Tak Lagi Bingung Mengolah Kain Tradisional

Kompas.com - 11/06/2010, 12:12 WIB
EditorNF

KOMPAS.com - Kain-kain tradisional Indonesia memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Kita, warga Indonesia pasti merasa bangga memilikinya. Buktinya, tumpukan kain-kain tradisional di dalam lemari kita pasti sudah ada banyak. Tapi, jika Anda ingat-ingat kembali, apakah kain-kain, yang tak jarang pula dibeli dengan harga tak murah tersebut sering Anda fungsikan? Biasanya, kain-kain tradisional dikenakan pada acara-acara tertentu, seperti pernikahan atau acara adat lainnya. Padahal, jika Anda mau dan tahu, kain tradisional pun bisa dikenakan sehari-hari, lho. Stephanus Hamy dan Debbie Suryawan membuktikannya.

Stephanus Hamy, merupakan perancang kenamaan Indonesia yang telah berkarya lebih dari 20 tahun. Di matanya, wastra (kain) Indonesia memiliki keindahan tersendiri. Sementara Debbie Suryawan, mantan deputy chief editor majalah wanita dewasa Indonesia ini menilai wastra Indonesia memiliki "warna" tersendiri, sehingga memacu semangatnya untuk mencipta sebuah panduang berbusana dengan wastra-wastra Indonesia. Keduanya sepakat untuk membuat buku-buku yang isinya merupakan panduan mengolah wastra Indonesia dengan busana harian agar bisa dikenakan untuk beragam event, bahkan harian saat kerja.

Bertempat di Pasaraya Blok M, Debbie Suryawan dan Stephanus Hamy meluncurkan 3 edisi perdana buku mereka yang bertajuk Chic Mengolah Wastra Indonesia seri Tenun NTT, Wastra Bali, dan Batik Jawa Barat. Dalam buku-buku ini, Debbie dan Stephanus Hamy menyadari, bahwa kain-kain yang biasa kita miliki dan simpan di lemari, umumnya didapatkan dengan susah payah, dengan harga yang tak murah pula. Bahkan, ada yang disimpan dan tidak dikenakan karena motifnya yang jarang, dan merasa sayang jika dipotong. Dalam buku-buku ini, Anda juga akan menemukan cara memadankan yang tak perlu repot memotongnya.

Tiap kain memiliki motif dan "karakter" yang berbeda. Sehingga, diperlukan gaya yang berbeda pula. Wastra Batik Jawa Barat, misalnya, yang memiliki kesan ringan, penuh warna, dan atraktif. Karena itu, Debbie dan Stephanus Hamy memadankan busananya dengan cara untuk keseharian dan untuk pesta koktil. Atau tenun NTT yang memiliki motif cenderung gelap, sehingga cocok jika diolah menjadi pakaian resmi ke kantor atau lainnya. Sementara kain-kain Bali dengan warna-warnanya yang "ramai" dan beragam akan cantik ketika diolah menjadi busana malam yang menggoda atau sebagai bahan busana kerja.

Dalam acara yang sama, Samuel Mulia, pengamat mode dan penulis ini mengatakan, bahwa dari buku-buku semacam ini, akan membawa value (nilai) dari kain-kain tradisional naik. "Ini merupakan proses penghargaan terhadap wastra Indonesia. Bahkan mengajak para pekerja kain bisa lebih kreatif dan tidak mengeluarkan desain yang sama terus menerus. Apalagi, buku ini tidak cuma tentang batik, tapi ada juga wastra lain. Kita perlu melihat dan mencoba wastra lain," terang Samuel Mulia. Ketiga buku ini sudah dipasarkan di toko-toko buku terkemuka dengan harga Rp 58.000. Menurut Stephanus Hamy, akan ada 2 buku lagi yang menyusul, 2 tentang batik, dan satu lagi Sulam Sumatera.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X