Ardistia Dwiasri Mengejar "Passion" ke New York - Bagian I - Kompas.com

Ardistia Dwiasri Mengejar "Passion" ke New York - Bagian I

Kompas.com - 22/07/2011, 15:35 WIB

KOMPAS.com - Jangan sepelekan rasa penasaran, kata hati, passion, yang bisa jadi sudah terpupuk sejak belia. Perempuan kelahiran Jakarta, 5 Juli 1979, Ardistia Dwiasri membuktikan, kejelian melihat kekuatan diri, dipandu hati nurani, hasrat kuat menelusuri rasa ingin tahu di bidang fashion, nyatanya bisa membawanya pada kesuksesan. Menjadi desainer Indonesia yang memulai kiprah di New York, dan mampu memenuhi selera fashion di lima benua.

Simak perbincangan Ardistia Dwiasri, President  & Creative Director Ardistia Design Works Inc., New York, yang mengusung label ready to wear Ardistia New York, bersama Kompas Female.

"Saya menyukai ilustrasi fashion sejak sekolah dasar. Saya suka menggambar sketsa dan sudah penasaran sejak kecil," tutur perempuan yang akrab disapa Disti, kepada Kompas Female di apartemen The Capital, Jakarta, Kamis (21/7/2011) lalu.

Rupanya, rasa penasaran Disti pada dunia fashion tak hilang. Hasratnya pada fashion masih  bertahan hingga menyelesaikan pendidikan S-1 Teknik Industri dan S-2 bidang studi manufaktur, keduanya di Northeastern University, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

"Fashion penuh inspirasi dan menantang. Dunia ini terasa berbeda dan seru. Saya selalu penasaran dengan fashion, dan kalau saya tidak melakukan hal yang bikin saya pensaran, rasanya saya bisa 'gila' beneran. Karena sewaktu kuliah teknik, banyak teman saya yang bilang seharusnya saya masuk sekolah fashion," kisah anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Berbekal pendidikan

Butuh waktu dan proses panjang hingga akhirnya Disti memastikan pilihan hatinya, menggeluti fashion. Pendidikan fashion menjadi langkah awal yang dipilihnya untuk membekali diri berkiprah di industri mode.

Dorongan dari dalam diri, serta dukungan dari teman kuliah memantapkan hati Disti untuk akhirnya melanjutkan pendidikan di sekolah fashion Parsons School of Design, New York. Benar saja, Disti menikmati pilihan yang dibuatnya ini.

Faktor lain yang juga memicunya adalah banyaknya role model, referensi, kisah dan tokoh sukses di bidang fashion di New York. Akses memasuki dunia fashion di New York juga memudahkan bagi pemula. Seperti Parsons School yang terbuka untuk siapa saja yang masih awam dengan fashion, namun punya hasrat besar terhadapnya.

"Saya tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata seperti apa rasanya bersekolah di Parsons. Sekolah bukan lagi sekadar mengejar nilai. Sekolah fashion membuat saya selalu ingin melakukan yang jauh dari rata-rata. Selalu bersemangat mengerjakan proyek fashion, bahkan menunggu-nunggunya. Dalam menyelesaikan proyek fashion, juga seringkali lebih dari yang ditugaskan," tutur Disti bersemangat mengisahkan langkah pertamanya belajar fashion di usia 23.

Penasaran
Rasa ingin tahu yang tinggi, dibarengi analisa mendetil dari setiap ide yang muncul, semakin mendorong Disti untuk pantang menyerah berkiprah di industri fashion. Rasa tak puas diri juga punya sisi positif yang pada akhirnya menyukseskan Disti.

"Saya suka eksperimen. Sekolah fashion Parsons mengajarkan dasar tapi saya terpicu untuk terus memodifikasi, mengeksplorasi desain dan konsep fashion. Dorongan kuat ini lahir secara natural dari dalam diri. Kalau kita melakukan yang kita suka, dorongan dari dalam diri ini akan memicu secara alami," jelas perempuan penggemar yoga ini.

Rasa penasaran juga lah yang membuat Disti fokus belajar fashion dengan juga mengambil studi marketing dan merchandising, di sekolah fashion yang sama. Disti terbukti menguasai desain fashion, dan berhasil lulus dengan IPK 3,76 pada 2003.

Multidisiplin ilmu
"Tidak ada istilah berhenti dalam pendidikan. Meski belajar tak selamanya harus di sekolah, tetapi bisa juga dengan belajar melalui buku dan juga mentor," kata Disti yang mengaku latar belakang keilmuan di teknik industri ternyata mendukung passion-nya di bidang fashion.

Menurut Disti, berpendidikan teknik industri membantunya mengasah kemampuan menganalisa dan mengatasi masalah. Dalam fashion, terutama jika masuk dalam bisnis dan industri, kemampuan menganalisa dan mengatasi masalah diperlukan, lanjutnya.

"Dari segi desain, keilmuan dari sekolah teknik justru membuat saya lebih teliti dalam membuat pola, konstruksi, mau pun dalam teknik di bidang fashion," ujarnya menambahkan, latar belakang pendidikan teknik justru mendukung pilihannya berbisnis fashion. "Karena terbiasa berpikir rumit saat sekolah teknik, pada akhirnya terbantukan ketika berbisnis sendiri, seperti lebih tepat dalam kalkulasi, dan terbantu saat membuat rencana bisnis," tambahnya.

(Lanjut ke Bagian II)


Editorwawa
Close Ads X