Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dewi Kamaratih: Motivasi Ibu Bekerja

Kompas.com - 28/03/2011, 10:23 WIB

Dunia anak
Namun, hukum korporasi bukan satu-satunya dunia Dewi. Pada 1999, ia membangun Sekolah Cikal bersama Najelaa Shihab. Mulai dari kelompok pra-sekolah, kini berkembang dengan taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan tengah dibangun pula sekolah menengah pertama.

Bagi Dewi, belajar bisa di mana saja dan harus selalu menyenangkan. ”Yang paling sulit bagi saya adalah mengubah mind-set orangtua terhadap pendidikan yang pernah mereka dapat dulu dengan pendidikan yang seharusnya diberikan untuk mempersiapkan anak pada masa depan. Jangan dengan mudah kita bilang, ’kalau mamah dulu...’,” tutur Dewi.

Belajar akan terasa menyenangkan apabila anak tidak dipaksa belajar dengan cara yang seragam. Deskripsi visual, cerita, bahkan gerakan, bisa menjadi pilihan cara belajar. Kandungan nilai pun akan lebih terserap dalam diskusi dan berpendapat, bukan dengan hafalan.

Dewi juga meyakini, belajar di sekolah internasional sekalipun tidak seharusnya membuat anak kehilangan kebanggaan atas kekayaan budaya Nusantara. Warna budaya menjadi bagian dari jati diri yang perlu dikenali.

Karena itu, di Cikal, misalnya, setiap empat bulan, siswa mementaskan cerita Nusantara lengkap dengan beragam corak kesenian daerah di Teater Salihara. Tiket dan hasil karya yang dijual di kegiatan ini kemudian disumbangkan.

”Jadi, anak-anak itu membantu sekolah di Sumatera atau Maluku, misalnya, tanpa meminta uang orangtua, sekaligus mempelajari budayanya,” katanya.

Bagi Dewi, dunia pendidikan anak tidak sepenuhnya terpisah dengan bidang hukum korporasi yang ia geluti. Lingkungan profesional hukum bisnis membuat Dewi berpikir dinamis dan memberinya jaringan untuk mendukung kegiatan sosial dan seni.

Di tengah kasus hukum pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit-Chandra, misalnya, Dewi dan sejumlah rekan menggelar konser musik di Bundaran HI serta pameran dan lelang lukisan untuk menggalang dukungan publik.

Menggandeng pelaku seni untuk ikut menggaungkan isu hukum bukan hal sulit karena Dewi memelihara jaringan dengan kalangan seni sejak ia aktif di Swara Mahardika saat remaja. Sebagai konsultan hak kekayaan intelektual, ia juga dapat membantu keluarga seniman memanfaatkan royalti.

Bagi Dewi, salah satu aset terpenting sepanjang ia berkarier adalah jaringan untuk menebar manfaat. ”Rentang kerjaan saya mulai dari lawyer, mengelola sekolah, sampai bikin program kesenian buat anak. Dari sisi materi, saya enggak dapat apa-apa dari kegiatan kesenian, tetapi kepuasannya luar biasa,” tutur Dewi.

Halaman:
Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya


    Terkini Lainnya

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com