Elaine Marlene: Memanggang untuk Charity

Kompas.com - 13/07/2011, 17:12 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Dari tangannya lahir fruit tart, kue yang kesohor di antara warga Indonesia di Boston, AS. Dari tangannya juga, lahir sebuah kedai pastry di Jakarta. Toh, semua itu hanya jalan untuk menopang kerja utamanya: membangun pendidikan bagi anak-anak miskin.  

Cappuccino panas, fruit tart, dan carrot cake menjadi menu pembuka obrolan pagi itu. Elaine Marlene (24), pemilik sekaligus chef di kafe Bittersweet Corner, menunjuk pada deretan kue yang ada di balik lemari kaca. Ada macaroon, lemon tart, aneka cupcakes, caramel tart. ”Saya sendiri yang memanggang semua kue ini tadi pagi,” kata perempuan cantik berperawakan tinggi semampai ini.

Elaine tak pernah kursus, apalagi sekolah membuat kue. Bakatnya itu muncul tiba-tiba di waktu yang tak terduga. Awalnya, ia prihatin melihat teman-teman kuliahnya di Boston menghabiskan uang yang cukup banyak untuk katering sebuah pertemuan. ”Mereka menghabiskan ratusan dollar untuk sebotol wine. Sungguh pemborosan. Akhirnya saya menawarkan diri untuk membuatkan kue buat mereka,” katanya.

Di kamar kosnya, Elaine memiliki oven kecil. Setelah mencari resep di internet, ia nekat membuat kue. Ia modifikasi resep yang dibacanya, menambah ini dan itu, sampai cocok dengan lidahnya. ”Pastry sebaiknya tidak terlalu manis. Dan untuk racikan yang menggunakan cream cheese sebaiknya dipadukan dengan buah-buahan yang agak asam, seperti stroberi, kiwi, atau bluberi. Saya juga coba berulang-ulang bagaimana agar dasar kue tidak lembek, tapi tetap crispy. Ternyata kue buatan saya itu banyak yang suka, dan mereka langsung memesan lagi,” katanya.

Dari mulut ke mulut popularitas fruit tart buatan Elaine sampai di komunitas Indonesia di Boston. ”Dalam waktu sebulan, lebih dari 150 warga Indonesia di sana sudah tahu kue saya,” katanya.

Tapi, bagi Elaine, bukan soal kepopuleran kuenya yang penting. Yang lebih utama ialah apa yang bisa dia lakukan dengan hobinya itu. ”Saya selalu katakan kepada teman-teman bahwa satu atau dua dollar itu matters untuk anak-anak miskin di Indonesia, terutama untuk pendidikan mereka. Saya ingin menggabungkan hobi memanggang ini dengan charity,” katanya.

Bersama beberapa sahabatnya, ia kemudian mendirikan Greater Indonesian Future Through Sponsorships (GIFTS) di Boston. ”Kami banyak mengadakan acara, entah itu bentuknya entertainment atau party, atau sekadar pertemuan. Kami tidak meminta uang kepada mereka, tetapi mereka membayar untuk hidangannya. Uang yang kami peroleh semuanya kami sumbangkan untuk anak-anak di Indonesia. Begitu seterusnya,” kata Elaine, yang harus membagi waktunya dengan ketat antara kuliah, membuat kue, dan pekerjaan paruh waktu.

”Saya tahu bahwa saya di sana untuk sekolah, jadi kuliah tetap prioritas. Tapi kalau antara tidur dan memanggang kue, ya saya prioritaskan kuenya, karena saya tidak enak kalau tidak bisa memenuhi permintaan pemesan. Jadi, saya biasa memanggang dari malam sampai jam 3 pagi,” katanya.

Kalau membuat kue hanya sekadar hobi, maka pekerjaan sampingannya adalah menjadi fashion buyer dari produk-produk berlabel internasional. Ini pun ada latar belakangnya. Lulus dari Jakarta International School, Elaine tidak langsung daftar ke universitas. Ia ingin bekerja dulu selama satu tahun di Indonesia. Jadilah ia mengajar bahasa Inggris, bekerja di beberapa butik kelas atas di Jakarta dengan aneka jabatan. Mulai dari mengorganisasi pertemuan antara pembeli dan suppliers, menjadi sales marketing, membuat profil perusahaan, website, fashion stylist, sampai menjadi humas.

”Lewat pengalaman bekerja di Indonesia itulah saya menjadi buyer sejumlah brand, terutama untuk pakaian dalam dan tidur. Setiap hari Sabtu-Minggu, saya naik bis ke New York untuk bertemu langsung dengan para brand representatives, seperti dari Oscar de la Renta, Betsy Johnson, dan lain-lain,” kata Elaine yang melewatkan sekolah dasar di Singapura dan sekolah menengah di Amerika.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X