Tenun "Digital Print" untuk Busana Muslim

Kompas.com - 02/11/2011, 09:55 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Jeny Tjahyawati terpilih sebagai salah satu perancang busana muslim yang akan mendesain busana muslim untuk International Fair of Muslim World yang akan digelar di Paris, Perancis, 17-19 Desember 2011. Jeny akan mengambil tema Craftlore dengan menggunakan aneka kain tradisional Indonesia, terutama tenun. Ia memilih tenun khas Nusa Tenggara Timur sebagai inspirasinya.

"Tapi, nantinya saya hanya akan meniru model tenunnya, dan selanjutnya akan memproduksinya dengan digital printing," tukas Jeny, saat konferensi pers "Panggung Pertama Fashion Muslim Indonesia di Pusat Mode Paris", di Gedung Kementrian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (1/11/2011) lalu.

Kain tenun "tiruan" ini sengaja digunakan untuk mendapatkan busana yang lebih ringan, karena sebagian besar masyarakat di luar negeri lebih menyukai busana dari kain yang ringan saat digunakan. Untuk menghasilkan kain yang ringan, Jeny menggunakan kain yang terbuat dari benang akrilik. Penggunaan bahan ini juga merupakan antisipasi terhadap permintaan masyarakat luar negeri yang tak menyukai penggunaan bahan sifon pada busananya. Pada kain tenun yang digunakan nanti, Jeny memilih menggunakan motif geometris seperti motif berlian yang besar dengan berbagai ukuran.

Perancang yang akan ikut berpartisipasi dalam Jakarta Fashion Week 2012 ini juga mengombinasikan kain tenun dengan berbagai jenis bahan lainnya. Teknik jahitannya pun dibuat dengan berbagai kreasi dan teknik, salah satunya adalah draperi.

"Tidak semuanya dibuat model gamis, tapi ada juga yang dipadu-padankan dengan rompi, celana, rok panjang, syal, dan lainnya," tambahnya. Jilbabnya juga dibuat agar mudah digunakan, karena bisa dikreasikan dengan berbagai macam model seperti turban, atau yang bisa digunakan untuk syal.

Uniknya, untuk mempercantik kreasi busananya Jeny menggunakan berbagai aksesori seperti kalung yang terbuat dari kumpulan sisa benang jahit yang dirangkai menjadi satu. Ada pula batu-batu alam biasa yang digunakan sebagai aksesori, namun untuk menonjolkan keistimewaannya batu-batu tersebut akan dibungkus dengan kumpulan benang-benang jahit beraneka warna.

Busana yang dihadirkan Jeny ini terbilang fleksibel karena termasuk kategori ready to wear, dan bisa dipadu-padankan dengan berbagai busana yang lain. Hasilnya, busana ini tak hanya bisa dikenakan oleh kaum muslim saja. "Busana ini juga bisa digunakan untuk non muslim, karena semua busana ini tidak harus diset dengan jilbab, dan semua bagiannya terpisah," bebernya.

Pangsa pasar dan segmentasi usia yang disasar Jeny salah satunya adalah untuk perempuan usia 17-45 tahun. Untuk memfasilitasi keinginan target marketnya, Jeny memilih menggunakan warna kain yang cerah seperti biru muda, kuning, atau hijau.

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X