Popok Kain, Bisnis Plus Investasi Kesehatan

Kompas.com - 10/02/2010, 23:08 WIB
Editordin

KOMPAS.com - Pengalaman personal sebagai pasangan muda dalam mengurus bayi menjadi titik awal membangun bisnis popok bayi. Mengetahui borosnya popok sekali pakai atau disposable diaper (Dispo), apalagi setelah kenal bahayanya, Maria Cynthia dan Christopher Ivan memilih popok kain, dan kemudian berinisiatif memperkenalkannya di pasar lokal.

Maklum, popok kain belum populer di Indonesia, dan untuk mendapatkannya di toko resmi harus menyeberang ke negeri tetangga. Harganya yang diklaim mahal pun menjadi alasan, hingga akhirnya banyak orangtua tetap bertahan dengan dispo.

Faktor kesehatan menjadi fokus utama Christopher, sehingga pilihan pun dijatuhkan kepada popok kain untuk perlengkapan bayinya. Selain juga hitung-hitungan pengeluaran yang nyatanya lebih efisien dengan popok kain.

"Awalnya kita gunakan dispo hingga tiga bulan. Setelah dihitung lagi, dalam sebulan bisa menghabiskan Rp 500.000 hanya untuk dispo. Karena dalam sehari pemakaian popok bisa sampai lima, atau jika kulit sensitif setiap dua jam popok harus diganti," papar Christopher, yang akrab disapa Chris, kepada Kompas Female.

Dengan pertimbangan ini jugalah, akhirnya pasangan muda ini mengganti dispo dengan popok kain. Meski investasi awal cukup tinggi, namun manfaatnya tak kalah berharga.

Riset menjadi langkah awal Chris, yang akhirnya memilih popok kain untuk penggunaan pribadi. Menurutnya, resiko jarak pendek penggunaan dispo adalah iritasi kulit karena uap panas yang disebabkan bahan kimia dan pemutih yang terkandung dalam dispo. Sirkulasi udara di area kelamin yang satu derajat lebih tinggi suhunya (dengan dispo) juga lama-kelamaan bisa mempengaruhi produksi sperma. Bahan pada dispo yang mirip pembalut perempuan pun bisa menjadi salah satu penyebab kanker serviks pada perempuan. Informasi ini didapatnya dari berbagai sumber, termasuk sebuah penelitian di Jerman dan penerangan dari Yayasan Kanker
Indonesia.

Kumpulan pengetahuan inilah yang kemudian memancing semangat pasangan ini untuk memulai bisnis popok kain.

"Misinya tak sekadar berjualan, namun juga menyebarkan informasi ke sebanyak mungkin orangtua," kata Christopher.

Peluang bisnis popok kain memang masih potensial di Indonesia. Belum ada distributor yang memasarkan produk impor asli Amerika di sini. Maklum, produsen popok kain yang dikenal pasar saat ini adalah Rump.a.rooz buatan Amerika. Toko ini telah memiliki 400 toko di seluruh dunia, dimana 40 di antaranya didistribusikan oleh pasangan ini di Jakarta.

Celah ini, juga didasari niatan menularkan pengalaman pribadi ke orang lain akhirnya membawa Chris dan Cynthia dalam perputaran bisnis yang semakin menghasilkan dengan bisnis online dan sistem konsinyasi di sejumlah toko bayi. Dengan membuka sistem reseller, bisnis ini berkembang pesat dalam kurun waktu kurang dari setahun.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X