3 Langkah Mengatasi Commuting Blues

Kompas.com - 24/08/2009, 19:12 WIB
Editor

KOMPAS.com - "Ya, capek. Tapi mau bagaimana lagi? Dijalani saja," kata Susi (bukan nama sebenarnya), karyawati sebuah bank di Jakarta yang tinggal di kawasan Bogor. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan hampir 2 jam untuk sampai ke kantor. Itu pun sudah dengan bantuan kereta api listrik kelas ekspres yang mempersingkat perjalanannya (karena hanya singgah di stasiun tertentu).

Apa yang dialami Susi juga dirasakan hampir seluruh penduduk suburban (pinggiran kota) yang bekerja di pusat kota, atau istilahnya commuter, alias komuter, atau penglaju. Menghabiskan berjam-jam di waktu yang sempit, di transportasi umum yang bising, dan sering terjebak kemacetan. Hal ini membuat mereka serasa diburu waktu tanpa bisa mengendalikannya. Akibatnya, muncul stres.

Kelelahan yang dialami bukan hanya pada fisik, tetapi juga mental. Apa pun transportasi yang digunakan (motor, mobil, bis, kereta), rasa bosan dan capek yang dirasakan tetap sama. Disadari atau tidak, kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik, baik di tempat kerja atau pun di rumah. Tak jarang kita juga harus absen bekerja, hubungan juga bisa berantakan, dan yang tak kalah hebat, bisa menyebabkan penyakit serius seperti sakit punggung, tekanan darah tinggi, dan lainnya.

Kondisi inilah yang kemudian melahirkan istilah commuting blues, yakni kondisi melelahkan ketika seseorang harus melakukan perjalanan jauh untuk bekerja. Menurut para peneliti, ini merupakan salah satu penyebab stres di kalangan pekerja.

Tiga strategi
Commuting blues memang tak bisa dihindari. Namun, selalu ada cara untuk mengubahnya dan meningkatkan kualitas hidup Anda. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengurangi stres adalah dengan mengidentifikasi penyebab, dan mulai berdamai dengan penyebab tersebut. Setelah itu, terapkanlah strategi berikut.

1. Kenali batasan Anda
Ketika Anda merasa terperangkap dalam pilihan antara menjalani rutinitas sehari-hari dengan beban kerja tinggi atau hidup seimbang, rasanya sulit sekali menemukan solusi yang objektif. Untuk itu, Anda perlu meluangkan waktu khusus. Jika Anda punya satu hari luang, cobalah dengan tenang melihat kembali bagaimana gaya hidup Anda selama ini, dan hal-hal yang menurut Anda masih menantang untuk dijalani. Beberapa hal mungkin bisa Anda ubah. Namun, beberapa hal lainnya mungkin tidak. Belajarlah menerima kenyataan, dan berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa Anda ubah. Inilah salah satu kunci dalam manajemen stres.

2. Ambil kendali
Jika Anda membawa kendaraan sendiri ke kantor, coba pertimbangkan naik transportasi umum seperti bis atau kereta. Kendaraan umum mungkin memakan waktu lebih banyak. Namun, Anda bisa menggunakannya untuk tidur, membaca buku, surat kabar, memulai kerja lebih awal dengan membuat catatan atau mengasah otak dengan bermain sudoku. Jika Anda tetap harus mengendarai mobil, coba bekerja sama dengan rekan yang rumahnya searah untuk bergantian menyetir mobil.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

3. Kalahkan stres
Memang sulit menjalani rutinitas kerja tanpa stres. Namun, setidaknya kita bisa mencoba berdamai dengan stres itu. Caranya:
*Luangkan waktu Anda yang sempit untuk berolahraga, bertemu teman, atau jalan-jalan. Cara ini bisa membantu menghalau stres.
*Sesibuk apa pun usahakan tidak bekerja saat makan siang. Luangkan waktu 20-30 menit untuk makan di luar kantor dan bebaskan pikiran.
*Makan dengan benar. Daripada makan sedikit, lebih baik makan sehat untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.
*Hindari minum kopi berlebih karena takkan meredakan stres. Lebih baik sediakan air hangat.
*Yang terpenting bersikaplah realistis, ketahui batasan Anda, dan kerjakan sesuai kemampuan. Belajar mengatakan "tidak" atau meminta bantuan. Tak perlu merasa mampu melakukan semuanya.

(Erma Dwi Kusumastuti/CHIC)



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.