Diabetes, Tak Hanya Soal Kadar Gula

Kompas.com - 24/11/2010, 06:31 WIB
EditorLusia Kus Anna

Tunggul (36), warga Graha Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, sempat dibuat frustrasi oleh diabetes. Laki-laki muda yang selalu merasa fit itu mendadak kerap diserang rasa letih luar biasa. ”Rasanya lemas seperti mau ambruk. Biasanya pada sore hari. Saya bingung dengan perubahan pada badan saya,” ujarnya mengingat kejadian enam tahun lalu.

Saat konsultasi, pertanyaan pertama dokter kepada dirinya adalah apakah ada anggota keluarganya yang menderita diabetes. Tunggul segera ingat akan penyakit yang membuat ibunya harus cuci darah sekitar dua tahun sebelum sang ibu meninggal. Setelah gejala tak kunjung membaik dan dia melakukan beberapa pemeriksaan, Tunggul didiagnosis diabetes.

”Hal paling berat dari penyakit ini adalah pengaruhnya terhadap kondisi fisik dan pikiran. Dokter menyarankan minum obat secara teratur. Belum lagi komplikasi yang ditimbulkan,” kata Tunggul. Belakangan, hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan komplikasi pada jantung Tunggul.

Dia mengatakan, dengan informasi yang cukup, menjaga pola makan, dan aktivitas fisik teratur, dia optimistis dapat mengontrol dan hidup berdampingan dengan diabetes seumur hidupnya.

Tunggul hanya satu dari orang-orang yang bergelut dengan diabetes. Di Indonesia, gambaran kasus diabetes tak terlalu menggembirakan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan kenaikan pengidap diabetes melitus (DM) tipe 2 sebanyak 8,4 juta orang pada tahun 2000 menjadi 21,3 juta pada tahun 2010. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (2007), diabetes melitus menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian pada kelompok usia 45 tahun-54 tahun di perkotaan. Adapun di pedesaan, diabetes melitus menduduki peringkat keenam dengan jumlah proporsi kematian sebesar 5,8 persen.

Ketua Panitia The 19th Jakarta Diabetes Meeting (JDM), Dr dr Dante Saksono Harbuwono, SpPD, mengatakan, dalam temu pers terkait kegiatan JDM beberapa waktu lalu, diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik berupa ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin atau insulin dapat diproduksi, tetapi penggunaannya tidak efektif.

Insulin berperan besar dalam tubuh. Karbohidrat yang diperoleh dari asupan makanan dipecah menjadi gula dan masuk aliran darah dalam bentuk glukosa (senyawa siap pakai untuk menghasilkan energi).

Tingginya kadar glukosa setelah makan akan direspons kelenjar pankreas dengan memproduksi hormon insulin. Dengan bantuan insulin, glukosa masuk ke dalam sel. Dengan pertolongan insulin, kelebihan glukosa akan disimpan di dalam hati dalam bentuk glikogen. Saat lemas, kadar glukosa darah turun, glikogen dipecah menjadi glukosa guna memenuhi kebutuhan energi.

Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu penyebab resistensi insulin. Simpanan adipose (jaringan lemak) yang tinggi mengaktifkan rangkaian aktivitas tubuh yang memicu resistensi insulin. Pada orang obesitas juga terjadi peningkatan kadar glukosa darah yang menstimulasi sekresi insulin ekstra (hiperinsulinemia) dan berbalik menurunkan reseptor insulin.

Belakangan, para peneliti dari Universitas Kanazawa, Jepang, mengidentifikasi hormon yang diproduksi oleh hati yang diduga menjadi penyebab resistensi insulin. Mereka menemukan gen ”selenoprotein P” (SEPP1) yang lebih tinggi pada hati pada orang dengan diabetes tipe dua.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X