Gorengan Sehat dengan Minyak Bekatul

Kompas.com - 06/10/2011, 14:53 WIB
Editorwawa

Komposisi pada minyak goreng bekatul masih lebih seimbang dibandingkan minyak zaitun atau minyak canola. Menurut data CloveGarden, minyak zaitun mengandung komposisi 77 persen lemak tidak jenuh tunggal, 9 persen lemak tidak jenuh ganda, dan 14 persen lemak jenuh. Sedangkan minyak kanola, komposisinya 61 persen lemak tidak jenuh tunggal, 33 persen lemak tidak jenuh ganda, dan 7 persen lemak jenuh.

Tidak bikin batuk

Titik asap minyak goreng bekatul juga tertinggi dibandingkan jenis minyak goreng lainnya. CloveGarden mencatat, titik asap minyak goreng bekatul 254 derajat celcius. Sedangkan minyak zaitun 210 derajat celcius, minyak kanola 200 derajat celcius, minyak kelapa sawit 215 derajat celcius, dan minyak zaitun (virgin) 160 derajat celcius.

Minyak goreng dengan titik asap tinggi lebih aman karena tidak akan mengubah lemak baik menjadi lemak jahat saat proses penggorengan. Perubahan lemak baik menjadi lemak jahat inilah yang berkontribusi terhadap risiko peningkatan kolesterol akibat gorengan.

Mengenai titik asap, Harry menjelaskan, "Bila minyak goreng memiliki titik asap rendah (di bawah panasnya suhu wajan), maka pada saat proses penggorengan, minyak terlihat berasap. Hal ini menandakan terjadinya dua peristiwa. Pertama, rusaknya ikatan rangkap pada semua kandungan lemak tak jenuh dalam minyak, sehingga kandungan lemak tak jenuh berubah menjadi lemak jenuh. Hal ini menimbulkan risiko peningkatan kolesterol LDL dalam darah. Kedua, terbentuknya zat akrolein dalam minyak yang menimbulkan beberapa akibat seperti batuk."

Cara memasak
Untuk mengurangi risiko penyakit akibat gorengan, penggunaan minyak goreng saat memasak juga perlu diperhatikan.  Beda jenis minyak gorengnya, beda juga cara memasaknya. Minyak kelapa dan minyak sawit baik digunakan untuk menggoreng makanan dengan teknik deep frying (minyak banyak dan panas).

Sementara minyak goreng bekatul, baik dimasak dengan teknik deep fying, sebanyak tiga kali pemakaian, juga baik dimasak dengan api kecil. "Setelah tiga kali pemakaian, minyak hanya berubah warna sedikit lebih coklat," jelas Harry.

Makanan yang digoreng menggunakan minyak goreng bekatul juga tidak berminyak di lidah. Sisa minyak goreng bekatul pada alat masak juga lebih mudah dibersihkan, tidak perlu menggunakan banyak sabun.

Satu lagi keunikannya, minyak goreng bekatul juga bisa dicampurkan dengan bubuk bekatul, untuk digunakan sebagai masker wajah. Minyak bekatul kaya akan kandungan antioksidan gamma oryzanol. Kelompok vitamin E tersebut hanya terdapat dalam minyak bekatul. Di Jepang, secara tradisional bekatul murni dipergunakan untuk masker oleh para perempuan karena kandungan gamma oryzanolnya mampu menghaluskan dan mencerahkan kulit.

Jenis minyak goreng kini lebih beragam, pilihan kembali di tangan Anda. Setidaknya kekhawatiran mengonsumsi gorengan bisa lebih mereda dengan pilihan minyak goreng yang lebih menyehatkan. Mencoba menjadi satu-satunya cara untuk membuktikannya.

Meski begitu, kunci hidup sehat tetap mengandalkan kedisiplinan Anda untuk menjalankan pola makan sehat seimbang. Meski makan gorengan yang dimasak dengan minyak goreng sehat, penyakit tetap saja bisa datang jika pilihan makanan masih sembarangan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X