Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tiger Parenting, Benarkah Bikin Anak Sukses di Masa Depan?

KOMPAS.com - Orangtua mana yang tidak ingin anaknya sukses di masa depan?

Karena alasan ini, sebagian orangtua menerapkan tiger parenting kepada si buah hati.

Tiger parenting yang diyakini mencetak anak yang sukses dipopulerkan oleh penulis yang juga profesor hukum, Amy Chua, melalui bukunya berjudul "Battle Hymn of the Tiger Mom".

Setelah buku itu rilis, tidak sedikit orangtua yang ingin anaknya sukses memilih menerapkan pola pengasuhan ini.

Meski, ada pihak menyebut tiger parenting tidak cocok untuk semua anak dan budaya.

Terlepas dari kontroversi yang ada, benar tidak sih tiger parenting menghasilkan anak yang berprestasi?

Berikut ulasannya.

Sejarah tiger parenting

Walau dipopulerkan oleh Chua, faktanya tiger parenting sudah dicetuskan oleh pemikir yang juga mahaguru asal Tiongkok, Konfusius alias Kong Zi, sejak abad kelima.

Filosofi yang dikemukakan sang filsuf mengedepankan struktur keluarga yang hierarkis, loyalitas, etos kerja, kejujuran, dan komitmen terhadap pendidikan dan prestasi akademik.

Semenjak Konfusicus mencetuskannya sekitar 2.000 tahun yang lalu, pola pengasuhan ini mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pendidikan di Asia Timur.

Orang-orang yang lahir dan besar di kawasan tersebut memang memandang pendidikan sebagai gerbang keberhasilan untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi.

Pengertian tiger parenting

Tiger parenting yang dipopulerkan oleh Chua sebenarnya mengacu pada metode pengasuhan ketat yang otoritatif untuk membesarkan anak yang berprestasi.

Pola pengasuhan tersebut membuat anak lebih fokus pada pendidikan ketimbang liburan, jalan-jalan, bermain, atau nongkrong.

Secara khusus, orangtua yang mengaplikasikan tiger parenting punya kecenderungan mengatur kehidupan anaknya secara mendetail.

Bahkan, orangtua yang demikian memberikan dorongan kepada anak untuk memenuhi harapannya yang tinggi.

Pola asuh yang demikian agaknya tergambar dalam buku yang ditulis Chua karena ia membagikan masa kecilnya yang dibesarkan oleh pola pengasuhan yang ketat.

Chua sengaja menulis "Battle Hymn of the Tiger Mother" sebagai memoar tentang pengalamannya mengasuh anak dalam dua budaya.

Ia tidak bermaksud mengunggulkan pola pengasuhan orangtua di Asia lebih baik ketimbang orangtua di negara-negara Barat.

Seperti apa tiger parenting?

Secara mudah, tiger parenting diasosiasikan sebagai pola pengasuhan yang ketat.

Tapi, ketika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, orangtua dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Terlalu ketat

Orangtua yang menerapkan tiger parenting mengorbankan masa kecil anak demi kesuksesan si buah hati di masa depan.

Mereka tidak mengizinkan anaknya mengikuti acara yang menyenangkan, seperti ulang tahun temannya, jalan-jalan, atau menginap, termasuk pacaran.

Tetapi, keuntungan dari orangtua yang demikian adalah membatasi akses anaknya terhadap alkohol maupun narkoba.

2. Ekspektasi terlalu tinggi

Tiger parenting memiliki harapan agar anaknya berprestasi dan menjadi terbaik dalam segala hal.

Ketika si buah hati gagal, orangtua tidak segan menegur anaknya karena membuat malu keluarga.

Karena alasan itulah anak menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, berlatih, dan les supaya berprestasi, termasuk diterima di perguruan tinggi terbaik.

3. Membuat rasa takut

Orangtua yang mengaplikasikan tiger parenting secara langsung membuat anaknya takut dan ingin mereka dihormati.

Pola pengasuhan yang demikian membuat anak tidak berani memberikan feed back apalagi menyela pembicaraan orangtua karena takut dimarahi atau menerima hukuman secara fisik.

4. Semuanya serba orangtua

Tiger parenting menekankan kuasa yang besar dari orangtua dan pengaruhnya terhadap anak.

Si buah hati tidak memiliki kesempatan untuk mengambil keputusannya sendiri karena semuanya harus mendapat persetujuan orangtua.

Orangtua yang mengerapkan tiger parenting berharap impiannya menjadi harapan anaknya juga.

5. Anak dibebani tuntutan

Si tiger parents mendefiniskan kesuksesan berdasar kekuatan dan status yang bisa diberikan anak kepada keluarga.

Anak juga dibebani tuntutan untuk mengangkat nama baik keluarga lewat kerja keras mereka.

Manfaat tiger parenting

Orangtua yang membesarkan anaknya dengan tiger parenting percaya bahwa pola pengasuhan yang ketat berguna bagi masa depan anaknya di masa depan.

Selain itu, orangtua yang menerapkan tiger parenting merasa bahwa standar tinggi yang diberikan kepada anak memberikan etos kerja yang tinggi dan kuat.

Anak yang dididik dengan tiger parenting pada akhirnya mendorong kedisplinan diri sendiri yang terbawa hingga dewasa.

Tak hanya itu, anak juga belajar kerja keras sejak usia dini.

Kekurangan tiger parenting

Standar tinggi yang dibebankan oleh orangtua dikhawatirkan membahayakan kesehatan mental anak.

Si buah hati juga tertekan karena takut berbuat salah atau gagal memenuhi ekspektasi orangtua yang terlalu tinggi.

Tiger parenting mungkin bermaksud baik, tetapi studi telah menunjukkan hasil yang berlawanan dari pola pengasuhan ini.

Studi mengatakan, anak yang dididik dengan tiger parenting tidak lebih mungkin untuk sukses secara akademis daripada teman-temannya yang orangtuanya menggunakan pola pengasuhan alternatif.

Hal tersebut terungkap dalam studi tahun 2014 yang diteritkan di Asian American Journal of Psychology.

Studi ini juga menentukan bahwa anak lebih mungkin secara psikologis tidak dapat menyesuaikan diri dengan peningkatan risiko kecemasan dan depresi.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/09/26/140343520/tiger-parenting-benarkah-bikin-anak-sukses-di-masa-depan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke