Stres Bukan Penyebab Sulit Hamil

Kompas.com - 25/08/2011, 11:45 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Ketika usia pernikahan sudah melewati tahun kedua dan ketiga, keluarga besar Anda pasti mulai bertanya-tanya: kapan mereka akan menimang cucu? Kesulitan Anda untuk hamil juga memicu banyak "masukan" dari mereka. "Jangan stres-stres deh, pasrah saja. Kerja enggak usah terlalu ngoyo," begitu mungkin kata mereka.

Namun, apa yang sering Anda dengar ternyata belum tentu benar. Stres mungkin saja memegang peranan, namun bukanlah penyebab utamanya. "Data menunjukkan bahwa pengaruh stres terhadap kesuburan itu sangat lemah," ujar Randy Morris, MD, profesor klinis untuk divisi endokrinologi reproduktif di University of Illinois Medical School di Chicago.

Masalahnya, stres itu memang sesuatu yang sulit diukur. Banyak contoh dimana perempuan yang mengalami ketegangan yang sangat besar namun mampu hamil dan melahirkan anak yang sehat. Lagipula, banyak dari studi yang memelajari kaitan stres dan kemampuan seorang perempuan untuk hamil ternyata hanya memilih pasien yang sedang menjalani perawatan kesuburan. Artinya, bisa saja mereka juga memiliki problem lain yang memengaruhi kesuburannya.

Kaitan antara stres dan kesuburan yang cukup valid adalah bahwa stres dapat mengubah keseimbangan hormon, yang membuat sebagian perempuan berhenti berovulasi. Penelitian yang dilakukan oleh Sarah Berga, MD, kepala departemen kebidanan dan kandungan di Emory University School of Medicine di Atlanta, menunjukkan bahwa pada perempuan yang menderita amenorrhea (tidak mengalami menstruasi), ovulasi kembali ketika mereka menjalani terapi perilaku kognitif.

Perempuan yang mengalami masalah ketidaksuburan disarankan untuk tidak terlalu tertekan dengan keadaan tersebut. "Ketika Anda siap untuk mulai mencoba hamil, jangan menggunakan alat kontrasepsi lagi, dan bercintalah kapanpun Anda mau. Tak usah langsung memulai dengan peralatan peramal ovulasi, dan tak usah terlalu disiplin mengenai kapan Anda harus menggunakannya. Justru hal ini yang menyebabkan Anda lebih stres," ungkap Alice Domar, PhD, asisten profesor bidang kebidanan dan kandungan, dan biologi reproduktif di Harvard Medical School.

Selain itu, terimalah kenyataan bahwa kualitas sel telur akan menurun seiring bertambahnya usia, meskipun Anda tergolong sehat. Beberapa pakar mengestimasi, pada perempuan usia 35 tahun, kira-kira 1 dalam 2 telur cenderung memiliki kromosom yang tidak normal. Kemudian, sekitar 90 persen telur pada perempuan usia 42 tahun ke atas memang tidak normal. Dengan kondisi telur yang kurang layak, dengan sendirinya kesuburan akan menurun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.