Bersiap Merangkul Generasi Elektronik

Kompas.com - 16/02/2011, 07:55 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Setiap generasi pastinya memiliki kekhasannya sendiri. Kita tidak bisa menutup mata bahwa perbedaan ini tak jarang menjadi sumber ketegangan. “Saya kapok mempekerjakan ‘fresh-graduate’. Saya lebih suka bila mereka belajar dulu di tempat lain barang setahun, agar mengetahui tata karma bekerja. Mereka perlu mendapat ‘coaching’ superketat dari atasannya. Jujur saja, saya tidak sanggup melakukannya,” demikian ungkap seorang manajer terhadap para “milenial” yang sebenarnya terkenal kreatif dan “tech-savvy”. Ada manajer lain yang mengeluh,”Universitas sekarang tampaknya tidak membuat para lulusannya menjadi pribadi yang matang. Seingat saya, saya lebih matang saat berusia 20 tahun.”

Kesenjangan generasi memang sangat biasa terjadi. Gaya komunikasi, pola asuh, dan kemajuan teknologi sudah jauh berbeda dari tahun ke tahun. Kita mengenal generasi yang baru dengan sebutan macam-macam: Generation Next, Net Generation, atau Echo Boomers. Generasi ini, seperti generasi Beatles alias Flower generation pada masanya, banyak diberi komentar negatif  oleh generasi sebelumnya.

Ada yang menyebutkan generasi sekarang lebih tidak bertanggung jawab, tidak bisa "ditembus" dalam komunikasi, dan tidak "komit" dalam menghadapi pekerjaan. Benarkah itu? Bukankah di sisi lain kita melihat di era sekarang, teman-teman yang masih berusia di bawah 30 tahun bisa masuk dalam jajaran 100 orang terkaya di dunia? Banyak dari mereka juga terbukti lebih mandiri dalam bekerja dan menghasilkan karya-karya kreatif. Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa para “Gen Y” ini sejak lahir sudah melek teknologi, sehingga mereka lebih mendominasi penyebaran informasi dengan media baru.

Bila di era The beatles generasi muda populasinya 11-12 persen dari seluruh penduduk dunia, maka sensus terakhir menunjukkan bahwa mereka sekarang mengambil 24 persen dari populasi dunia. Kita pun pasti menyadari bahwa dalam kurun waktu tidak lebih dari satu dekade, mau tidak mau, kepemimpinan perusahaan akan dialihkan pada generasi ini. Masihkah kita menghindar dari kebutuhan untuk lebih memahami dan bekerjasama dengan generasi muda ini? Apalagi kita semakin menyadari bahwa saluran komunikasi akan beralih dari yang konvensional ke saluran komunikasi yang saat sekarang dikenal oleh generasi muda. Tidak ada pilihan lain, kecuali berusaha menjembatani kesenjangan ini dan mencari cara-cara baru dalam berkomunikasi dan berorganisasi dengan generasi baru.

Generasi "Autis" yang Semakin Sosial
Seorang karyawan berbakat yang dikenal mampu melakukan multitasking, kreatif, santun, dan selalu dengan tekun menghadapi komputernya, tiba tiba mengajukan pengunduran diri.  Ketika ditanyakan alasannya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa "bergaul" di tempat kerjanya. Sebenarnya pernyataan ini cukup aneh, mengingat ia memang adalah pekerja mandiri dan memang tidak dituntut untuk banyak berkomunikasi verbal. Walaupun berbakat pendiam, ia memang terlihat aktif memainkan ponsel dan BlackBerry-nya terus-menerus dan selalu muncul dengan komentar-komentar lucu di Twitter-nya. Kita lihat betapa kebutuhan interaksi sosial mereka begitu tinggi, tanpa harus bertatap muka.

Kita mungkin bisa lebih berempati bila membayangkan betapa generasi sekarang tumbuh ketika  komunikasi dan informasi bisa didapatkan dengan cara yang mudah dan murah. Hal inilah yang menyebabkan mereka mempunyai pandangan yang berbeda mengenai kesempatan. Bagi mereka, kesempatan memang sangat tidak berbatas. Bila sebelumnya kita memiliki hambatan untuk meng-global, tidak demikian dengan mereka. Anak muda sekarang biasa menembus jaringan tanpa batas, sehingga tumbuh menjadi generasi yang multikultural, interaktif, dan kolaboratif dengan caranya sendiri. Mereka pun lebih mudah antusias terhadap apa saja yang ada di hadapannya, walaupun mungkin tidak terlalu tahu substansinya. “Ah, kita browse saja di internet”, itu keyakinan mereka.

Mereka yang memang sudah tech savvy jadi lebih optimistis, lebih care terhadap komunitas dan bahkan biasa  menjadi multitasker kronis. Dengan ditunjang kemudahan teknologi dan cara-cara interaksi personal, generasi muda sekarang memang berbeda secara bumi dan langit dengan generasi gaptek, penuh struktur dan berbirokrasi.

Pertanyaannya, sampai kapan kita mau menekankan perbedaan antara bumi dan langit ini? Mengapa justru kita tidak melihat tantangan untuk memanfaatkan talenta baru, misalnya untuk menemukan hal–hal yang dulu tidak terpikirkan oleh kita? Sebaliknya, kita juga perlu mawas diri tentang cara berkomunikasi kita, karena teman-teman muda kita ini mempunyai lifestyle digital dan juga sangat tribal dan terlibat dalam kelompok sosial kecil maupun besar.

Tembus Kesenjangan dengan Belajar
Dari mana Anda belajar mengenai kecanggihan komunikasi digital? Banyak sekali orang tua yang belajar memakai laptop dan membuka account Facebook atau Twitter karena bantuan anak, bahkan cucu mereka, bukan? Hasil survey menyebutkan bahwa 40 persen dari generasi non-Y belajar mengenai i-Tunes, MySpace, atau YouTube, dari adik-adik “GenY”.  Hal ini merupakan fakta bahwa ada jalan yang mudah  untuk menembus kesenjangan generasi ini.

Time Warner, perusahaan yang dikenal sangat kreatif ini pun memanggil mentor-mentor yang terdiri atas mahasiswa untuk mengajarkan bagaimana menulis blog, mem-posting video di YouTube, dan memanfaatkan media-media baru untuk  memperkaya imajinasi dan mendapatkan ide ide segar. Sebuah perusahaan konsultan yang berusia lebih dari 100 tahun pun mempercayakan situs web komunikasi internalnya pada para management trainees yang belia. Hal ini disambut hangat oleh para senior dan bahkan menghasilkan peningkatan motivasi kerja yang sangat signifikan. Jadi, isunya adalah bukan menunggu mereka behave, dan menyesuaikan diri dengan kultur  lama yang sudah berlangsung, tetapi justru belajar dari teman-teman baru tentang hal-hal yang memang sudah merupakan keharusan untuk dikuasai.

Generasi baru yang terkenal pembosan ini juga menyukai tantangan. Mereka bisa diberi tugas-tugas riset yang menarik. Kita juga melihat betapa mereka pun menguasai cara-cara marketing elektronik yang banyak tidak dikenal, yang langsung bisa kita manfaatkan untuk inovasi. Kitalah yang harus mempersiapkan organisasi untuk merangkul generasi selanjutnya. Kalau kita selama ini mencap mereka tidak siap, pertanyaannya: mungkinkah kita yang tidak mempersiapkan diri menyambut mereka?  

(Eileen Rachman & Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X