Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Obat Pelangsing, Bagaimana Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

KOMPAS.com - Menurunkan berat badan tidak bisa dilakukan secara instan. Perlu beberapa minggu bahkan bulan supaya hasilnya terasa.

Tidak mengherankan kalau orang-orang yang ingin berat badannya segera turun memilih mengonsumsi obat pelangsing.

Akan tetapi, obat tersebut tidak bisa seenaknya diminum. Karena obat pelangsing bisa menimbulkan efek samping jika keliru dikonsumsi.

Supaya hasilnya benar-benar terasa dan bebas risiko, ketahui dulu apa saja jenis obat pelangsing, siapa saja yang boleh minum, dan efek sampingnya.

Siapa yang boleh minum obat pelangsing

Dilansir dari Mayo Clinic, obat pelangsing akan disarankan oleh dokter jika orang-orang yang sudah berolahraga atau diet, berat badannya tidak turun.

Dokter akan mensyaratkan beberapa hal berikut ini sebelum memberikan obat pelangsing:

  • Indeks massa tubuh (IMT) lebih besar dari 30
  • IMT lebih dari 27 dan mengidap penyakit serius, seperti obesitas atau tekanan darah tinggi.

Bila syarat-syarat itu terpenuhi, dokter selanjutnya akan mempertimbangkan riwayat kesehatan pasien dan efek baik-buruk ketika minum obat pelangsing.

Perlu dicatat bahwa obat pelangsing tidak cocok untuk semua orang, terlebih bagi ibu hamil atau yang sedang menyusui.

Efektivitas obat pelangsing

Obat pelangsing yang dikonsumsi jangka panjang atau lebih dari 12 minggu dapat menurunkan berat badan secara signifikan dibanding plasebo (obat kosong).

Tapi, perpaduan antara obat pelangsing dengan merubah gaya hidup bisa menurunkan berat badan lebih banyak.

Dampak tersebut lebih besar manfaatnya jika dibandingkan perubahan gaya hidup saja.

Jika obat pelangsing secara rutin dikonsumsi dalam setahun maka berat badan dapat turun sebanyak 3-7 persen.

Meski sebagian orang menyebut persentasenya kecil, penurunan berat badan sebesar 5-10 persen sudah bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Penurunan berat badan dapat berimplikasi pada menurunnya tekanan darah, gula darah, dan kadar trigliserida (lemak dalam darah).

Efek samping obat pelangsing

Seperti yang sudah disebutkan, minum obat pelangsing tidak bisa sembarangan karena ada efek sampingnya.

Efek samping yang dapat ditimbulkan, seperti mual dan sembelit atau diare. Untungnya, efek samping ini bisa berkurang seiring waktu.

Di samping itu, efek samping yang serius juga jarang terjadi tetapi konsultasi dengan dokter tetap diperlukan.

Supaya berat badan benar-benar turun dan tidak bertambah kembali, lebih baik barengi dengan gaya hidup sehat yang konsisten.

Jangka waktu minum obat pelangsing

Lamanya mengonsumsi obat pelangsing sebenarnya ditentukan oleh efektivitas dari obat ini.

Kalau berat badan benar-benar berkurang secara signifikan dan tidak ada efek samping yang serius, obat pelangsing bisa diminum tanpa batas waktu.

Tapi, kalau berat badan tidak berkurang sebanyak 5 persen dalam waktu tiga bulan, mungkin dokter akan menyarankan obat pelangsing yang lain.

Jenis-jenis obat pelangsing

Ada berbagai obat pelangsing yang dapat dikonsumsi. Berikut di antaranya:

1. Bupropion-naltrexone

Obat pelangsing ini adalah kombinasi dari bupoprion dan naltrexone. Bupoprion adalah antidepresan dan berhenti merokok.

Sementara naltrexone dapat dikonsumsi untuk mengurangi ketergantungan alkohol dan opioid.

Efek samping dari mengonsumsi bupoprion-naltrexone adalah meningkatnya tekanan darah, mual, sakit kepala, dan sembelit.

2. Liraglutide

Obat lainnya yang dapat dikonsumsi adalah liraglutide. Obat ini digunakan untuk mengatasi diabetes.

Jika dibandingkan dengan obat pelangsing lainnya, liraglutide diberikan kepada pasien dengan cara disuntikkan.

Biasanya, efek samping dari liraglutide adalah mual dan muntah.

3. Orlistat

Orlistat berisiko menyebabkan masalah gastrointestinal (usus-lambung), seperti perut kembung dan mencret.

Obat tersebut dapat diminum dengan dibarengi pola makan yang rendah lemak supaya khasiatnya terasa.

4. Phentermine-topiramate

Phentermine-topiramate adalah kombinasi dari phentermine dan topiramate.

Phentermine berpotensi disalahgunakan karena bertindak seperti amfetamin (stimulan sistem saraf pusat).

Efek lainnya dari phentermine yang mungkin terjadi adalah peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, insomnia, sembelit, dan gugup.

Sementara itu, dampak dari mengonsumsi topiramate adalah meningkatkan peluang cacat lahir.

Meski ada berbagai obat yang dapat diminum supaya berat badan turun, ingatlah untuk berkonsultasi dengan dokter.

Abaikan saran "katanya dari teman ketika mereka merekomendasikan obat pelangsing untuk menghindari efek samping yang serius.

Selain itu jangan sembarangan minum obat pelangsing yang beredar di pasaran, apalagi bila kamu tidak tahu apa isinya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/09/18/092647520/obat-pelangsing-bagaimana-menggunakannya-dan-apa-efek-sampingnya

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.