Hidup Terasa Pahit akibat Kencing Manis - Kompas.com

Hidup Terasa Pahit akibat Kencing Manis

Kompas.com - 25/01/2011, 15:02 WIB

KOMPAS.com — Sudah sepekan terakhir ini Dewi Marlina kerap mengunjungi sebuah rumah sakit di Jakarta. Dalam sesi konsultasinya dengan dokter, Dewi mengeluhkan gatal-gatal di sekitar kemaluannya beberapa bulan terakhir. Ia pun mengaku kerap mengalami keputihan.

Selain itu, berat badannya terus menurun hanya dalam satu bulan. Padahal, nafsu makan perempuan berusia 60 tahun itu tidak berkurang, bahkan terus meningkat.

Setelah berkonsultasi, sang dokter menyarankan agar Dewi melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Dari hasil pemeriksaan laboratorium itulah diketahui bahwa kadar gula darah Dewi sangat tinggi, yakni mencapai 425 miligram per desiliter. Seketika Dewi divonis dokter mengidap penyakit diabetes mellitus tipe 2.

Dalam bahasa kedokteran, penyakit diabetes mellitus tipe 2 dikenal dengan istilah kencing manis. Penyakit ini dipicu oleh peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat kekurangan hormon insulin absolut ataupun relatif. Akibatnya, tubuh tidak bisa mengolah glukosa dari makanan. Gula yang tidak terpakai ini lalu menumpuk di dalam aliran darah dan air seni sehingga disebut kencing manis.

Lazimnya seseorang disebut mengidap penyakit diabetes jika kadar gula darahnya di masa berpuasa di atas 126 miligram per desiliter. Adapun pada masa normal atau setelah mengonsumsi asupan makanan, kadar gula darahnya di atas 200 miligram per desiliter. Normalnya kadar gula dalam darah hanya antara 70 miligram per desiliter dan 150 miligram per desiliter.

Nah, bersamaan pertambahan umur, tubuh seseorang juga bisa menjadi intoleransi terhadap glukosa. Karena itu, penyakit diabetes mellitus biasanya menyerang kaum lanjut usia (lansia).

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan, persentase penderita penyakit diabetes mellitus pada kelompok umur di atas 15 tahun hanya berkisar 1,2-2,3 persen. Selebihnya diidap oleh pasien lansia.

Mulyadi Tedjapranata, Direktur Klinik Medizone, di Jakarta, mengatakan, berdasarkan penelitian Dr Augusta Arifin, tingkat prevalensi penderita diabetes mellitus tipe 2 adalah 1,5-2,3 persen. Kecuali, di Provinsi Sulawesi Utara, tingkat prevalensinya tercatat cukup tinggi, yakni 6 persen.

Sementara di Depok, Jawa Barat, tingkat prevalensi diabetes mellitus tipe 2 mencapai 12,8 persen. Prevalensi merupakan jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada waktu tertentu di suatu wilayah.

Hasil penelitian itu mengindikasikan, penyakit diabetes mellitus bukan hanya dipicu faktor genetika atau keturunan, melainkan juga pola hidup yang buruk dari para penderitanya di usia produktif. Pada penderita lansia, penyakit ini bisa muncul karena penyakit penyerta, pemakaian obat-obatan rutin yang memengaruhi tingkat toleransi glukosa, dan berkurangnya sekresi insulin.

Bahayanya, pada penderita diabetes mellitus berusia lanjut biasanya akan terjadi komplikasi penyakit lain, misalnya kolesterol, hipertensi, kebutaan, dan jantung koroner, hingga kematian "Ini alasan kita harus menjaga kadar gula di batas normal," kata Mulyadi.

Asal Anda tahu, pada penderita diabetes berusia lanjut dengan intoleransi glukosa, mengonsumsi obat-obatan penurun kadar gula darah tidak akan efektif. Itu sebabnya, para penderita diabetes usia uzur ini bakal bergantung pada asupan insulin secara kontinu untuk mengendalikan kadar gula dalam darahnya.

"Padahal, (penderita) diabetes tipe ini seharusnya tidak tergantung pada insulin," ungkap Suhanto, Kepala Bidang Pelayanan Medis Rumah Sakit Mediros, Jakarta. (Raymond Reynaldi)


EditorAsep Candra
Close Ads X