Sukses Bangun Sekolah Berbasis Bahasa Ibu

Kompas.com - 07/09/2011, 08:20 WIB
EditorDini

Suatu hari ia berjalan-jalan di sebuah mal. Tiba-tiba seorang anak kecil yang sedang berlari menabraknya. Nina sangat terkejut karena anak tersebut malah memaki sambil memelototinya.
Tidak hanya itu. Ia juga pernah melihat orang tua yang menyuruh sang anaknya menyerobot barisan orang-orang yang sedang mengantre di sebuah pasar swalayan.

“Saya sangat menyayangkan  kejadian yang membuat anak-anak jadi berperilaku tidak baik pada orang lain,” tuturnya.

Pengalaman itu membuatnya bertekad menghindarkan anak-anaknya dari hal serupa. Kebetulan saat itu salah satu putrinya hendak masuk tingkat prasekolah. Nina pun berkeliling menyurvei sekolah. “Ternyata tidak ada sekolah yang sesuai dengan idealisme saya. Semua sekolah menawarkan janji agar anak bisa secara instan menguasai bahasa asing, menguasai teknologi internet, dan sebagainya,” ujar Nina.

Nina mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak anti sekolah bilingual (dua bahasa, terutama Indonesia dan Inggris, RED). Namun ia berpendapat bahwa anak akan sulit menerima informasi jika di sekolah berkomunikasi dengan bahasa yang tidak digunakannya sehari-hari atau bahasa ibu. Selain itu, berdasarkan riset yang pernah dilakukannya, di usia dini anak membutuhkan pendidikan yang sesuai tingkat kemampuannya.

Tercetuslah dalam pikirannya untuk membangun sekolah sendiri. Sekolah yang ia inginkan benar-benar berbeda dari yang sudah ada. Kebanyakan pengelola pendidikan prasekolah sedang marak menawarkan sistem pendidikan bilingual dan kecanggihan sistem pendidikan lainnya. Sementara yang Nina tawarkan “hanya” pendidikan prasekolah usia satu hingga lima tahun yang menggunakan edukasi berbasis bahasa ibu.

Sistem pendidikan yang diterapkannya lebih menekankan aspek-aspek sosial, emosional, budi pekerti, dan agama. “Kami yakin, penguasaan bahasa ibu atau bahasa Indonesia dengan baik sejak dini, adalah awal kecerdasan anak untuk menerima ilmu pengetahuan dan menguasai bahasa lainnya,” Nina menjelaskan dengan bersemangat.  

Keinginan Nina ini ternyata sangat didukung sang suami. Ia setuju dengan konsep pendidikan yang diidam-idamkan Nina. Dengan modal tabungan, mereka berdua membeli berbagai peralatan dan kebutuhan sekolah. Sebuah ruang kosong di samping rumah orang tua Nina di Cipayung dirombak untuk dijadikan tempat belajar.

Mengajarkan nilai lokal
Pada 7 April 2002, pendidikan prasekolah miliknya pun resmi dibuka. Promosi dilakukan dengan modal spanduk yang bertuliskan konsep dan idealisme sekolah yang diberi nama Putik ini. Untuk memantapkan program belajar, Nina bekerja sama dengan teman-temannya dari jurusan psikologi dan juga teman-temannya yang berprofesi sebagai pengajar prasekolah anak.

Baru sehari pasang spanduk, ternyata respons membludak. Banyak orang tua datang dan ingin tahu lebih dalam tentang konsep pendidikan yang diciptakan Nina. “Saat itu sayalah yang menjelaskan dan meyakinkan pada calon orang tua murid. Masing-masing saya ceramahi selama dua jam mengenai konsep prasekolah ini,” katanya sambil tersenyum.

Ia mengatakan, bahasa bilingual tetap diajarkan di Sekolah Putik, namun tidak untuk pendidikan prasekolah. Bahasa asing diajarkan setelah anak duduk di tingkat SD. Nina berpendapat bahwa bahasa asing akan dikuasai anak melalui kebiasaan, bukan karena belajar di sekolah. Jika kedua orang tua tidak berbahasa asing di rumah, maka anak pun tidak akan bisa berbahasa asing dengan lancar.  

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X