LGBT Bukan Gangguan Jiwa atau Deviasi Seksual

Kompas.com - 12/12/2008, 13:58 WIB
Editor

JAKARTA, JUMAT- Pandangan masyarakat atas kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang dianggap mengalami gangguan jiwa atau deviasi seksual harus diluruskan. Sebab, keadaan tersebut hanya bisa disematkan jika mengalami tekanan atau penderitaan atas keberadaannya.

Demikian dikemukakan Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Aminnullah dalam diskusi bertajuk Menyimpangkah Homoseksual, Tinjauan atas Undang-Undang Pornografi, di Jakarta, Jumat (12/12).

"Kaum LGBT dikatakan mengalami gangguan jiwa atau deviasi seksual jika merasa tertekan atas keberadaannya," katanya.

Aminullah menjelaskan, tekanan yang muncul bisa berupa psikis maupun fisik. Psikis biasanya muncul karena fantasi berlebihan oleh kaum homo. Contohnya, selalu membayangkan alat kelaminnya akan mengecil dan berubah layaknya wanita.

Akhirnya, muncul penolakan terhadap dirinya sehingga menyebabkan frustasi.  Tekanan berupa fisik, juga muncul dari lingkungan atau masyarakat.

Keberadaan LGBT di tengah masyarakat saat ini selalu menjadi objek penghinaan bahkan kekerasan, karena dianggap melawan kodrat. Banyaknya kekerasan yang diterima mengkibatkan mereka pergi dan berkumpul dengan sesama. Akhirnya, komunitas LGBT terkesan ekslusif dan bertindak sembunyi-sembunyi.

"Perlu diketahui perilaku lesbi, homo dan biseks disebabkan oleh kultur dalam dirinya sehingga bersifat alamiah, jadi bukan atas paksaan orang lain," tambah Aminullah.

Sementara itu, berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDJ), disebutkan, kaum homo dan lesbi tidak dimasukkan dalam kategori gangguan jiwa dan deviasi seksual. Sebabnya, keadaan tersebut merupakan manifestasi seksualitas manusia sebagaimana halnya dengan hetero dan biseksual.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.