Sekilas, bentuknya memang kurang menggugah selera karena penampilan yang lengket dengan tekstur licin dan aromanya yang asam.
Jika dimakan dengan sumpit maka akan menampilkan lendir putih panjang, menyerupai benang.
Penyuka natto menyebut rasanya yang unik sebagai keunggulannya selain juga manfaatnya untuk kesehatan.
Sebenarnya kita juga punya olahan fermentasi kacang kedelai yang tak kalah lezat dan sudah jauh lebih dulu populer yakni tempe.
Namun manakah yang jauh lebih sehat dan bermanfaat untuk tubuh, natto atau tempe? Simak perbandingannya.
Proses fermentasi
Natto dibuat dengan membungkus kacang kedelai yang telah direbus menggunakan jerami dan membiarkannya berfermentasi selama seharian dalam suhu 30 – 400 C.
Jerami dipakai untuk memberikan jamur Bacillus subtilis natto ke dalam kacang kedelai agar terjadi fermentasi.
Proses ini yang kemudian menghasilkan rasa asam dan aroma amonia yang pekat sehingga beberapa orang kadang tidak tahan.
Rasa unik nato adalah hasil dari branched-chain short fatty acids (BCFAs) atau asam lemak rantai pendek bercabang yang juga terbentuk selama proses fermentasi.
Diberikan jamur Rhizopus sp untuk proses fermentasi lalu dikemas dalam plastik berlubang atau daun pisang kemudian diinkubasi atau didiamkan pada suhu 30 ± 2 0C selama 48 jam.
Cara konsumsi
Natto bisa dimakan langsung tanpa perlu dimasak. Biasanya disajikan dengan bahan lainnya seperti mustard Jepang, kecap, atau daun bawang cincang yang bisa menambah kelezatannya.
Aduk terlebih dulu kacang kedelai dengan kuat menggunakan sumpit agar lebih mudah dimakan dan tercampur sempurna.
Ada juga yang mengolah natto sebagai bumbu dalam sup miso, digoreng, dicampur dengan ayam cincang atau dibumbui dengan lobak maupun kecap.
Sementara itu, masyarakat Indonesia biasanya memasak tempe dengan cara digoreng agar rasanya semakin gurih dan renyah.
Ada yang juga yang dijadikan sayur, digoreng dengan tepung atau dibacem yang rasanya lebih manis.
Kandungan gizi
Dikutip dari Dietela, layanan konsultasi nutrisi online di Indonesia, natto dan tempe memiliki kandungan lemak trans dan kolesterol yang sama.
Kandungan energi, lemak jenuh, protein, dan garam natrium pada dua makanan tradisional ini hampir berimbang.
Akan tetapi, kandungan karbohidrat pada natto hampir dua kali lipat dari tempe, yang berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh.
Tempe mengandung vitamin B12 sekaligus kandungan folat yang tiga kali jauh lebih banyak daripada natto.
Nutrisi tersebut bermanfaat untuk perkembangan sistem saraf, termasuk otak sehingga konsumsi tempe mampu meningkatkan kemampuan memori seseorang.
Di sisi lain, natto mengandung kalsium dua kali lebih tinggi, zat besi lebih banyak dan kalium sehingga baik untuk kesehatan tulang, pembentukan hemoglobin, dan menjaga keseimbangan cairan.
Manfaat kesehatannya memang beragam namun dianjurkan tidak berlebihan karena bisa memicu risiko efek samping.
Bahan baku utamanya yakni kedelai diketahui bisa menyebabkan alergi bagi sebagian orang.
Gejalanya termasuk gatal, sakit tenggorokan, mual, muntah, sakit perut, dan lainnya.
Umumnya alergi kedelai dialami anak-anak dan bayi meskipun orang dewasa juga bisa mengalaminya.
Kandungan nattokinase di natto juga bisa mencegah pembekuan darah sehingga konsumsi berlebihan, apalagi ditambah dengan konsumsi obat anti pembekuan darah, dapat mengakibatkan pendarahan di dalam tubuh.
https://lifestyle.kompas.com/read/2023/01/18/190432420/natto-vs-tempe-sama-sama-dari-kedelai-tapi-mana-yang-lebih-sehat
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & Ketentuan