Mengapa Berobat ke Luar Negeri?

Kompas.com - 26/09/2009, 10:07 WIB
Editor

KOMPAS.com - Saat ini banyak orang Indonesia, termasuk menteri, memilih berobat ke luar negeri. Pemerintah agaknya berasumsi, orang Indonesia pergi berobat ke luar negeri karena rumah sakit kita kalah dalam bangunan, kenyamanan, dan peralatan canggih. Maka, guna mengurangi minat orang berobat ke luar negeri perlu dibangun rumah sakit ”bertaraf internasional” di dalam negeri.

Kesan seperti itu tercermin dari ucapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mendorong dibangunnya rumah sakit berkelas internasional baru-baru ini. Dapat diduga, yang dimaksud dengan ”kelas internasional” adalah dalam kemegahan bangunan dan kecanggihan peralatan.

Namun, menanggapi isu ini dengan menyediakan rumah sakit megah di Jakarta atau Bogor tidak akan mengurangi orang berobat ke luar negeri. Bagi masyarakat yang tinggal di Sumatera, mereka akan tetap memilih berobat ke Malaysia atau Singapura karena jarak yang lebih dekat daripada ke Jakarta atau Surabaya.

Kabarnya di Batam sudah ada rumah sakit ”bertaraf internasional”, tetapi ternyata tak mengurangi jumlah orang Batam atau Riau berobat ke Singapura dan Malaysia karena kalah bersaing dalam pelayanan dan harga.

Biaya yang lebih murah ini juga merupakan salah satu alasan. Beberapa orang yang berobat ke Malaysia mengatakan, secara keseluruhan biaya berobat ke Malaysia lebih murah ketimbang berobat di Jakarta atau Surabaya. Pelayanannya pun lebih baik meski dalam hal kepandaian dokter Indonesia tidak kalah.

Dalam hal memilih yang murah, ini bukan hanya perilaku orang Indonesia. Dalam film Sicko diceritakan, betapa seorang sopir truk Amerika Serikat memilih dioperasi di India karena secara keseluruhan biaya jauh lebih murah daripada berobat di AS. Dengan biaya lebih murah dan pelayanan lebih baik, orang tak perlu terlalu kaya untuk dapat berobat di luar negeri. Apalagi dengan dihapuskannya biaya fiskal sekarang ini.

Alasan lain adalah teknologi. Ini bukan hanya berarti peralatan canggih, tetapi juga prosedur medis, seperti transplantasi organ. Karena hambatan hukum, agama, dan budaya, transplantasi organ di Indonesia tak bisa berkembang. Kalaupun ada, seperti transplantasi ginjal, biayanya amat mahal daripada di India atau China, atau mungkin Singapura. Alasan yang tak kalah penting adalah mutu dan keamanan pelayanan medik di Indonesia yang belum terjamin.

Mutu pelayanan

National Geographic Channel mengungkapkan alasan mengapa penerbangan Indonesia dilarang masuk Eropa. Yaitu begitu mudah Pemerintah Indonesia mengizinkan berdirinya maskapai penerbangan, tetapi lemah dalam pengawasan keamanan. Demikian pula, sebenarnya dalam hal perumahsakitan. Banyak rumah sakit diizinkan berdiri, tetapi dalam hal mutu dan keamanan pelayanan tak pernah ada yang mengawasi.

Pemerintah negara lain tentu tak bisa melarang warganya berobat di rumah sakit Indonesia, seperti yang mereka lakukan terhadap perusahaan penerbangan. Yang dilakukan adalah perusahaan asuransi yang menjamin warga asing di Indonesia lebih menganjurkan mereka berobat ke Singapura atau Australia daripada ke rumah sakit di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X