Bisakah Kista Sembuh?

Kompas.com - 04/03/2010, 18:37 WIB
EditorNF

KOMPAS.com - Umur saya 25 tahun. Saya mempunyai masalah dengan siklus haid. Tahun lalu saya divonis memiliki kista coklat sebesar 5 cm di luar rahim, dekat indung telur. Kista itu sudah diangkat lewat operasi. Namun, beberapa bulan kemudian siklus haid saya mulai tidak teratur sama seperti saat saya terkena kista.

Saat konsultasi ke dokter, diketahui kista itu muncul lagi. Saya hampir melakukan suntikan sejenis Tapros. Namun, second opinion dokter lain, saya hanya diberi pil KB untuk mengatur hormon.

Tiga bulan mengkonsumsi obat itu, haid saya mulai teratur. Satu tahun berlalu, haid mulai tidak normal lagi. Bahkan makin parah seperti sedang mengalami pendarahan. Akhirnya, saya mengkonsumsi pil pengatur hormon lagi. Apa penyebab hal itu terjadi? Apakah saya bisa sembuh dan bisa memiliki anak jika berkeluarga nanti? - Lita, Semarang.

Dr. Dyah Irawati, SpOG, dokter spesialis dari Brawijaya Women and Children Hospital menjelaskan, bahwa salah satu jenis kista ovarium (indung telur) yang sering dijumpai adalah kista endometriosis atau disebut kista cokelat. Masalah dalam penanganan kista ini adalah tingkat kekambuhannya yang tinggi. Jadi, setelah operasi pengangkatan dilakukan, kista ini dapat tumbuh kembali selang beberapa waktu.

Kista ini memang sangat dipengaruhi hormon estrogen (hormon yang dihasilkan indung telur ovarium). Untuk menurunkan kemungkinan kambuh, diberikan obat untuk menekan hormon estrogen. Salah satunya, menggunakan zat leuprorelin acetate (terkandung dalam Tapros). Selain itu, juga digunakan obat-obatan lain seperti danazol, penghambat enzim aromatase dan pil kontrasepsi.

Hormon estrogen, selain dihasilkan ovarium, juga bisa dihasilkan dari perubahan zat androgen di jaringan lemak tubuh. Itu sebabnya, disarankan berat badan berada dalam area ideal agar kadar estrogen di jaringan lemak tidak tinggi. Zat dioksin yang terkandung dalam polusi pun diduga memengaruhi timbulnya endometriosis, meski masih perlu penelitian lebih lanjut.

Masalah lain terkait dengan endometriosis adalah infertilitas (sulit hamil). Pada pasien endometriosis biasanya terjadi perlekatan pada organ reproduksinya. Infertilitas ini dipengaruhi tingkat ringan beratnya endometriosis yang diderita. Perlu dilakukan pemeriksaan organ reproduksi, termasuk apakah saluran telur (tuba fallopii) tersumbat atau tidak. Setelah itu dapat diberikan obat-obat pemicu ovulasi.

Namun, jika endometriosis yang diderita cukup berat dengan perlekatan pada organ reproduksi yang berat juga, maka perlu dilakukan program in vitro fertilisasi (IVF) atau bayi tabung untuk dapat hamil.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X