mempermalukan anak bukanlah hal yang dibangun atas dasar saling menghormati dan komunikasi.

Jika sudah terlanjur, yang bisa dilakukan orangtua saat ini adalah menyadari kesalahannya, berusaha untuk tidak mengulanginya lagi, dan meminta maaf kepada anaknya.

Tidak perlu malu mengakui kesalahan dan mengatakannya kepada anak.

Bahkan, ini dapat membantu memperbaiki beberapa kepercayaan yang rusak, dan anak akan mendapat pelajaran berharga dari kesalahan yang dibuatnya dan berusaha untuk berperilaku lebih baik.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/03/29/114112120/mempermalukan-anak-untuk-pendisiplinan-tidak-efektif-ini-sebabnya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.