Etiket Saat Makan Sushi

Kompas.com - 05/02/2010, 13:06 WIB
EditorNF

KOMPAS.com - Beberapa tahun belakangan ini, restoran yang menyajikan sushi makin berjamur di Jakarta. Penyukanya pun tidak sedikit. Di jam-jam makan, antrean pengunjung sudah memanjang di beberapa gerai sushi terkemuka. Di Jakarta, kita bisa saja menemukan restoran sushi di mal yang kesannya cukup santai dan kita pun memakannya dengan santai. Padahal ada beberapa aturan yang seharusnya berlaku saat menyantap makanan dari negeri asalnya. Mau tahu?

Mengucapkan "Itadaki masu!"
Kalimat itadaki masu (itada ki mas) sama seperti mengucapkan, "Makanannya terlihat enak!" atau, "Selamat makan!". Jika di sekitar Anda ada orang Jepang, dan Anda mengatakan kalimat ini sebelum makan sushi, maka mereka akan sangat menghargai Anda.

Jangan menuang minuman sendiri
Biasanya, orang Jepang akan mengkonsumsi makanan Jepang sambil ditemani minuman Kirin, Asahi, atau Sapporo. Untuk hal yang satu ini, mereka sangat mengagungkan kebersamaan dan saling berbagi. Jika Anda mengambil botol minuman, pastikan Anda mengisi gelas orang-orang lain yang ada di meja, tapi jangan mengisi gelas Anda. Orang lain yang memerhatikan Anda pasti akan langsung mengambil inisiatif untuk mengisi gelas Anda.  

Pesan omakase
Seberapa besar pun pengetahuan Anda akan sushi, sang koki pasti tahu lebih banyak. Sang koki lebih tahu apa yang segar dan enak untuk disantap. Omakase adalah salah satu cara pemesanan menu makanan. Artinya, Anda menyerahkan kepada si koki untuk menu yang akan Anda santap. Tak hanya ini akan memastikan Anda mendapat bahan tersegar, Anda sekaligus membuat si koki merasa senang dan bangga. Tapi siap-siap mendapat pilihan sushi yang isinya tidak biasa, ya.

Sumpit sekali pakai
Sushi restoran yang otentik biasanya tidak akan menggunakan sumpit sekali pakai (waribashi). Namun, jika Anda berada di restoran yang menggunakan sumpit sekali pakai, maka perhatikan cara Anda menggunakannya. Biasanya, sumpit sekali pakai terbuat dari kayu putih yang saling menempel. Untuk menggunakannya, Anda harus mematahkan sumpit tersebut agar terpisah, pastikan Anda mematahkannya sambil memegangnya secara horizontal. Ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan Anda menyikut orang yang duduk di sebelah Anda. Penggunaan waribashi di Jepang biasanya digunakan di gerai yang sangat ramai, karenanyadiperlukan kesopanan untuk mematahkan waribashi agar tidak mengganggu orang di sebelah Anda.

Hormati nasi Anda
Masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi nasi. Mereka memandang nasi Jepang sebagai suatu hal yang indah. Jadi, penting untuk Anda menjaga kehormatan tersebut. Sebaiknya hindari keinginan untuk menyiram nasi dengan saus kedelai, karena bisa dianggap merusak keindahan. Jangan pula menancapkan sumpit ke dalam nasi, karena bisa dianggap pertanda buruk. Usahakan untuk tidak menyisakan nasi di mangkuk Anda. Di zaman peperangan dulu, masyarakat Jepang sempat mengalami kesusahan bahan makanan, karena itu pula mereka sangat menjunjung tinggi nasi yang kala itu hanya bisa dinikmati orang kaya. Masa sekarang ini memang sudah tidak seperti zaman itu, namun, anggap saja menghabiskan nasi hingga bulir terakhir sebagai penghormatan kepada sang koki yang berhasil menyajikan makanan lezat.

Jangan membagikan sushi dari sumpit langsung ke sumpit lain
Etiket yang satu ini juga sedikit banyak mendapat pengaruh dari ajaran Buddha dan sebagian lagi karena keterbatasan ruang. Di Jepang, mereka menggunakan budaya kremasi untuk menguburkan jasad seseorang. Setelah dibakar, para anggota keluarga inti akan memeriksa sisa pembakaran untuk memisahkan tulang yang tersisa. Sisa-sisa tulang tersebut akan diberikan kepada orang lain dengan cara dari sumpit ke sumpit sebelum disimpan. Karenanya, ketika Anda membagikan sushi dari sumpit langsung ke sumpit, akan membangkitkan kenangan tidak mengenakkan dan tidak sopan. Lain kali, jika ada yang menawarkan sushi dari sumpitnya, angkat piring kecil Anda untuk menerima sushi tersebut.  

Ucapkan "Gochi-so-sama-deshi-ta."
Mengucapkan "Gochi so sama deshi ta" sama seperti mengungkap, "Wah, enak sekali!". Ucapan ini sudah merupakan standar protokol untuk mengucapkan kata-kata tersebut usai bersantap. Jika Anda mengucapkan hal tersebut kepada koki sushi Anda, maka ia akan membungkuk sebagai rasa terima kasih kepada Anda. Jika Anda bertemu koki yang benar-benar asli dari Jepang, kemungkinan ia akan menjawab "Osamatsu deshita", yang artinya, "Maaf saya tidak bisa menyajikan makanan yang terenak," meski kemungkinan ia sudah menyajikan yang terbaik. Namun, jangan lantas kecewa jika ada koki sushi yang hanya membalas dengan senyuman.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X