Kecanduan Seks? Ah, Alasan untuk Selingkuh Saja!

Kompas.com - 20/02/2010, 18:29 WIB
EditorNF

KOMPAS.com — Dalam suatu kasus perselingkuhan yang lumayan "parah", bila sang pelaku bisa meyakinkan orang bahwa ia menderita kecanduan seks, maka pandangan terhadap dirinya bisa berubah drastis. Status pelaku bisa berbalik jadi korban. Tapi seberapa kredibilitas kelainan kecanduan seks itu? Jangan-jangan itu cuma alasan.

Memang ada alasan kuat untuk menduga bahwa orang bisa kecanduan secara fisik atau psikologis terhadap suatu zat tertentu, seperti pada narkoba. Tapi konsep bahwa seseorang bisa kecanduan pada suatu perilaku tertentu, seperti berjudi, juga diterima secara umum. Tapi kalau dipertajam lagi, apa bisa seseorang kecanduan seks?

Sejumlah pakar terapi yang menangani kasus kecanduan seks tentu membela keberadaan diagnosis itu, tapi sebagian kalangan profesional bidang kesehatan sebenarnya tidak sepenuhnya yakin. Salah satu faktanya adalah, sampai saat ini tidak ada suatu tes atau kriteria yang diakui secara universal untuk mendiagnosis adanya kecanduan seks.

"Kecanduan seks termasuk dalam diagnosis psikologi pop yang tak memiliki dukungan kuat ilmiah," tutur Scott Lilienfeld, Lektor Kepala Universitas Emory untuk bidang psikologi, yang juga merupakan salah satu penulis buku 50 Mitos Besar dalam Psikologi Populer. Alasannya adalah bahwa penjelasan untuk kecanduan seks hanya berputar-putar di tempat. Istilah kecanduan seks tidak menjelaskan perilaku itu, tapi hanyalah memberi label atau gambaran. "Waktu kita mendengar bahwa seseorang didiagnosis kecanduan seks, kita tak mendapat informasi yang baru. Kita cuma memberi label untuk apa yang sudah kita ketahui, yaitu bahwa orang itu kesulitan mengendalikan dorongan seksualnya."

Banyak pakar psikologi lainnya yang skeptis tentang kecanduan seks menyebut bahwa fenomena diagnosis itu sebagai "mempenyakitkan hal yang lazim", yaitu memberi kategori kelainan mental untuk suatu perilaku yang tak disetujui secara sosial. Akibatnya, sang penderita jadi kurang bertanggung jawab terhadap perilakunya.

Sebagai contoh perbandingan saja, Tiger Woods, yang baru saja menyampaikan permintaan maafnya secara publik atas perselingkuhannya, Jumat (19/2/2010), sebelumnya mengikuti rehabilitasi di klinik di Mississippi yang merawat berbagai kecanduan, termasuk kecanduan seks. Apakah pandangan publik bisa berubah kalau ia ternyata didiagnosis kecanduan seks? (C17-09)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X