Salin Artikel

Pakar: Kesaksian Emosional Amber Heard Tak Berarti Berbohong

Dalam persidangan melawan Johnny Depp, ia menunjukkan berbagai ekspresi termasuk berwajah datar, kesedihan dan air mata.

Bintang Aquaman itu juga kerap tidak konsisten dengan kata-katanya ketika menjelaskan pengalaman yang dialaminya.

Karena itu, publik menilainya berbohong saat mengaku sebagai korban kekerasan domestik yang dilakukan mantan suaminya itu.

Kesaksiannya juga dijadikan objek berbagai meme yang kemudian beredar luas di media sosial.

Namun sejumlah pakar mengingatkan agar tidak hanya mengandalkan bagaimana emosi seorang saksi selama kesaksian ketika menilai kredibilitasnya.

Korban kekerasan seksual maupun domestik seringkali tidak tampil seperti yang diingunkan ketika menceritakan trauma yang dialaminya.

"Beberapa penyintas mungkin bereaksi untuk menceritakan pengalaman mereka dan tampak ketakutan, gelisah, atau tertekan," kata Kate Porterfield, seorang psikolog klinis di Program Rumah Sakit Bellevue untuk Korban Penyiksaan di New York City.

"Tetapi kemudian dengan cepat "berbalik" ketika tubuh mereka mencoba untuk menenangkan kegelisahan."

Kondisi itu membuat orang tersebut tampak datar, terlepas dan terputus dari sekitarnya.

"Semua ini sulit dipahami juri karena tampaknya berlawanan dengan intuisi bahwa seseorang bisa terlihat datar atau bahkan bosan, atau bahwa seseorang akan kesulitan mengingat detail dari sesuatu yang mengerikan yang dia derita," tambah Kate, yang juga bekerja di Universitas Columbia.

Pentingnya memahami trauma dan berempati, termasuk pada Amber Heard

Ekspresi Amber Heard disebut salah satu juri persidangan kerap membuat tidak nyaman, yang juga jadi alasan kekalahannya di pengadilan.

Wanita berusia 36 tahun itu dianggap mengeluarkan air mata buaya untuk mendapatkan simpati.

Sementara itu, Johnny Depp terlihat lebih stabil secara emosional sehingga kesaksiannya dianggap lebih 'nyata'.

Jim Hopper, seorang psikolog klinis dan ahli trauma psikologis di Amerika Serikat mengatakan bahwa wajar untuk membuat penilaian tentang seseorang berdasarkan bagaimana mereka mengekspresikan emosinya.

"Kamu hanya manusia, jadi kamu tidak bisa menahannya," kata Hopper, yang juga pengajar di Harvard Medical School.

"Pertanyaannya adalah, apa basis pengetahuan yang Anda miliki? Jika mereka adalah seseorang yang mengalami trauma, apakah Anda mampu berempati dengan seseorang yang mungkin mengungkapkan trauma itu dalam berbagai cara yang berbeda?"

Hal ini memberikan tekanan tersendiri dengan sejumlah orang yang terus-terusan mengarahakn kebencian kepadanya.

"Jadi bukan hanya seseorang yang benar-benar trauma, dan seperti apa bentuknya? Tapi, juga, bagaimana rasanya mengingat traumamu di depan umum dengan sekelompok orang yang bermusuhan menatapmu dan memberimu tatapan benci sepanjang waktu?"

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/06/23/112349020/pakar-kesaksian-emosional-amber-heard-tak-berarti-berbohong

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.