Sukses Bangun Sekolah Berbasis Bahasa Ibu

Kompas.com - 07/09/2011, 08:20 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Siapa sangka, Sekolah Putik Indonesia yang kini memiliki empat cabang di Jakarta dulunya dimulai dari lahan mungil di rumah orang tua sang pendiri, Nina Estanto. Ditemui di salah satu sekolahnya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, Nina mengatakan bahwa saat itu Sekolah Putik dijalankan hanya oleh lima staf pengajar, termasuk dirinya.

Pada awalnya, Nina tidak memiliki latar belakang di bidang pendidikan anak. Ia adalah alumni jurusan komunikasi dari Universitas Indonesia dan pernah bekerja sebagai wartawan. Setelah menikah dengan Bob Dafonso Estanto, seorang pegawai bank asing, ia ikut sang suami pindah ke Skotlandia pada 2001. Di sana Nina sekaligus melanjutkan pendidikan jurnalistiknya di University of Strathclyde.

Berubah pikiran soal anak
Pengalaman di Skotlandia membuka matanya tentang banyak hal dalam dunia anak beserta aspek pendidikannya. “Saat kuliah di Skotlandia, para dosen selalu memberikan tugas penulisan yang membutuhkan riset. Karena masalah anak dan perempuan selalu menjadi sorotan di sana, saya pun banyak melakukan riset tentang dua objek tersebut,” kenang Nina.

Misalnya pada 2001, ia melakukan riset tentang pola pendidikan anak usia dini. Perempuan kelahiran Solo, 18 Desember 1972 tersebut menjelaskan, di Inggris, anak-anak usia satu sampai lima tahun tidak dipaksa untuk belajar baca tulis. Mereka justru diberi kebebasan untuk bermain, tapi tentunya dengan permainan yang mengedukasi si anak.

Hal itu agak mengejutkan Nina karena sebelumnya ia sudah bertekad ingin mengajari anaknya membaca dan menulis sedini mungkin. Ia juga ingin anak-anaknya bisa cepat mengusai berbagai bahasa. Setelah melakukan berbagai riset, semua keinginan Nina tersebut jadi luntur.

“Anak bukanlah mesin yang bisa diatur semau kita. Mereka bisa jenuh dan kehilangan minat belajar jika di usia dini sudah dipaksa untuk berpikir. Semua itu ada saatnya,” ujar ibu dari Khalista Diva Estanto (11 tahun), Kiara Daviana Estanto (7 tahun), dan Benawa Daniswan Estanto (1 tahun 8 bulan).

Ucapannya terbukti ketika seorang temannya mengeluhkan anaknya tidak bisa baca tulis di usia tujuh tahun. “Letak kesalahannya ada pada teman saya yang telah menyekolahkan anaknya dan memaksanya bisa baca tulis sejak usia dua tahun,” ujar Nina tegas. Menurutnya, anak malah akan menjadi jenuh dan kehilangan minat belajar.

Nina akhirnya juga menemukan banyak hal lain menyangkut dunia ibu dan anak, terutama mengenai cara mendidik anak. Ia menerangkan, orang tua di Eropa tidak menerapkan gaya pendidikan modern, tapi justru menerapkan budaya lokal sejak dini. Selain itu, para orang tua juga mengajarkan anak menguasai bahasa ibu, termasuk memperkaya kosa kata anak, dan menyajikan informasi yang jelas serta logis. Dengan demikian terciptalah perilaku anak yang baik, berwawasan luas, dan berkarakter positif.

Ia memberikan contoh. Di Inggris, anak-anak dibiasakan mengucapkan kata "please" jika ingin meminta sesuatu dari orang lain. “Sangat sopan karena sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan untuk berperilaku positif,” tambahnya.

Ingin punya sekolah sendiri
Setelah setahun menempuh pendidikan di Skotlandia, Nina kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan di bagian pemberitaan salah satu stasiun televisi. Di tanah air, ia sering menemukan kejadian yang membuatnya semakin prihatin akan perilaku anak saat ini.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X