Kematian Mendadak Bukan Salah Olahraganya - Kompas.com

Kematian Mendadak Bukan Salah Olahraganya

Kompas.com - 05/02/2011, 13:54 WIB

Kompas.com — Kematian mendadak beberapa pesohor setelah melakukan olahraga menimbulkan kesan kegiatan olahraga berbahaya bagi jantung. Padahal, yang salah bukan olahraganya, tetapi faktor ketidaksiapan si korban.

"Serangan jantung yang berakibat pada kematian mendadak bisa terjadi pada semua cabang olahraga, bukan cuma futsal. Ini karena semua olahraga bisa mengandung bahaya jika pelakunya tidak siap secara fisik dan mental," papar dr.Michael Triangto, Sp.KO, dari klinik Slim n Health Jakarta ini dalam perbincangan dengan Kompas.com, Sabtu (5/2/2011).

Ia menjelaskan, persiapan fisik dan mental yang perlu dimiliki meliputi latihan teratur dan berkesinambungan sehingga jantung menjadi lebih kuat dan dalam jangka panjang menjadi lebih baik.

"Coba diperhatikan, kebanyakan yang jadi korban dari olahraga adalah awam yang punya kesibukan tinggi, tidak pernah memeriksakan kesehatannya, tetapi memaksakan diri untuk aktivitas yang dinyatakan sehat itu sehingga melampui batas," katanya.

Adjie Massaid, aktor dan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, meninggal mendadak Sabtu (5/2/2011) dini hari. Pulang main futsal, ia tersungkur di pintu rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (4/2/2011) malam.

Ia dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati. Nyawanya tak tertolong. Ia meninggal Sabtu pada pukul 01.40. Adjie diduga terkena serangan jantung. Beberapa tahun lalu, seniman Betawi Benyamin S dan pelawak Basuki juga meninggal saat setelah bermain bola.

Michael mengatakan, sebelum melakukan olahraga sebaiknya kita mengetahui kondisi fisik dan mental. "Perhatikan apakah kita selama ini sudah rutin olahraga atau tidak, apa pola makan kita sehat serta hasil pemeriksaan kesehatan kita terakhir seperti apa," tanyanya.

Olahraga yang dilakukan di malam hari, seperti banyak dilakukan masyarakat perkotaan yang sibuk, menurut dr.Michael, juga menimbulkan risiko tersendiri. "Bisa saja pada siang hari kita sudah melakukan aktivitas yang padat sehingga tubuh sebenarnya lelah, tetapi dipaksakan," kata anggota tim kedokteran di pelatnas PBSI ini.

Untuk orang yang sudah berusia 40 tahun, disarankan untuk melakukan check up secara teratur setiap 6 bulan sekali. "Benda-benda saja yang sudah berusia 40 tahun akan mulai rusak, apalagi jantung dan pembuluh darah kita," cetusnya.

Di usia 40 tahun, pada umumnya seseorang masih merasa muda dan memiliki semangat tinggi, tetapi sebenarnya kondisi kesehatannya tidak sekuat sebelumnya. "Di usia ini seseorang juga sedang berada di puncak karier sehingga lupa memeriksakan kesehatannya," katanya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorHeru Margianto

    Close Ads X