Lebih Menguntungkan dengan Bedah Laparoskopi

Kompas.com - 11/01/2008, 01:02 WIB
Editor

PERKEMBANGAN yang pesat di bidang teknologi kesehatan khususnya ilmu bedah telah mendatangkan manfaat dan keuntungan yang besar bagi kehidupan manusia. Ditemukannya teknik bedah Laparoskopi atau bedah minimal invasiv misalnya, kini telah mulai menggantikan teknik-teknik konvesional kecuali pada kasus-kasus tertentu.

Laparoskopi, yang merupakan revolusi besar di bidang ilmu bedah, kini banyak dipilih karena prosedurnya yang mudah serta waktu operasi yang lebih singkat ketimbang konvesional. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk operasi menggunakan pencitraan pada monitor dengan memakai teleskop dan sistem endokamera ini rata-rata hanya berlangsung sekitar 30 menit sampai dua jam saja. Sedangkan operasi konvesional memerlukan waktu minimal dua hingga tiga jam.
 
Operasi ini disebut invasif minimal karena tanpa harus membuka bagian tubuh dengan sayatan besar, tapi dengan sedikit sayatan saja. Alhasil, kerusakan pada jaringan tubuh pun dapat diminimalisir, pasien pun dapat pulih dengan lebih cepat.

"Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari teknik bedah laparoskopi ini. Operasi ini mengurangi kerusakan pada jaringan, mengurangi nyeri pasca bedah, penyumbuhan luka yang lebih cepat, serta pemulihan peristaltik (pergerakan) usus yang tidak terlalu lama," terang Dr. Errawan R Wiradisuria SpB(K)BD dari perhimpunan bedah Endo-Lapaoroskopi Indonesia (PBEI)  dalam pemaparannya tentang "Bedah Saluran Cerna dengan Teknik Invasiv Minimal" di RS International Bintaro,  Selasa (8/1).

Khusus menyoal pemulihan peristaltik usus, lanjut Errawan, pada bedah laparoskopi memungkinkan lebih cepat terjadi mengingat organ (usus) tidak perlu dikeluarkan dari perut atau pun dipegang dokter. Peristaltik usus lebih akrab ditandai dengan buang angin atau kentut pasca operasi, dan ini merupakan salah satu tanda telah pulihnya fungsi alat pencernaan.

"Pada operasi konvesional untuk mengangkat empedu misalnya, dokter biasanya harus membuat sayatan sepanjang 20 sentimeter dan mengeluarkan lebih dulu usus dari perut dan kemudian memotong kantung empedu. Karena usus dipegang-pegang, biasanya butuh waktu lama untuk bergerak lagi setelah operasi," ujarnya.

Namun dengan Laparoskopi, tambah Errawan. dokter tidak perlu memegang usus sehingga gerak peristaltik pun bisa lebih cepat terjadi. "Bila bising ususnya sudah positif, pasien boleh langsung minum. Oleh karena itu, rata-rata setelah dua hari pasca operasi laparoskopi, pasien boleh pulang," tambahnya.

Keuntungan lain dari teknik Laparoskopi menurut Errawan adalah hasil estetika operasi. "Untuk operasi usus buntu misalnya, luka bekas operasinya relatif tidak terlihat. Di bagian perut hanya 0,2 cm saja, di bagian atas bulu kemaluan hanya 0,5 cm dan dipusar hanya 1 cm saja.  Padahal kalau operasi konvensional bisa disayat hingga 5cm atau 7cm," jelasnya.

Kuntungan lain dari teknik laparoskopi menurut Errawan adalah mencegah pelengketan usus, mengingat pasien yang habis operasi besar apapun kemungkinan bisa mengalami pelengketan 20 hingga 40 persen. "Hanya nanti manifesnya akan sangat tergantung kepada individu," ujar Errawan.

Bedah laparoskopi, yang biasanya memakan biaya minimal sekitar Rp30 juta, juga mendatangkan manfaat yang bersifat intangible bagi para pasien. Misalnya, masa pemulihan lebih cepat serta rawat inap lebih singkat sehingga pasien pun dapat segera kembali melakukan rutinitas semula.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.