Balada Mesin Penyambung Napas

Kompas.com - 15/01/2008, 16:11 WIB
Editor

Belakangan ini ventilator atau alat bantu pernapasan sering disebut-sebut media massa. Hal itu terkait dengan kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto. Apa sebenarnya fungsi alat ini dan sejauh mana kemampuannya dalam membantu mempertahankan hidup seseorang?

Menurut konsultan intensive care dari SMF Anestesi dan Reanimasi Rumah Sakit Persahabatan, dr Admar Anwar SpAn KIC, ventilator atau respirator adalah sebuah mesin yang berfungsi untuk membantu pernapasan pasien yang mengalami gagal napas.

"Paru-paru berfungsi dalam pertukaran gas, yaitu mengambil oksigen dari udara dan mengeluarkan karbon dioksida dari dalam tubuh. Jika fungsi pertukaran gas tidak mampu dilakukan paru atau pasien mengalami gagal napas, tubuh terancam tidak mendapatkan oksigen yang dibutuhkan sel-sel tubuh untuk tetap hidup sehingga pasien bisa meninggal," ujar Admar.

Fungsi pertukaran gas dalam paru-paru dilakukan oleh alveoli, yaitu kantong-kantong kecil yang dikelilingi pembuluh kapiler berisi darah. Dalam alveoli, oksigen berdifusi ke dalam darah untuk dibawa hemoglobin ke seluruh tubuh. Jika paru-paru tidak mampu melakukan pertukaran gas secara spontan, perlu dibantu ventilator.

Menurut Admar, ventilator dipasang ke tubuh pasien dengan bantuan endotracheal tube (pipa yang dipasang ke tenggorokan lewat mulut atau hidung). Bisa juga lewat pipa yang dimasukkan dengan melubangi tenggorokan (tracheostomy tube).

Ventilator membantu memompakan oksigen ke dalam paru-paru. Oksigen yang dipompakan berkisar 30 hingga 100 persen. Pasien yang mengalami gagal napas diberikan oksigen 100 persen, kemudian dikurangi secara bertahap seiring perbaikan fungsi paru-paru. Hal itu dilakukan dengan melihat hasil analisis gas darah serta kondisi klinis pasien.

Analisis gas darah pada kondisi normal adalah karbon dioksida (CO>sub<2>res<>res<) 40 mmHg, tekanan oksigen dalam pembuluh darah arteri (PaO>sub<2>res<>res<) 90-100 mmHg, dan tingkat keasaman darah (pH) 7,4. Pemberian oksigen ditujukan untuk mencapai kondisi normal tersebut.

Kondisi klinis yang dimaksud ialah tekanan darah sudah normal sekitar 120/80 mmHg atau sesuai kondisi pasien, suhu badan dan kadar leukosit normal, serta saturasi oksigen 95 persen.

Dalam situs The Ohio State University Medical Center disebutkan, ventilator memiliki sistem alarm yang memberi tanda kepada paramedis untuk mengubah pemberian oksigen, laju napas, tekanan, atau suhu.

Umumnya ventilator terdiri dari wadah udara yang bisa dimampatkan, air untuk memberi kelembaban udara, pasokan udara dan oksigen, satu set pipa dan katup pengatur, penyaring, serta pipa endotracheal sekali pakai.

Menurut Kepala Ruang Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Pusat Pertamina dr Herry Mardani, agar ventilator bekerja maksimal, pasien diberi obat tidur. Jadi, pernapasan pasien mengikuti ritme mesin.

Risiko

Meskipun berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup, demikian Admar, ventilator juga menimbulkan risiko. Pertama, infeksi karena ada lendir yang mengumpul di endotracheal tube dan menjadi tempat berkembang biaknya kuman penyakit. Oleh karena itu, pipa tersebut harus diganti sedikitnya seminggu sekali. Kedua, risiko paru-paru rusak jika tekanan gas terlalu kuat, sementara paru-paru dalam kondisi rapuh. Untuk mencegah hal itu, tekanan diatur sekitar 30 mmHg, maksimal 40 mmHg.

Ketika kondisi pasien mulai normal, kerja ventilator dikurangi secara bertahap sehingga meningkatkan jumlah penapasan spontan pasien.

"Jumlah oksigen dalam udara adalah 21 persen. Jika analisis gas darah pasien menunjukkan kondisi normal pada pemberian oksigen 30 persen, ventilator bisa dicabut dan pasien bisa bernapas biasa," tutur Admar.

Saat ini ventilator menjadi peralatan standar untuk ruang perawatan intensif (intensive care unit/ICU) di rumah sakit. Juga pada ruang operasi untuk pasien yang dianestesi.

Harga ventilator digital Rp 300 juta sampai Rp 450 juta sesuai dengan kecanggihannya. Produk yang umum dipakai di Indonesia berasal dari Jerman, Amerika Serikat, atau Jepang.

Apakah ventilator selalu bisa membantu pernapasan pasien? Ternyata tidak juga. Menurut Admar, jika alveoli pada paru-paru sama sekali sudah tidak bisa berfungsi, yaitu ketika kondisi pasien sudah sangat memburuk, pemompaan oksigen ke dalam paru-paru tidak ada gunanya lagi. Pada saat itulah ventilator bisa dicabut. (LKS/ATK)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X