Panggung Baru Karenina - Kompas.com

Panggung Baru Karenina

Kompas.com - 22/02/2012, 19:27 WIB

KOMPAS.com - Karenina (29), dulu adalah model yang menambah indah lintasan mode. Kini ia seorang ibu yang ingin mengeksplor mimpi-mimpi indah yang dulu belum sempat ia jamah.

Ketika gerimis turun di Jakarta, tengah Februari lalu, Karenina sedang mengeloni si mungil, Krishna, anaknya yang berusia 17 bulan. ”Dia baru saja tidur he-he... Sekarang aku seratus persen ibu rumah tangga,” kata Karenina bangga.

Nina, begitu sapaannya, saat itu keluar dari kamar. Ia berlari-lari kecil di rumahnya yang luas di bilangan Jalan Daksa, Jakarta Selatan. Ia bersandal jepit, mengenakan kaus hitam, dan celana jins merah. Ia lalu duduk di sofa krem yang hangat.

This is the next stage of my life, dan saya menikmati sebagai ibu,” katanya dalam bahasa Inggris yang kadang terselip dalam ucapannya.

Nina menyusui anaknya dan itu membuatnya sangat dekat dengan sang anak. ”Pas pertama memberi ASI, aku bersyukur karena air susu langsung banyak banget. Kalau lagi traveling enak, ringkes gak usah bawa-bawa botol he-he...” kata Nina, yang pernah mengajak anaknya ke Bali dan Singapura.

Karenina pada paruh kedua era 1990-an adalah model yang banyak menghiasi majalah dan mencerahkan pentas-pentas mode. Saat itu usianya belum genap 17 dan ia menjadi kesayangan media. Sosoknya tomboy di luar pentas, namun begitu berkelebat di lintas mode, ia tampak anggun, feminim.

Nina masih melenggang hingga paruh kedua era 2000-an. Ia baru mengurangi langkah di jagat fashion setelah menikah dengan Kamal Bhojwani pada tahun 2009. Kini ia merasa telah menapak pada babak berikut dari perjalanan hidupnya.

”Aku pengen menikmati sebagai ibu, istri. Aku kan kerja sejak umur 13 tahun. Waktu itu, aku hanya kerja, kerja, kerja...” katanya sambil menyibakkan rambutnya yang panjang sepundak. ”Dan ternyata aku cocok banget sebagai ibu ha-ha...” katanya dengan tawa manis.

Cocok?

”Ya... Menjadi ibu telah mengubah kepribadianku. Aku menjadi lebih sabar. Ini anugerah Tuhan. Naluri sebagai ibu itu muncul dengan sendirinya.”

Dulu ada tato naga di lengan kanan Nina. Kini rajah itu telah dihilangkan. ”Dulu tato ini membawa hoki, lho, he-he... tapi sekarang sudah selesai,” katanya tentang tato yang kini tinggal tersisa tipis bagai bayang-bayang di kulitnya yang bersih.

”Ini sesuai dengan proses pendewasaan diri,” katanya menambahkan.

Garmen dan nyanyi
Meski tetap berkonsentrasi mengurus anak, Nina mulai mengembangkan hobi dan impian merancang pakaian dengan membuka bisnis garmen bekerja sama dengan sang ibu. Ia menggunakan merek atas namanya sendiri: Karenina.

Rupanya sejak jadi model, Nina sudah memendam impian dalam hal rancang busana. Nina menyebut usaha pakaian jadinya sebagai berskala kecil. Namun, justru dari yang kecil itulah ia ingin belajar.

Ia menargetkan dalam setahun pertama bisa memproduksi seribu potong pakaian dan bisa menembus pasar nasional. Setiap bulan, Karenina akan mengeluarkan koleksi baru, mulai dari gaun, rok, blus, t-shirt, dan celana. Ia menyasar konsumen perempuan kelas menengah pencinta mode yang ingin tampil beda.

”Setiap desain aku produksi dalam berbagai size, tapi enggak banyak, jadi enggak pasaran.”

Nina yang berpengalaman di jagat model mengaku akan sangat mempertimbangkan kualitas dan kenyamanan pakai. Itu mengapa Nina dan ibunya turun langsung memilih bahan, juga retsleting sampai kancing. ”Bahan harus enak, dipakai juga enak. Potongan dan jahitan harus rapi, tapi harga terjangkau,” kata Nina yang fasih juga berpromosi.

Di luar usaha garmen, waktu-waktu luang sebagai ibu digunakan Nina untuk berlatih menyanyi. Bernyanyi adalah kesenangan dan bakat yang sempat tak terasah ketika Nina sibuk sebagai model.

Nyanyi dong, Nin! Dan, Nina pun tanpa ragu mengalunkan suaranya yang feminin: ”Summertime, and the livin’ is easy. Fish are jumpin’ and the cotton is high...”

Itu lagu Summertime dari Gershwin yang telah menjadi lagu wajib jazz, standard tune. Nina memang menyukai jazz. Ibunya dulu suka memutar lagu-lagu jazz dari Nat King Cole atau Ella Fitzgerald. Ia tak menutup kemungkinan untuk merekam suara. Selain nyanyi, ia juga memperdalam lagi urusan bermain piano. ”Sekarang dengan anak dan keluarga aku ingin eksplor mimpi-mimpiku yang lain.”

Merayakan hidup
Nina mensyukuri masa-masa yang telah dilaluinya dengan bahagia sebagai model. Baginya, setiap tahapan hidup harus dinikmati, dirayakan. Menjadi model, misalnya, adalah kepanjangan dari impian masa kecil yaitu nggaya di atas panggung. Dulu di masa kecil, pentas 17 Agustusan pun ia lakoni karena, katanya, ada jiwa ingin tampil.

”Dulu itu kalau di stage aku rasanya happy. Makanya waktu jadi model itu aku merasa nyaman dengan apa yang aku lakukan.”

Karenina tak merasa kehilangan masa-masa indah sebagai model. Ia tampak dewasa ketika menyampaikan pandangannya tentang ibu, waktu, dan kehidupan. Katanya, waktu terus bergulir dan hidup harus berjalan dan orang tak bisa berkutat dan puas di satu tempat yang sama. Seiring dengan berjalannya waktu, Nina
merasa harus melakukan sesuatu yang berarti agar hidup tidak sia-sia. Untuk itu ia mau belajar, bekerja, dan memulai sesuatu yang baru. ”Hidup itu, kan soal belajar, belajar...” katanya.

”Kemarin itu seru dan indah. Sekarang juga indah. Kemarin tak akan balik lagi dan menjadi kenangan indah. Inilah hidupku yang sekarang. Hidup harus berevolusi menjadi lebih baik, lebih indah,” kata Karenina dengan senyum indah.

(Frans Sartono)


EditorDini

Close Ads X