Di Balik Gemerlap Paula Verhoeven - Kompas.com

Di Balik Gemerlap Paula Verhoeven

Kompas.com - 31/05/2011, 08:05 WIB

KOMPAS.com - Lagu Quando, Quando, Quando mengalun riang di catwalk Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2011 di Hotel Harris, Sumarecon Kelapa Gading, Jakarta Utara. Lagu yang pernah dipopulerkan penyanyi Engelbert Humperdinck itu mengiringi para model membawakan gaun rancangan Misan yang berkesan cerah. Salah satu model itu adalah Paula Verhoeven (23). Ia mengenakan gaun penuh warna dengan bunga-bunga segar. Ia mengibas-ngibaskan ekor gaun panjang yang menyentuh lantai.

”Baju (rancangan) Misan ini mood-nya anggun, flowing, ada bunga-bunga indah. Saya membawakannya dengan suasana ceria, senang, bukan angkuh,” kata Paula, di ruang rias arena JFFF.

”Model itu kan kayak manekin. Beda baju, beda pula karakter dan mood-nya. Model harus bisa bawakan peran berbeda-beda itu,” katanya sambil merapikan rambut.

Mood itu tergantung karakter baju dan permintaan desainer,” katanya menambahkan, sambil memegang lipstick.

Selama JFFF yang berlangsung 14-29 Mei 2011 lalu, Paula keluar masuk peran berbeda-beda seturut gaun yang ia kenakan. Ia menjadikan karya menjadi hidup. Kamis (19/5/2011) lalu, misalnya, ia tampil dalam tiga peragaan busana dengan tema yang berbeda-beda. Pada setiap show, ia bisa empat sampai lima kali muncul membawakan karya perancang yang berbeda-beda. Ia tampak manis meragakan rancangan karya Safartiwi Gadeng yang bertema ”Spirit of Cut Nyak Dien” dengan sentuhan etnis Aceh.

Kemudian pada tema ”The Acculturation in Glam” Paula tampak gandes mengenakan kebaya warna ungu karya perancang Poppy Karim.

Gemerlap kerja keras
Di pentas mode yang gemerlap, Paula dan kawan-kawan melenggang. Di balik pentas dan hanya bersekat dinding dari catwalk gemerlap itu tampak kesibukan luar biasa. Mereka dengan gesit berganti baju, menata rambut, dan merias wajah. Mereka memerlukan waktu sekitar 10 sampai 15 menit untuk menyiapkan penampilan baru.

”Di belakang panggung memang hectic (ribet) seperti ini. Tapi kami sudah biasa karena kami melakukannya dengan senang.He-he,” kata Paula.

Untuk ajang seperti JFFF, Paula harus sudah siap sejak pukul 06.00 guna geladi resik, termasuk blocking atau pengaturan posisi. Mereka lalu akan merias wajah dan rambut hingga sekitar pukul 12.00. Adapun jadwal show mulai pukul tiga. Lewat tengah hari, sekitar pukul satu siang, sejumlah model beristirahat dengan tiduran di atas bangku yang dijejer menjadi tempat tidur darurat.

”Orang kalau ditanya kesan dunia mode itu seperti apa, kebanyakan mereka mengatakan glamor(ous) dan seneng-seneng saja. Kami kerja keras.”

”Glamor itu pekerjaan kami karena model dituntut seperti itu. Kalau enggak glamor, kami tidak profesional. Di panggung kami tampak glamor karena make up dan lighting,” kata Paula di tengah model-model yang tengah berdandan di ruang rias.

”Setelah lepas baju, saya menjadi Paula yang sebenarnya yang suka pakai baju kasual, pake jeans, dan suka nge-gym (senam). Model itu hanya di atas panggung,” kata Paula, yang tinggal di sebuah apartemen di Kelapa Gading.

Gaya hidup sehat
Nama Verhoeven di belakang Paula membawa riwayat panjang. ”Opa saya Belanda, sedang oma China. Lahirlah bokap (bapak),” tutur Paula menceritakan ayahnya, Eddy Verhoeven.

”Ibu saya Jawa, Semarang,” katanya menambahkan tentang sang ibu yang bernama Herlina.

Sosok Paula yang tinggi itu, kini 183 cm, sudah menjadi ciri sejak kecil. ”Dari taman kanak-kanak saya menjadi pusat perhatian karena tinggi (badan).”

Paula Verhoeven mandiri sebagai model profesional sejak tahun 2005. Tidak mudah pada awalnya merintis karier di jagat model Ibu Kota. Berbekal rasa percaya diri sebagai juara pertama kontes Elite Model Look Indonesia 2003, perempuan bertinggi badan 183 sentimeter ini bertekad menjadi model.

”Kendalanya, dulu itu saya gemuk sampai 70 kilo. Tapi, itu mungkin karena waktu itu saya sedang dalam masa pertumbuhan,” kata Paula yang kini beratnya 55 kilogram.

”Saya casting sampai ditolak-tolak karena baju enggak muat ha-ha-ha...”

”Dulu saya jadi model, tapi tidak tahu kewajiban menjaga badan, muka, dan rambut,” tuturnya.

Kewajiban model profesional, menurut Paula, adalah menjaga badan dengan pola hidup sehat, antara lain dengan tidak minum alkohol, tidak tidur terlalu malam, dan menjaga makanan. ”Bukannya tidak makan lho, he-he....”

Ia misalnya menghindari makanan yang digoreng dan lebih banyak mengonsumsi makanan yang dikukus, direbus, atau dipanggang. Selain itu, ia juga rajin berolahraga seperti renang dan senam. ”Badan itu senjata model untuk berperang. Ha-ha....”

Habis-habisan
Paula berusaha keras untuk berlaku profesional di bidangnya. Selain soal fisik yang harus terjaga, sebagai model ia harus tangguh secara mental. Pernah ia mengikuti casting di Singapura yang diikuti sekitar seratus orang meski yang diterima hanya sepuluh. Ia pernah ditolak, tapi pernah pula lulus.

”Rasanya ditolak itu agak sedikit sedih. Itu pasti. Tapi, itu tak masalah. Dari awal saya sudah tahu konsekuensinya seburuk apa pun. Saya tidak patah semangat.”

Namun, ia percaya diri dan mau belajar untuk menjadi lebih baik. Sikap dan watak baik juga sangat penting. ”Kita harus nice, baik. Banyak senyum dan jangan sombong.”

Sementara ini Paula akan fokus sebagai model dan belum akan menoleh ke bidang lain meski katanya sudah banyak penawaran seperti bermain film dan televisi.

I love modelling, dan saya akan all out, habis-habisan di bidang ini...” katanya mantap. Paula telah memilih jalan hidup dan menikmatinya.

* Lahir: Semarang, 18 September 1987
* Orangtua:
- Ayah: Eddy Verhoeven
- Ibu: Herlina T Verhoeven
* Pendidikan: Jurusan Public Relations, London School of Public Relations 2005-2009
* Prestasi:
- Juara I Elite Model Look, 2003
- Juara Harapan Abang None Jakarta, 2006

(Frans Sartono)

 


EditorDini

Close Ads X