Manfaat Kain Tradisional

Kompas.com - 05/07/2010, 04:47 WIB
Editor

Menurut Miles, yang belajar desain tekstil di University of Brighton, Inggris, berhubungan dengan dunia lebih luas tidak berarti mengubah kain tradisional menjadi barang komersial, terutama kain adat. Kain tersebut tetap dipertahankan, tetapi para perajin juga berhak memiliki pilihan untuk membuat kain yang dapat diterima masyarakat lebih luas. Artinya, warna dan jenis benangnya harus disesuaikan. ”Saya tak melihat masalah dalam corak, tetapi warna harus lebih lembut bila ditujukan untuk pasar Eropa dan benangnya tidak kaku dan tebal,” kata Miles di butik Oscar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dua pekan lalu.

Miles, yang kain hasil desainnya digunakan Burberry, Carolina Hererra, Isaac Mizrahi, Vera Wang, Basso & Brooke, Hussein Chalayan, dan digunakan oleh Thakoon untuk gaun Michelle Obama yang dipakai saat bertemu Carla Burni Sarkozy, sangat berhati-hati mempertimbangkan proyek bersama penenun NTT. ”Terutama karena komunitas penenun (di Keva) adalah 400-an janda, jadi saya tidak ingin proyek ini sesuatu yang hanya satu kali selesai. Harus berkelanjutan,” kata Miles.

Di sisi lain, mode di Barat, terutama warna, berubah tiap enam bulan sekali karena perubahan dari musim semi-panas ke musim gugur-dingin. Konsekuensinya, kain tenun itu akan lebih cocok untuk produk interior atau aksesori.

Dayak

Menenun dengan alat tenun bukan mesin atau alat tenun yang lebih sederhana lagi, yaitu tenun gendong, masih dipraktikkan di banyak tempat di Indonesia. Salah satunya oleh suku Dayak di Kalimantan. Dalam pameran seni tradisi suku Dayak dari Kalimantan Barat di Bentara Budaya Jakarta dua pekan lalu, sebagian kecil kain tenun itu dipamerkan bersama anyaman manik-manik.

Kain-kain itu umumnya memiliki corak pakis dan enggang yang dimiliki Dayak Iban, sementara di seluruh Kalimantan terdapat sekitar 400 subsuku Dayak. Masing-masing memiliki variasi corak sendiri meskipun tetap ada kesamaan dasar.

”Ciri kehidupan suku Iban adalah kepercayaan adanya alam bawah berupa tumbuhan, alam tengah berupa manusia, dan alam atas, yaitu roh dan dewa. Burung juga mewakili alam atas,” kata Thomas Ariston dari Komisi Penyiaran Indonesia Provinsi Kalimantan Barat yang mengamati seni suku Iban.

Menurut pendeta Edmund C Nantes OP dan pendeta Johannes Robini M OP dari Rumah Santo Dominikus yang ikut memprakarsai kegiatan ini, banyak corak lengkung pada karya seni suku Daya karena lengkung bersifat organis, seperti tubuh manusia, tubuh kehidupan. Clara Niken membuat kain bercorak tradisional itu ke dalam gaun malam dan kemeja laki-laki, memberi semakin banyak pilihan baju corak Indonesia.

Sayangnya tak tersedia dokumentasi tertulis cukup lengkap mengenai ragam hias dan makna kain suku Dayak. Menurut Niken, perpustakaan di Pontianak yang menyimpan naskah kain adat suku Dayak terbakar.

Sayangnya pula, terjadi salah kaprah meluas. Di tempat sama dipamerkan pula kain bermotif kain ikat tradisional yang berulang kali disebut batik, tetapi sebetulnya bukan dibuat dengan teknik rintang warna menggunakan lilin. Motif tersebut di-print, bahkan terlihat dari mereknya dibuat di Malaysia. ”Mungkin karena di Pontianak tidak ada industri tekstil dan membuatkan ke Jakarta ongkosnya lebih mahal,” kata Ariston.

Karena itu, tidak berlebihan apa yang disebutkan oleh Laura Miles, kelebihan kain tradisional terletak pada kekuatan pengerjaan memakai tangan. Karena itu, agar dapat dihargai, karya sebaiknya tak dapat ditiru oleh mesin.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X