Minum Susu Kok Mual?

Kompas.com - 08/03/2010, 10:17 WIB
EditorNF

KOMPAS.com - Hampir 95 persen bangsa Asia menderita gangguan pencernaan akibat intoleransi laktosa. Sementara ras lainnya, Kaukasia 10-15 persen, Mediterania 50 persen, dan ras kulit hitam 75 persen. Jadi, jika Anda juga mengalaminya, tak perlu bingung. Anda tak sendiri.

Intoleransi laktosa atau lactose intolerance adalah kondisi seseorang tidak mampu mencerna laktosa (bentuk gula yang berasal dari susu). Akibatnya, laktosa yang tidak tercerna menumpuk di usus besar dan terfermentasi. Terjadilah gangguan pada usus berupa nyeri perut, kram, kembung dan bergas, serta diare. Gejala-gejala ini biasanya muncul sekitar 30 menit sampai dua jam setelah mengkonsumsi produk yang mengandung laktosa.

Defisiensi Laktase
Mengapa intoleransi laktosa bisa terjadi? Penyebabnya, tak lain kurangnya atau tidak mampunya tubuh memproduksi laktase. Ini adalah salah satu enzim pencernaan yang diproduksi sel-sel di usus kecil untuk memecah gula susu menjadi bentuk yang lebih mudah diserap tubuh. Kondisi ini disebut juga defisiensi laktase.

Sebenarnya, dalam kondisi normal, enzim laktase akan segera bekerja memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa ketika laktosa mencapai sistem pencernaan. Oleh hati, galaktosa akan diubah menjadi glukosa yang meningkatkan kadar gula dalam darah. Itu sebabnya, jika setelah minum susu, kadar gula darah tidak meningkat, bisa didiagnosa adanya intoleransi laktosa.

Berefek Mal Nutrisi
Sayang, gejala berupa nyeri perut, kram, kembung, dan bergas, serta diare, kadang disalahartikan sebagai gangguan saluran pencernaan biasa. Alhasil, tak ada penanganan khusus untuk masalah ini.

Memang, tingkat keparahan gejala-gejala tersebut bergantung pada seberapa banyak laktosa yang dapat ditoleransi oleh tubuh setiap penderita. Sebenarnya gejala intoleransi laktosa ini mirip dengan reaksi alergi susu. Bedanya, pada kasus alergi, gejala akan timbul lebih cepat. Bahkan kadang hanya dalam hitungan menit.

Satu hal lagi yang menarik, kasus ini sebenarnya cenderung terjadi pada anak-anak yang terlahir tanpa kemampuan memproduksi enzim laktase. Namun, kondisi ini biasanya membaik secara alami seiring waktu ketika tubuh mulai "belajar" memproduksi laktase sedikit demi sedikit. Tak heran, pada usia dewasa, gejala-gejala intoleransi laktosa bisa berangsur-angsur hilang. Namun, ada juga yang hingga dewasa gejala ini masih menetap.

Do's and Don'ts
Meski intoleransi laktosa tidak terlalu berbahaya bagi kesehatan, kondisi ini bisa cukup mengganggu. Jika penderita defisiensi laktase tidak menghindari produk yang mengandung laktosa dan membiarkan gejala terus berlangsung, lama-lama akan kehilangan berat badan dan menderita malnutrisi.

Itu sebabnya, belajarlah memilih makanan atau minuman apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Kurangi atau hindari konsumsi produk yang mengandung laktosa jika intoleransi cukup parah. Jika tidak sanggup hidup tanpa susu, Anda bisa mengkonsumsi suplemen berisi enzim laktase tiap kali mengkonsumsi produk-produk berisiko. Namun, hal ini hanya bisa dilakukan dengan pengawasan dokter.

Lalu, bagaimana untuk Anda yang berisiko osteoporosis dan wajib mengkonsumsi kalsium? Anda memang terpaksa menghindari produk yang mengandung susu. Untuk kebutuhan kalsium, dapat Anda penuhi dari sayuran hijau, ikan, dan produk kaya kalsium yang bebas laktosa. Jadi, berhati-hatilah dalam memilih pola makan. Jika perlu, mintalah rekomendasi suplemen dari dokter untuk mengurangi gejala-gejala intoleransi laktosa, sekaligus memberikan perlindungan terhadap kesehatan Anda.

(Erma D.K./Majalah Chic)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X