Dok, Kenapa Saya Sulit Berpikir Positif?

Kompas.com - 02/08/2011, 10:54 WIB
EditorAsep Candra

TANYA : 

Dok bagaimana cara membentuk diri yang positif, berpikir positif dan berbuat adil? Keegoisan saya sebagai perempuan jauh lebih kental daripada berpikir logis seperti yang saya sering ucapkan dari mulut saya selama ini.  Berulang kali saya mencoba untuk tidak berburuk sangka alias berpikir negatif terhadap sesuatu. Tapi berulangkali pula saya gagal. Akhirnya, saya kesal dan marah dengan diri saya sendiri. Awalnya dikarenakan oleh banyaknya bayangan buruk yang kerap terlintas dalam pikiran. Sering membayangkan hal buruk yang akan menimpa. Padahal saya tahu persis apa yang kita takutkan belum tentu akan terjadi. Dan saya juga tau bagaimana cara mengatasinya, yakni dengan tidak berpikir buruk atau membayangkan hal hal yang buruk.

Permasalahannya, bagaimana saya harus membangun dan meyakinkan diri untuk tidak takut pada hal-hal yang belum terjadi. Saya ingin sekali bisa membayangkan hal-hal positif seperti dulu ketika saya masih belajar atau di bangku kuliah. Apakah karena dulu tidak merasakan kehidupan yang sebenarnya. Kenapa justru sekarang sekarang ini saya sulit sekali memunculkan hal-hal positif dari diri saya. Seolah saya menjadi penakut dan ketakutan dengan nasib dengan takdir dengan diri sendiri. Saya merindukan diri saya yang dulu. Yang selalu optimis tentang masa depan. Pernah gagal ujian skripsi pun tak gentar. Langsung bangkit dan optimis bisa lulus. Tapi kenapa sekarang pengen sedikit optimis saja susah. Saya masih sering menggenjot semangat orang orang di sekitar saya. Saya membuat mereka tidak takut dengan diri mereka. Padahal saya takut dengan diri saya sendiri. Ada apa dengan saya? Apa yang menyebabkan saya seperti ini?

Danik, 27, Yogya

JAWAB :

Mbak Danik yang baik,

Berpikir positif terhadap diri dan orang lain adalah bagian dari kriteria kesehatan jiwa. Orang yang mampu berbuat demikian dapat dikatakan memenuhi salah satu kriteria sehat jiwanya. Namun demikian, untuk bisa berpikir positif itu tentunya perlu latihan dan tidak mudah.

Banyak faktor akan berpengaruh termasuk faktor yang disebabkan karena perubahan lingkungan yang tidak kondusif yang akhirnya mempengaruhi kondisi psikologis seseorang yang daya adaptasinya mungkin sudah berkurang. Tidak heran banyak para bijaksana mengatakan kepada kita untuk bergaul dengan orang-orang yang bijaksana agar kita ketularan bijaksananya dan jangan bergaul dengan yang tidak bijaksana agar tidak tertular ketidakbijaksanannya.

Ketakutan atau kecemasan akan masa depan yang belum terjadi cukup banyak dialami para perempuan. Dalam praktek sehari-hari saya sering menemui pasien demikian yang seringkali diagnosisnya adalah Gangguan Cemas Menyeluruh, suatu gangguan cemas yang gejala khasnya adalah kekahwatiran yang berlebihan terhadap hampir semua aspek kehidupannya, terkadang bahkan ketakutan yang tidak rasional.

Jika mbak Danik masih bisa menggenjot semangat orang lain, artinya mbak Danik mengetahui cara untuk berubah dari keadaan sekarang. Tinggal bagaimana menerapkan teori itu kepada diri mbak sendiri. Semoga bermanfaat.

Salam Sehat Jiwa.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X