Dua Dunia Shanty - Kompas.com

Dua Dunia Shanty

Kompas.com - 30/08/2009, 12:50 WIB

KOMPAS.com — DUNIA Shanty Harmayn-Hofman sejak 2007 terbagi dua antara Jakarta dan Manila. Dia juga siap berpindah kota lagi bila suaminya, Country Director Bank Dunia untuk Filipina Bert Hofman, mendapat pos baru di negara yang berbeda.

Shanty menyebut suaminya yang berdarah Belanda sebagai pendukung yang memberi semangat. ”Suamiku juga senang film,” tutur Shanty.

”Dia suka ikut baca skrip filmku—yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris—lalu kasih komentar. Ya… misalnya, apa dialog seperti ini masuk akal atau kira-kira penonton akan suka atau enggak. Dia bukan hanya mendukung, tetapi juga mitra. Dia adalah pengkritik terbaikku. Jadi, hari Minggu adalah hari dia membaca skenario (film)-ku dan aku membaca laporan ekonomi dia. Barter, he-he-he….”

Shanty mengaku menikmati hidupnya yang sekarang meskipun harus membagi waktu dan aktivitas antara Jakarta dan Manila. ”Yang diperlukan kemampuan manajemen waktu yang sangat baik, disiplin dalam perencanaan dan pengerjaannya, jaga kesehatan, asisten-asisten yang hebat, dan Blackberry,” katanya.

Kalaupun ada yang berubah setelah menikah adalah dia sekarang harus siap mengadakan jamuan resmi atau menjadi nyonya rumah acara resmi karena tuntutan tugas suami. Bisa jadi hari ini Shanty masih sibuk di lokasi syuting film atau riset ke Banyumas untuk Ronggeng Dukuh Paruk, besok paginya terbang ke Manila dan begitu pukul 14.00 tiba langsung sibuk dengan persiapan jamuan resmi.

”Aku tiap hari masak sendiri. Kami enggak punya juru masak. Aku sekarang jago bikin rendang, balado daging. Suamiku suka sekali makanan Indonesia,” kata Shanty yang pertama kali belajar memasak ketika kuliah di Amerika.

Tentu saja pekerjaan memasak yang sudah menjadi kesenangan itu dilakukan berdua. Membuat balado daging, misalnya, Shanty akan menyiapkan bumbu cabai dan Bert kebagian tugas memotong daging.

Dari awalnya belajar memasak dari berbagai resep, Shanty kini terbiasa menyiapkan makanan untuk tamu dan teman mereka. ”Suamiku suka banget mengundang orang makan ke rumah. Ada sih yang bantuin motong-motong atau meras kelapa, tetapi aku sendiri yang masak. Kalau aku capai, ya gantian. Besoknya aku minta suamiku yang masak,” tambah Shanty.

Pun menjelang pulang ke Filipina dia sudah memiliki sederet bahan makanan dan bumbu yang akan dia bawa ke Manila, mulai dari daun jeruk sampai ikan tuna rica-rica.

”Suamiku kirim SMS, kerupuk udang sudah habis,” kata Shanty dengan tergelak.

Tak heran Shanty tidak bisa memenuhi permintaan teman-temannya untuk tinggal beberapa hari lagi di Jakarta. ”Aku harus pulang Sabtu lusa pagi-pagi,” kata Shanty. Dia telah menemukan keseimbangan dalam dua dunia dan menikmatinya. (NMP)

Tentang Shanty Harmayn-Hofman

• Nama: Shanty C Harmayn

• Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 29 Juli 1967

• Pendidikan: SMA Santa Theresia, Jakarta; FISIP Universitas Indonesia, 1985-1990, S1 di bidang Komunikasi Massa; Stanford University, 1992-1994, MA in Documentary Film

• Karier: Pendiri Salto Film Company (1998); pendiri Jakarta International Film Festival bersama Natacha Devillers (1999); pendiri Tanimbar Pictures (2000); pendiri In-Docs, program dan pusat promosi Film Dokumenter Indonesia (2002)

• Produksi Film: Pasir Berbisik (2001), Banyu Biru ( 2005), The Photograph (2007), Garuda di Dadaku (2009)

• Produksi lain: Seri Dokumenter Libraries on Fire: When an Elder Dies, A Book Burns; Seri Dokumenter  A Ray of Hope


Editor

Close Ads X