Wah, Makin Banyak Orang Kena Diabetes

Kompas.com - 15/06/2011, 07:44 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com — Permasalahan penyakit diabetes di Indonesia ibarat fenomena gunung es. Dari waktu ke waktu, jumlah penderita diabetes cenderung terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, tercatat sebanyak 12,5 juta jiwa masyarakat Indonesia terkena diabetes. Prevalensinya diperkirakan akan terus meningkat, bahkan mencapai hingga dua kali lipat dalam kurun beberapa tahun ke depan.

"Diperkirakan pada tahun 2030, kurang lebih 21,3 juta jiwa akan menderita diabetes," kata Samuel Oetoro, MS, SpGK, ahli gizi klinis dari MRCCC Siloam, Selasa, (14/6/2011) di Jakarta.

Menurut Samuel, peningkatan jumlah penderita bukan hanya dari kelompok diabetes tipe 1, yang biasa mulai menyerang  usia di bawah usia 30 termasuk anak-anak, dan diabetes tipe 2 yang jumlahnya paling banyak saat ini dan lebih sering terjadi pada usia lanjut.

Namun, yang justru dikhawatirkan adalah mereka yang termasuk dalam kelompok pradiabetes. Pasalnya, sampai sekarang belum diketahui secara pasti jumlah mereka. Dan diduga akan jauh lebih banyak dibandingkan kelompok diabetes.

"Oleh karena itu, kita harus benar-benar menjaga kadar gula darah. Jangan lebih dari 140 mg/dL kalau lebih masuknya pradiabetes," imbuhnya.

Samuel mengungkapkan, akibat perubahan gaya hidup, makin banyak warga perkotaan yang mengidap diabetes tipe 2 dalam usia relatif muda. Pada tahap awal, kehadiran diabetes tak langsung disadari karena tidak munculnya gejala khusus yang mengganggu. Gejala baru akan muncul bila kondisi diabetes sudah cukup serius.

Umumnya, diabetes akan disertai dengan adanya komplikasi penyakit lain, seperti dislipidemia (gangguan metabolisme lemak),  makrovaskuler (penumpukan lemak), neuropati (gangguan sel-sel saraf), dan rentan infeksi (terganggunya fungsi imunitas).  Ada beberapa faktor risiko penyebab diabetes, di antaranya, keturunan, pola makan, malas olahraga, rokok, minum alkohol, dan stres.

Biaya besar

Peningkatan prevalensi diabetes juga dipastikan menimbulkan beban yang besar bagi masyarakat. Pasalnya, pengobatan untuk mengendalikan diabetes tidaklah murah. Menurut penjabaran  Samuel, estimasi biaya yang harus dikeluarkan oleh penderita diabetes setiap tahun bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Konsultasi dokter bisa mencapai kisaran Rp 1-2 juta/tahun, obat-obatan Rp 1-2 juta, makanan tambahan Rp 950 ribu/bulan, operasi katarak Rp 15-20 juta, cuci darah Rp 50-60 juta, stroke Rp 40-50 juta, serangan jantung Rp 60-80 juta dan amputasi Rp 130-150 juta.

Oleh karena itu, Samuel mengajak masyarakat supaya berdamai dengan glukosa mulai sekarang. Kenapa istilahnya harus berdamai? "Karena glukosa itu gula. Di mana sel butuh glukosa untuk dibentuk menjadi tenaga. Kalau Anda tidak makan glukosa, akan lemas. Tapi kalau kelebihan, juga akan membahayakan," pungkasnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X