Katakan "Tidak" untuk Pemberian Tip

Kompas.com - 07/10/2010, 15:04 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Negara mana yang paling populer dalam menetapkan pemberian tip dalam industri jasanya? Anda pasti akan menjawab: Amerika. 

Amerika merupakan satu dari negara-negara industri terakhir di dunia yang masih mengharuskan konsumen memberikan tip untuk waiter-nya. Padahal, banyak negara lain di dunia ini yang sudah meninggalkan aturan ini. Kolumnis tamu untuk majalah Gourmet Live, Foster Kamer, membeberkan beberapa teori mengapa konsep ngetip tak selayaknya digunakan lagi.

1. Ngetip itu serba tidak adil
Ada sebuah penelitian yang membuktikan, pelayan yang lebih cantik atau lebih tampan, mendapat tip lebih besar. Itu saja sudah tidak adil. Kemudian, waiter yang tidak selalu bekerja lebih keras tetapi menyajikan hidangan yang lebih mahal juga dihargai lebih besar. Bahkan aturan "tip pool", dimana tip dari semua pengunjung dikumpulkan untuk dibagikan ke semua waiter, seringkali juga tidak adil.

Lebih dari itu, menurut Kamer, tip itu telah membangun suatu sistem dimana waiter hanya dibayar dengan upah rendah, dan konsumen lah yang diharapkan bisa menambah upah mereka dengan memberi tip. Dalam hal ini, pemberian tip dianggap tidak adil bagi konsumen, apalagi jika pelayanan industri jasa tersebut tidak cukup baik.

2. Ngetip menghilangkan iuran wajib pajak
Tip yang diperoleh dari industri jasa diperkirakan mencapai 26 milyar dollar AS pada tahun 2008. Andaikan saja satu dari setiap 20 waiter tidak melaporkan tip yang mereka peroleh pada tahun tersebut, artinya 1,6 milyar dollar AS dalam pajak pendapatan akan lenyap di tangan mereka.

3. Untuk apa kita ngetip?
Memberi tip itu sudah ketinggalan zaman. Eropa saja sudah mengadopsi sistem dimana biaya servis standar sudah ditambahkan ke semua bon pembayaran. Negara-negara di Eropa memiliki restoran-restoran yang paling mewah dan dihormati di dunia, yang sebelumnya dikenal dengan reputasinya sebagai penarik biaya layanan tambahan. Kini aturan umum service charge adalah 12,5 persen dari total bon tagihan makanan (umum terjadi di Italia dan Finlandia), sedangkan restoran-restoran di Perancis dan Jerman jumlahnya 10 persen. Angka ini lebih memudahkan cara menghitungnya, dan Anda pun tak perlu lagi memberi tip di luar itu.

4. Thomas Keller: Katakan "tidak" untuk tip!
Peraih penghargaan Best Chef in America (1997) ini, sudah tidak lagi menetapkan service charge untuk tip di restoran berkelas The French Laundry miliknya di Napa Valley dan New York, sejak 2005. Jika seorang trendsetter seperti Keller saja sudah meninggalkan aturan ngetip, seharusnya semua restoran di Amerika juga mengadaptasi aturan baru ini.

Di Indonesia sendiri, tip bukan budaya lokal tetapi merupakan pengaruh internasional. Jadi, bila dunia internasional sudah meninggalkan budaya ini, dan di dalam bon pembayaran di restoran yang Anda kunjungi di sini sudah ada service charge, seharusnya tip tambahan tidak diperlukan lagi.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X