Mengapa Berobat ke Luar Negeri?

Kompas.com - 26/09/2009, 10:07 WIB
Editor

Dalam hal mutu layanan medik, ada tiga unsur yang berperanan: pemerintah yang lemah dalam pengawasan, perilaku dokter, dan perilaku pengusaha rumah sakit.

Departemen Kesehatan memang memberlakukan akreditasi rumah sakit sebagai bagian pengawasan mutu, tetapi lebih banyak tentang rumah sakit dan belum banyak menyentuh pelayanan medik. Negara lain umumnya menyerahkan pengawasan mutu pelayanan medik kepada lembaga independen, meski dibentuk oleh negara.

AS mempunyai Institute for Healthcare Improvement (IHI) yang dibentuk oleh Institute of Medicine dan melibatkan universitas serta perwakilan konsumen. Di Jerman ada GBA yang dibentuk pemerintah federal, beranggotakan antara lain dari universitas (saat ini ketua GBA dijabat pakar dari sebuah fakultas ekonomi), penyedia layanan, dan perwakilan pembayar (asuransi dan konsumen).

Di Belanda ada CBO yang dibentuk pemerintah bersama organisasi profesi dan asosiasi asuransi kesehatan. Pengawasan mutu tak hanya dilakukan terhadap kelengkapan sarana, tetapi juga aspek efisiensi dan ketepatan penanganan pasien.

Dalam aspek efisiensi, termasuk ketepatan penggunaan alat canggih, agar tidak hanya mengejar pengembalian modal. Lembaga-lembaga itu secara periodik mengadakan pertemuan evaluasi selain menerbitkan aneka panduan tentang mutu layanan.

Sikap dokter di Indonesia

Unsur kedua adalah sikap dokter di Indonesia yang belum menempatkan kepentingan pasien sebagai prioritas utama. Kemampuan berkomunikasi serta kesediaan memberi penjelasan kepada pasien atau keluarganya masih amat lemah. Juga keengganan untuk dikontrol pihak lain, termasuk teman sendiri. Bagi mereka yang pernah berobat di negara lain akan merasakan perbedaannya dengan dokter di luar negeri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dr Donald Berwick, Ketua IHI, dalam pertemuan internasional tentang mutu layanan medik di Berlin, Maret 2009, mengatakan, penafsiran tentang mutu pelayanan tidak boleh menjadi monopoli para dokter.

Unsur ketiga adalah sikap pengusaha rumah sakit di Indonesia yang cenderung berorientasi pada pengembalian modal dan keuntungan. Sikap semacam itu sering ikut mendorong terjadinya pelayanan yang tidak efisien, efektif, tepat waktu, dan aman. Hubungan dengan dokter yang bernuansa saling cinta tetapi juga saling curiga membuat sulit melakukan kajian obyektif terhadap mutu layanan di rumah sakit. Tidak ada studi tentang berapa besar medical error, rasionalitas terapi, dan kejadian menyimpang yang dapat dijadikan tonggak untuk perbaikan mutu pada tahun berikutnya.

Jika semua itu tidak dibenahi, pendirian rumah sakit megah tidak menjamin bahwa layanannya bermutu. Orang Indonesia masih akan memilih berobat ke negara lain dan orang luar tidak tertarik untuk berobat di Indonesia.

Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.