Jantung Sehat dengan Minyak Bekatul

Kompas.com - 01/06/2010, 12:51 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Bila ada satu jenis minyak yang selain berfungsi menggoreng makanan tapi juga membantu mencegah penyakit jantung, menurunkan kolesterol dan membuat makanan terasa lebih lezat, apakah Anda tertarik? Berbagai fungsi itu bisa kita temukan dalam minyak bekatul (rice bran oil).

Mendengar nama bekatul, sebenarnya bukan nama yang asing lagi di telinga. Apalagi berbagai penelitian menunjukkan bekatul memiliki komponen gizi yang sangat dibutuhkan manusia.

Definisi bekatul (rice bran) menurut Badan Pangan Dunia (FAO) adalah lapisan sebelah dalam butiran beras (kulit ari) dan sebagian kecil endosperma berpati. Dalam proses penggilingan padi di Indonesia, dedak dihasilkan pada proses penyosohan pertama, bekatul pada proses penyosohan kedua.

Bekatul yang selama ini sudah bisa dibuat menjadi tepung untuk diolah menjadi berbagai panganan enak, ternyata juga bisa dibuat minyak goreng. Minyak yang diperoleh dari bekatul dapat digunakan sebagai salah satu minyak makan yang terbaik di antara minyak yang ada.

Keunggulan dari minyak bekatul adalah menurunkan kolesterol karena memiliki komposisi rendah lemak jenuh. Kandungan lemak jenuh pada minyak bekatul sekitar 20 persen, melebihi lemak zaitun. Sementara itu lemak tak jenuh tunggal dalam minyak bekatul sekitar 47 persen dan 33 persen lemak tak jenuh ganda.

Dari tilikan jenis dan sifat asam lemak yang ada, maka minyak yang baik bagi kesehatan adalah minyak yang dipakai untuk minyak sayur atau menumis. Apabila ingin menggoreng dengan suhu tinggi sebaiknya pilih minyak nabati.

Jika pada proses penggorengan terbentuk asap, berarti minyak tersebut mengalami dekomposisi, sehingga mengakibatkan bau dan rasa yang tidak enak. Minyak goreng yang mengandung sejumlah besar asam lemak berantai pendek akan mudah membentuk busa. Minyak seperti ini tidak baik digunakan untuk menggoreng bahan makanan yang berkadar air tinggi.

Minyak bekatul memiliki titik asap paling tinggi, yakni 254 derajat celcius, yang menjadikannya aman pada suhu penggorengan yang berada di kisaran 177-221 derajat celcius. Menurut ketentuan, minyak goreng yang baik harus memiliki titik asap tidak kurang dari 215 derajat celcius.

Menurut Prof.Made Astawan, dalam buku Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan, mutu minyak goreng ditentukan oleh titik asapnya, yaitu suhu pemanasan minyak sampai terbentuk akrolein. Makin tinggi titik asap, makin baik mutu minyak goreng tersebut.

Minyak yang telah digunakan untuk menggoreng titik asapnya akan menurun karena terjadi hidrolisis molekul minyak. Menggoreng pada suhu di atas titik asap minyak akan mengubah asam lemak tak jenuh dalam minyak menjadi asam lemak jenuh. Risiko peningkatan kolesterol pun terjadi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X