Perlu Perimbangan Dosen Akademisi dan Praktisi

Kompas.com - 05/09/2009, 17:05 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Suatu lembaga pendidikan tinggi perlu mengupayakan perimbangan antara dosen akademisi dan dosen praktisi untuk meningkatkan kualitas pengajaran, kata Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Prof Dr Suyatno.

"Kalau dosen akademisi memberikan ilmu bersifat teori, dosen praktisi memperkenalkan mahasiswa dengan pengalaman di dunia riil," kata Suyatno seusai pidato sambutannya di hadapan sekitar 3.000 mahasiswa baru Uhamka di Jakarta, Sabtu (5/9).

Karena itu Uhamka yang terus berupaya menjadi lembaga pendidikan tinggi yang berkualitas juga mengupayakan perimbangan tersebut, misalnya dengan mengambil praktisi perbankan sebagai dosen.

"Dengan demikian mahasiswa selain mendapat ilmu berupa teori juga mendapat ilmu yang bisa diterapkan untuk memasuki dunia kerja," ujarnya.

Suyatno mengatakan Uhamka memiliki sekitar 300 dosen, dengan 30 persen bergelar master dan 60 persen bergelar doktor. Ditambah lagi dengan dosen-dosen tamu yang diundang secara berkala untuk meningkatkan kualitas pengajaran.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah terbesar di Jakarta, ujarnya, Uhamka juga menjalin kerja sama dengan pemerintah luar negeri, seperti dengan Thailand.

"Kami memberikan kesempatan pembebasan biaya Sumbangan Penunjang Pendidikan (SPP) bagi muslim di Thailand Selatan yang berminat menjadi mahasiswa di Uhamka, sedangkan biaya hidup ditanggung pemerintah Thailand," katanya.

Dari 30 mahasiswa Thailand yang ditargetkan sudah lolos seleksi sebanyak enam orang. "Mereka bertujuan menimba pengetahuan mengenai Islam di Indonesia sekaligus mempelajari Islam Muhammadiyah," ujarnya.

Pada Penerimaan Mahasiswa Baru Uhamka tersebut diundang sebagai pembicara kunci Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Gumilar Somantri yang juga merupakan tokoh Muhammadiyah.

Gumilar berpesan kepada mahasiswa Uhamka agar bertekad menjadi agen perubahan dan pemecah masalah kebangsaan dan keumatan, karena tanpa perubahan Indonesia hanya akan menjadi negeri yang tertinggal.

Gumilar juga mengatakan pihaknya baru merasakan hasil dari reformasi pendidikan tinggi setelah dua tahun terakhir ini ketika lembaga pendidikan tinggi yang dipimpinnya, UI, berhasil masuk dalam peringkat enam di Asia Tenggara, di atas Malaysia dan Filipina.

Ia juga menawarkan semua mahasiswa dari luar UI untuk datang dan menimba ilmu di perputakaan UI yang memiliki koleksi lima juta buku, termasuk mahasiswa Uhamka.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X