Respons Agama untuk Menghapus KDRT

Kompas.com - 01/07/2010, 15:33 WIB
Editordin

KOMPAS.com - Penghapusan kekerasan terhadap perempuan, baik di ranah domestik (KDRT), buruh migran (TKW), maupun korban daerah konflik (Aceh, misalnya), membutuhkan rekomendasi dari tafsir agama. Bahwa agama manapun mengusung keadilan terhadap manusia, lelaki maupun perempuan, dan menguatkan dukungan kepada perempuan korban kekerasan.

Pesan inilah yang disampaikan melalui buku Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan (Respons NU). Buku terbitan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) ini resmi diluncurkan Komnas Perempuan dan NU di Hotel Sahid, Rabu (30/6/2010) lalu.

Sebelumnya, respons agama terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan disampaikan melalui buku serupa oleh organisasi keagamaan Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja Indonesia (Katolik), dan Persatuan Gereja-Gereja Se-Indonesia (Protestan). Telaah mendalam, kajian, dokumentasi, dan penyusunan empat buku respons agama ini bekerjasama dengan Komnas Perempuan.

Dr Nur Rofiah, Bil Uzm, penulis, mengatakan buku (Respons NU) merupakan versi keempat setelah tiga buku sebelumnya diluncurkan 22 April 2009. Keempat buku ini membawa misi yang sama, bahwa agama membawa keadilan tanpa membedakan perempuan dan lelaki. Sekaligus menjawab masalah bahwa semua agama punya tren yang sama mengenai kekerasan terhadap perempuan. Bahwa kekerasan atas nama agama terjadi di semua agama, modelnya sama, dan menggunakan ayat suci, jelas Rofiah.

"Agama seperti disorientasi dalam konteks kekerasan terhadap perempuan. Bentuk penerapan  syariat dan tradisi berbalut agama bertentangan dengan misi keadilan dari setiap agama," tambah Rofiah, saat membedah buku Respons NU yang dihadiri para perempuan penggiat kemanusiaan, para komisioner Komnas Perempuan, dan Fathayat NU.

Neng Dara Affiah, Komisioner Komnas Perempuan, menjelaskan hadirnya buku ini bertujuan memberikan rujukan penting bagaimana agama bicara tentang kekerasan terhadap perempuan. Melalui buku seperti ini, diharapkan rekomendasi agama seperti fatwa atau lainnya, bisa meminimalisasi kekerasan terhadap perempuan.

"Agama dan budaya jangan lagi memperkuat kekerasan terhadap perempuan semakin langgeng. Padahal banyak perspektif keagamaan (agama manapun) yang lebih adil terhadap perempuan. Hanya saja perspektif seperti ini belum mainstream, belum meluas," papar Neng Dara kepada sejumlah media.

Neng Dara menambahkan, akses pengetahuan perlu lebih dibuka mengenai perspektif agama yang lebih adil untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Yang terpenting adalah mengubah cara berpikir menjadi lebih adil, katanya lagi.

Ketiga buku pendahulunya sudah membuktikan, adanya dampak positif dari pengaruh rekomendasi agama untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini diawali dengan lahirnya kebijakan keagamaan yang berpihak pada keadilan terhadap perempuan, yang kebanyakan menjadi korban kekerasan.

"Kalangan Protestan, begitupun Katolik, melahirkan kebijakan keagamaan dengan perspektif antikekerasan terhadap perempuan. Konkretnya mereka mengecek langsung kasus KDRT atau bahkan kekerasan terhadap perempuan di daerah konflik, setelah lahirnya buku ini," jelas Neng Dara.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X