JEO - Lifestyle

Yuk, Konsisten
Diet Plastik

Sabtu, 31 Agustus 2019 | 17:09 WIB

Kemarin telah berlalu. Hari esok belum tiba. Kita hanya punya hari ini. Mari kita memulai.

~Bunda Teresa~

DUNIA telah lama terbelit persoalan sampah plastik. Namun, baru dua tahun terakhir publik seolah tersentak soal dampak sampah plastik.

Gerakan antiplastik pun menggelora di berbagai penjuru dunia. Berbagai cara dilakukan, baik dalam skala pribadi maupun korporasi, untuk lebih serius mengurangi sampah plastik.

Seperti ditegaskan kembali oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia. 

Ini merujuk data riset Jenna Jambeck dan kawan-kawan yang dilansir pada 2015.

Riset Jenna Jambeck dkk soal sampah laut
DOK jambeck.engr.uga.edu
Riset Jenna Jambeck dkk soal sampah laut

Bahkan, riset Jenna Jambeck yang dilansir pada 2018 menyebut Indonesia masuk daftar 10 besar pengekspor sampah plastik ke China pada 2016.

Belakangan, China mengubah kebijakan impor sampah mereka. Bacaannya, sampah plastik yang dulu sebagian di antaranya diekspor kini tetap berada di dalam negeri.

Belum lagi, riset Jambeck yang sama memetakan Indonesia sebagai salah satu negara yang disasar untuk ekspor (baca: tujuan pembuangan) sampah dari sejumlah negara.

Isu sampah plastik ini memang kompleks. Bahkan dalam keseharian pun tak mudah untuk benar-benar menghilangkan penggunaan dan sampah plastik.

Baca juga: Film Aquaman, Sampah, dan Generasi Tidak Peduli

Misalnya, beberapa jenis wadah dan kemasan plastik susah disingkirkan karena bisa menghindarkan kontaminasi makanan. 

Bukan berarti upaya mengurangi sampah plastik lalu tak bisa berlanjut. 

Meski belum akan bisa sepenuhnya menghilangkan plastik, kita sebenarnya bisa menggunakan inisiatif 4R untuk berkontribusi mengurangi sampah plastik. 

4R merupakan kependekan dari reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), refuse (menolak memakai), dan recylce (mendaur ulang). Wujudnya macam-macam. 

Contoh wujud inisiatif yang paling umum adalah membawa kantong belanja sendiri, membawa sedotan stainless atau bambu untuk menghindari sedotan sekali pakai, dan membawa botol minum yang bisa diisi ulang. 

Bila digabung dengan upaya mengolah sampah organik menjadi kompos, inisiatifnya disebut sebagai 5R. Huruf R terakhir adalah kependekan dari rot (membusukkan). 

5R: Gaya hidup Kurangi Sampah Plastik - (KOMPAS.com/AKBAR BHAYU TAMTOMO)

Segmen-segmen berikut ini memotret sejumlah inspirasi dari perorangan, tokoh publik, dan korporasi yang berinisiatif dan atau mendisplinkan diri berkontribusi mengurangi sampah plastik.

Sesudah itu, pada bagian terpisah, ada sejumlah tips praktis memulai upaya serupa. Sebagai pengingat, pada segmen terakhir, disertakan pula kontribusi yang dapat diwujudkan dari beragam upaya yang ada.

MEREKA YANG TELAH MENJALANI...

GAYA hidup bebas plastik sudah diterapkan dalam tiga tahun terakhir oleh Ecka Pramita (35).

Berawal dari membawa kantong belanja sendiri sejak lebih dari lima tahun lalu, Ecka secara bertahap mencoba mengurangi sampah plastik.

Saat ini, perempuan yang juga memiliki toko online tersebut juga menggunakan tas kertas atau kain untuk membungkus pesanan pelanggannya.

Menurut Ecka, menerapkan gaya hidup mengurangi sampah plastik sebetulnya tidak susah meski sesekali ia pun lupa.

Ilustrasi less waste - (SHUTTERSTOCK/VIKKI ZU)

“Kadang lupa, wajar ya memang terus mengingatkan saja kalau yang dilakukan ini tampak kecil tapi sudah berkontribusi,” ucap Ecka.

Gaya hidup Ecka itu dulu dianggap “ribet” oleh sekitarnya. Namun, setelah belakangan marak gerakan mengurangi sampah plastik, penilaian itu perlahan hilang. 

Terlebih lagi, sekarang banyak perusahaan dan restoran yang menerapkan kebijakan pengurangan sampah plastik.

“Sekarang sudah ada support system,” kata Ecka.

Dari kalangan selebriti, personel grup musik RAN, Rayi Putra dan sang istri, Dilla Hadju, juga punya kepedulian mendalam mengenai isu-isu lingkungan.

Mereka sudah sejak lama menerapkan gaya hidup hijau. Bahkan, Dilla juga aktif di organisasi konservasi lingkungan.

Personel grup musik RAN, Rayi Putra bersama istri, Dila Hadju, ketika menghadiri acara talkshow soal sampah di Senayan City, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2019).
KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA
Personel grup musik RAN, Rayi Putra bersama istri, Dila Hadju, ketika menghadiri acara talkshow soal sampah di Senayan City, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2019).

Selain membawa tempat minum, kantong belanja, sedotan dan peralatan makan sendiri ketika bepergian, mereka berusaha pula mengurangi sampah plastik di rumah.

Misalnya, menggunakan popok kain untuk putra mereka, Budi Abdul Kadir Putra, dan menggunakan popok berbasis kertas ketika bepergian.

Begitu pula untuk membuang sampah di rumah. Daripada menggunakan kantong plastik biasa, mereka memilih memakai kantong berbahan singkong.

Awalnya mungkin terasa agak sulit, namun lama-lama akan terbiasa. Namanya juga mengubah gaya hidup.

“Kami juga belum 100 persen. Saat belanja, misalnya, kami juga suka berusaha belanja di tempat yang menyediakan kantong dari singkong,” kata Dila.

Ia mengakui, mengurangi pemakaian plastik tak selalu mudah dalam praktiknya. Pilihan wadah untuk mengemas dan membawa belanjaan, misalnya, kerap dilematis.

Daripada memakai kardus bekas sebagai wadah, harus diakui lebih gampang mengemas dan membawa belanjaan menggunakan kantong plastik.

Solusi Dila untuk kondisi seperti ini adalah mengubah paradigma.

“(Harus dipikir), pakai kardus lebih memudahkan kita karena jadi satu tempat. Jadi, mikirnya bukan sekadar mengurangi plastik, tapi memang lebih enak pakai kardus. Pola pikir kita perlu dibalik supaya enggak jadi beban,” tutur dia.

Dalam skala lebih luas, Rayi dan 15 orang timnya di grup RAN sejak 2018 juga sudah mulai mengurangi sampah plastik.

Baca juga: JEO - Penambang Emas Perkotaan dan Dilema E-Waste

Demi mengurangi sampah botol plastik, contohnya, mereka meminta pengundang acara menyediakan dispenser minuman menggantikan air minum dalam kemasan saat mereka manggung.

“Kami beli tumblr sendiri untuk dibawa kemana-mana. Bahkan bikin hardcase untuk tumblr-nya,” kata Rayi.

Kurangi sampah plastik - (SHUTTERSTOCK/SOKOFLY)

Baik Rayi maupun Dila sama-sama senang melihat gerakan tersebut saat ini semakin banyak diterapkan dan menjadi tren gaya hidup positif.

Cara lain untuk memulai gaya hidup minim sampah adalah mengurangi penggunaan pembalut atau tampon saat siklus menstruasi.

Direktur Eksekutif Gerakan Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira, mencontohkan penggunaan pembalut kain yang bisa dicuci dan dipakai kembali atau menstrual cup bagi yang malas mencuci.

“Awalnya mungkin terasa agak sulit, namun lama-lama akan terbiasa. Namanya juga mengubah gaya hidup nanti juga akan betah,” kata Tiza.

UPAYA PERUSAHAAN

KORPORASI alias perusahaan juga memegang peran penting untuk mengurangi sampah plastik. Terlebih lagi korporasi yang menghasilkan produk.

Upaya yang bisa dilakukan—bila perlu dituntut—dari korporasi, terutama, adalah mencegah sampah kemasan produk mereka sendiri berakhir di lautan. 

Sejumlah perusahaan tampak telah memulai upaya ini. Tak hanya perusahaan luar negeri yang memasarkan produknya di Indonesia tetapi juga perusahaan berbasis di dalam negeri. 

Danone-Aqua, misalnya, meluncurkan “Aqua Life”, air minum kemasan dengan 100 persen bahan daur ulang dan dapat didaur ulang.

Targetnya, pada 2025, Danone-Aqua bisa mengumpulkan lebih banyak plastik daripada menggunakannya sebagai bahan baku produk.

Tahap pelepasan label pada botol plastik yang dilakukan di pusat pengumpulan sampah botol plastik (aggregation center) di Bengaluru, India. Botol-botol plastik yang sudah bersih kemudian akan dilanjutkan ke tahap berikutnya sebelum dikirim ke The Body Shop untuk didaur ulang menjadi kemasan baru.
KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA
Tahap pelepasan label pada botol plastik yang dilakukan di pusat pengumpulan sampah botol plastik (aggregation center) di Bengaluru, India. Botol-botol plastik yang sudah bersih kemudian akan dilanjutkan ke tahap berikutnya sebelum dikirim ke The Body Shop untuk didaur ulang menjadi kemasan baru.

Dari industri kecantikan, label kosmetik asal Inggris The Body Shop bisa dibilang cukup vokal dalam hal mengatasi sampah plastik.

Terlebih lagi, limbah kosmetik juga menyumbang jumlah sampah yang cukup besar ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di Indonesia, The Body Shop memiliki program “Bring Back Our Bottles” (BBOB). Program ini memungkinkan konsumen untuk mengembalikan kemasan kosong mereka ke gerai The Body Shop terdekat.

Kemasan-kemasan tersebut kemudian akan dikelola oleh mitra untuk dimanfaatkan menjadi barang guna baru.

PT Unilever Indonesia punya cara sendiri untuk mengelola kembali kemasan produk sekali pakainya, seperti kemasan sampo, deterjen, dan pewangi.

CreaSolv Technology yang dimiliki Unilever memungkinkan kemasan sachet lebih fleksibel didaur ulang. Lebih dari 60 persen kemasan tersebut dibuat dari bahan polietilena, sehingga Unilever fokus mendaur ulang bahan tersebut.

Ada pula Boga Group yang menyediakan 10.000 sedotan bambu sebagai alternatif sedotan plastik sekali pakai. Ribuan sedotan ramah lingkunga itu disediakan di lebih dari 100 outlet Boga Group di Indonesia.

WAKTUNYA MENJALANKAN

GERAKAN mengurangi sampah plastik sebetulnya tidak sulit jika kita mau memulainya di kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah memulai.

Mau  menerapkan gaya hidup minim plastik? Berikut ini sejumlah tips yang bisa mulai dan didisplinkan penerapannya: 

 

Baca juga: Berbagai Tindakan Sederhana untuk Mengurangi Penggunaan Plastik

Seberapa besar dampaknya? 

Masalah sampah sudah semakin memprihatinkan. Di Indonesia, timbunan sampah diperkirakan mencapai 175.000 ton per hari.

Di Jakarta, sampah harian mencapai 7.000 ton sampai 7.500 ton. 

Founder Waste4Change, M Bijaksana Junerosano menyebutkan, tumpukan sampah tersebut sudah setara dengan Candi Borobudur.

Suasana aktivitas di Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/8/2019). Timbunan sampah plastik telah memadati kawasan ini sejak lama karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Suasana aktivitas di Kampung Bengek, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/8/2019). Timbunan sampah plastik telah memadati kawasan ini sejak lama karena kurangnya perhatian dari pemerintah setempat.

Riset mendapati, masyarakat Indonesia yang tidak memilah sampah jumlahnya mencapai 81 persen.

Lalu, 10 persen masyarakat sudah memilah sampahnya dengan baik, namun sampah tersebut kembali dicampur setelah diangkut petugas.

Baca juga: Kisah Warga Kampung Bengek yang Terkepung Lautan Sampah di Teluk Jakarta

Namun, semua masalah itu seolah tak terlihat. Karena, kebanyakan masyarakat masih berpikir dan bertindak sebatas menyingkirkan sampah dari pandangannya saja.

“Jadi kalau ditanya masalahnya di mana, masalah sampah ada di mana-mana. Perilaku, infrastruktur, peraturan, pembiayaan. Banyak,” kata Sano beberapa waktu lalu.

Lalu, seberapa besar pengaruh gaya hidup less plastic terhadap pengurangan sampah plastik di Indonesia, bahkan dunia?

Sano mencontohkan praktik pemilahan sampah yang dilakukannya di rumah. Selain memilah sampah, ia juga membuat lubang biopori untuk membuang sampah organik.

Sisa-sisa makanan yang dimasukkan ke dalam lubang biopori kemudian akan melalui proses alami sehingga menjadi kompos atau kembali menjadi tanah.

“Dengan metode pemilahan seperti itu kita sudah mengurangi sampah 70 persen. Bagi yang tidak punya tanah dan sebagainya, ada yang disebut komposter, takakura, dan sebagainya,” ucapnya.

  1. Tiga konsep

  2. Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Novrizal Tahar menyebutkan ada tiga arus besar pengelolaan sampah.

Ketiga konsep tersebut adalah:

Mendorong less waste

Novrizal mengatakan, ketiga konsep itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah. Saat ini, yang paling didorong adalah konsep less waste.

“Itu yang paling tinggi hierarkinya. Jadi, bagaimana kita bisa mendorong perubahan perilaku masyarakat,” tutur Novrizal.

Nah, bagaimana dengan kita? Sudahkah menerapkan gaya hidup minim plastik di keseharian? Mau memulai?

Karena, sekarang adalah waktunya mempraktikkan, menjalani, dan menerapkan....

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.