Membara Memotivasi Kaum Hawa dan Dhuafa - Bagian I - Kompas.com

Membara Memotivasi Kaum Hawa dan Dhuafa - Bagian I

Kompas.com - 09/12/2011, 20:46 WIB

KOMPAS.com - Apapun pilihan profesinya, setiap perempuan punya kekuatan dari dalam dirinya untuk berdaya. Perempuan mampu berbuat lebih untuk memberdayakan dirinya, keluarga, juga lingkungan di sekitarnya. Sayangnya, banyak perempuan yang tak  menghargai diri sendiri seutuhnya. Tak sedikit perempuan yang masih perlu di ketuk hatinya, untuk bangkit memberdayakan dirinya.

Ketika perempuan bangkit dan berdaya, akan muncul generasi baru yang lebih baik. Karena perempuan adalah juga seorang ibu, sosok kuat dalam keluarga yang mencetak generasi muda, calon pemimpin masa depan. Kekuatan terpendam dalam diri perempuan inilah yang memotivasi Ainy Fauziyah, CPC, CHt, untuk konsisten menjalani profesi pilihannya, motivator.

"Saya jatuh cinta kepada perempuan. Saya ingin memotivasi sebanyak mungkin perempuan. Kalau diberi akses dan kepercayaan, perempuan akan bangkit, dan lebih percaya diri," jelas Ainy saat sesi wawancara dengan sejumlah media di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sosok ibu kandung Ainy, juga mendorong kecintaannya terhadap perempuan. Bagi Ainy, ibunya yang berprofesi sebagai penjahit, merupakan figur role model yang membanggakan dan membimbingnya menjadi sosok pribadi yang kuat dan berkarakter, dengan bekal pendidikan.

"Kami berasal dari keluarga miskin. Ibu saya penjahit, bapak petani. Meski miskin, satu hal yang membanggakan dari orangtua saya adalah mereka peduli pada pendidikan. Meski ekonomi sulit, mereka memastikan anak-anaknya tetap dapat bersekolah," jelas anak pertama dari lima bersaudara ini.

Mengubah mindset perempuan
Perempuan kelahiran Bangil, 29 November 1969 ini meninggalkan zona nyaman, memilih berhenti bekerja dari organisasi nirlaba internasional, lalu memutuskan menjadi motivator pada 2009. "Saya benar-benar aktif menjadi motivator pada 2010 hingga saat ini," lanjut ibu dari Rafi (12) dan Brisa (10) ini.

Keputusan beralih profesi menjadi motivator sempat disangsikan rekan kerjanya. Namun, keyakinan kuat dari dalam diri, dan kekuatan pikiran membimbing Ainy untuk konsisten pada mimpinya. Mindset, inilah kata kunci yang menyukseskan Ainy menjadi motivator yang fokus pada kepemimpinan dan pengembangan diri.

Kepercayaan diri Ainy untuk menjadi motivator semakin bertumbuh, apalagi dengan mencatat sejarah pribadi, bahwa ia berhasil mengubah mindset rekan kerja, tokoh masyarakat, dan kaum perempuan di Aceh, korban Tsunami.

Ainy terlibat dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh pasca Tsunami saat bekerja di organisasi non profit bidang kemanusiaan. Pengalamannya di Aceh, menjadi titik balik. Perempuan yang berlatar belakang pendidikan Teknik Sipil dari Institut Teknologi Nasional Malang dan Master of Urban Management di Canberra University Australia ini, bertanggungjawab untuk membangun rumah korban Tsunami bersama OXFAM Great Britain, tempatnya bekerja. Namun pekerjaan dan tanggungjawabnya justru meluas ke arah pemberdayaan perempuan, untuk mendukung tugas utamanya, membangun rumah, selama di Aceh.

"Saya menawarkan program training untuk perempuan korban Tsunami di Aceh. Mereka diajarkan cara mengecat rumah, dan digaji, untuk menyelesaikan satu rumah. Satu rumah dikerjakan tiga perempuan. Mereka dibayar sekitar Rp 800.000-Rp 1 juta per rumah lalu hasilnya dibagi kepada tiga perempuan. Program ini berhasil dijalankan. Mereka pun akhirnya memiliki rumah. Meski pada awalnya, usulan ini mendapatkan penolakan, mulai dari rekan kerja, tokoh masyarakat. Sementara perempuan itu sendiri, sebenarnya mau menjalankannya," kisah Ainy.

Dari pengalamannya ini, Ainy memiliki catatan penting. Perempuan mampu dan harus berdaya. Perempuan juga perlu memiliki posisi tawar yang kuat. Saat diremehkan, perempuan harus siap memberikan argumentasi.

"Saya memberikan solusi namun disangsikan. Dalam posisi ini, ketika kita ingin melakukan sesuatu yang baru, harus berargumentasi bahkan dalam tim. Jika solusi yang kita tawarkan tak diterima, minta solusi dari mereka. Jika mereka tak punya solusi, artinya solusi Anda adalah jawaban dari masalah. Begitupun saat berhadapan dengan tokoh masyarakat. Saya kembalikan kepada para perempuan itu sendiri. Saya ajak tokoh masyarakat untuk bertanya langsung kepada para perempuan, apakah mereka mau melakukan pekerjaan laki-laki seperti mengecat rumah? Ternyata para perempuan ini mau," tutur Ainy bersemangat.

Perjalanan dan pengalaman hidup Ainy lah yang memotivasinya untuk menghidupi dirinya dengan menjadi motivator. Meski tak tahu bagaimana caranya menjadi motivator, Ainy terus belajar dan mencari cara untuk mengejar mimpinya ini. Perempuan harus berani bermimpi dan membangkitkan impiannya. Perempuan harus berpikir besar, bertindak cerdas untuk kehidupan lebih baik, namun tetap harus tahu pasti posisinya ada di mana.

"Sejak kecil saya tidak mau menjadi orang yang biasa-biasa saja. Saya selalu berkhayal. Sejak kecil ingin ke luar negeri. Untuk mewujudkannya, setiap bertemu orang asing, saya ajak bicara, karena saya tahu untuk ke luar negeri saya harus bisa berbahasa Inggris. Setiap ada pesawat yang lewat di atas rumah, saya bilang saya ingin naik pesawat. Saya tanya ke ibu, berapa ongkos naik pesawat. Ibu saya hanya bilang mahal, Nak, kita nggak mampu. Tapi saya yakin suatu hari saya bisa naik pesawat," tutur Ainy mengisahkan masa kecilnya.

Impian dan kekuatan pikiran inilah yang menguatkan Ainy, dan mendorongnya untuk selalu berupaya mewujudkan keinginannya. Jika berhasil diterapkannya, maka ia pun yakin perempuan lain mampu melakukannya. Mengubah mindset perempuan menjadi misinya, melalui profesi barunya, sebagai motivator. Atas motivasinya, Ainy pun dinilai layak menerima penghargaan perempuan yang mencerahkan, mengedukasi, dan memberdayakan bersanding bersama 51 perempuan lainnya di Tupperware SheCAN! Award 2011.

(Lanjut ke bagian II)


Editorwawa

Close Ads X