78 Tahun Put On: Si Malang yang Fenomenal

Kompas.com - 14/07/2009, 22:02 WIB

Oleh Donny Anggoro*

Khalayak pencinta sekaligus pemburu komik akhir-akhir ini boleh berbangga hati. Pertengahan tahun 2008 dan awal 2009 komik Put On yang merupakan komik strip pertama di Indonesia berhasil diterbitkan kembali oleh penerbit Pustaka Klasik-pewaris karya Kho Wan Gie yang notabene masih keluarga almarhum Kho Wan Gie. Tidak hanya satu jilid melainkan 2 jilid sekaligus yang masing-masing terbit di bulan November 2008 untuk jilid pertama dan bulan Februari 2009 untuk jilid kedua.

Komik karya Kho Wan Gie (kadang ditulis Kho Wang Gie-pen) ini kembali ke dunia pustaka Indonesia setelah sekian lama publik hanya mengetahui dan “mencium”  aroma komik yang digadang-gadang sebagai pelopor komik strip pertama di Indonesia ini lewat tangan kolektor, pengamat, pemerhati, dan kritikus komik Indonesia, diantaranya lewat buku Marcel Bonneff Komik Indonesia (KPG,1998-diterbitkan kembali tahun 2008) dan Hikmat Darmawan Dari Gatotkaca hingga Batman:Potensi-Potensi Naratif Komik (Orakel, 2005).

Kho Wan Gie sang pencipta Put On lahir di Indramayu, Agustus 1908 dan wafat di Jakarta pada 1983—tahun yang kebetulan sama dengan wafatnya Georges Remi alias Herge pencipta komik legendaris Tintin. Komikus sahabat pencipta lagu Indonesia Raya WR Supratman yang juga mahir bermain saksofon dan piano ini melahirkan Put On yang artinya “Si Gelisah” pada 17 Januari 1931 di harian Sin Po. Komik Put On muncul di harian tersebut setiap hari Jumat atau Sabtu. Perjalanan  komik Put On sendiri pun cukup panjang. Setelah Sin Po dibredel, Kho Wan Gie memindahkan serialnya ke majalah Pantja Warna dan Warta Bakti sampai kedua media tersebut betal-betul “diberangus” pasca peristiwa G30S.

Sebagai “media hiburan ringan”-meminjam istilah komikolog Hikmat Darmawan-komik Put On dianggap pula sebagai komik dengan potret sosial di masanya lantaran tokohnya Put On sendiri adalah gambaran tokoh yang mewakili rakyat kecil di ibu kota-mirip serial Doyok karya Keliek Siswoyo yang masih ada sampai sekarang di harian Pos Kota sejak 1980-an sampai sekarang. Bedanya Put On tidak menyentil kondisi terkini pada zamannya seperti Doyok melainkan ia muncul dengan kisah kemalangannya sebagai warga ibu kota. Ia berbicara dengan dialek Jakarta dan hidupnya sederhana. Put On ditampilkan sebagai warga negara yang sering menjadi korban dari peraturan yang simpang siur.  

Sopoiku nama lain Kho Wan Gie semasa hidupnya juga menciptakan komik lain yang tak kalah lucu dan menarik-persis Herge yang juga menciptakan tokoh lain di luar Tintin yang fenomenal (diantaranya petualangan Yo, Susi dan Yoko dan Kwik dan Flupke). Sebutlah Si Pengky di majalah Ria Film, Ria Remaja dan Varia Film, Nona A Gogo, Jali Tokcer dan Si Lemot- sebagai “anak-anak” Sopoiku lainnya selain Put On.
 
Fenomenal

Oleh penggambarnya Put On digambarkan sebagai tokoh yang selalu sial (sweesiao) seperti Si Lebai Malang dari Sumatera. “Walaupun nasibnya buruk ia selalu tampil menyenangkan,” tulis Marcel Bonneff dalam bukunya Komik Indonesia (KPG,1998). Perjalanan kesialan dan kemalangan Put On tidak sendirian. Bersama tokoh-tokoh lainnya seperti Nee, ibunya, dua adik laki-lakinya, Si Tong dan Si Peng, para sahabatnya Si A Liuk, Si On Tek dan “pacarnya” Dortji yang selalu tidak pernah sempat atau ketiban sial mendengar “deklarasi” cinta Put On, menghiasi seri ini dengan lelucon-lelucon segar. Konon hadirnya Put On sendiri di dunia komik Indonesia dari dulu sudah fenomenal setelah sekian lama pembaca Indonesia hanya terpuaskan kegemarannya pada komik terjemahan karya Clinge Doorendos (Flippie Flink) di harian De Java Boode (1938) dan tentu saja komik strip Flash Gordon yang terbit di mingguan De Orient.

Munculnya Put On dianggap fenomenal karena selain ini karya asli pertama karya komikus dalam negeri sendiri (Kho Wan Gie- yang notabene peranakan China) yang terbit di media massa yang juga dianggap besar saat itu (Sin Po). Adapun Sin Po adalah koran media komunikasi China peranakan yang berbahasa Melayu.     

Satu hal lain lagi yang juga patut disebut fenomenal selain komik Put On sendiri berumur panjang (30 tahun—satu rekor yang belum dipecahkan oleh komik Indonesia lainnya sepanjang sejarah komik Indonesia) adalah popularitas Put On sendiri yang di zaman itu memunculkan pula epigon-epigon komik humor tentang peranakan China lainnya. Sebutlah Oh Koen yang terbit di mingguan yang juga cukup besar di masanya, Star Weekly. Atau Si Tolol yang terbit di mingguan Star Magazine (1939-1942). Meski demikian, kedua epigon Put On tersebut nyatanya pada zamannya tak berhasil menyaingi popularitas Put On.

Untuk Put On jilid pertama ejaan lama Ophyusen yang menghiasi balon kata-kata dipertahankan sehingga langgam bahasa Melayu peranakan yang digunakan Put On jadi terasa di samping gambarnya yang lucu. Sedangkan untuk jilid kedua diganti ejaan baru lantaran oleh penerbitnya dapat lebih mudah dimengerti untuk pembaca generasi sekarang sehingga pembaca generasi sekarang tidak “telat ketawa” lagi menyimak kelucuan lelucon Put On.

Beberapa Masalah

Tentunya untuk menyimak kelucuan lelucon Put On, khususnya di jilid pertama untuk pembaca generasi sekarang tidak mudah jua. Bahasa Melayu peranakan yang dipakai tokoh-tokoh komik Put On walau digunakan di Jakarta dengan dialek Betawi nampaknya tak mudah dipahami pembaca sekarang.


Page:
Editor

Close Ads X