Terapi Gusi Bisa Kurangi Keluhan Penyakit

Kompas.com - 01/04/2012, 23:32 WIB
|
EditorMarcus Suprihadi

 

SEMARANG, KOMPAS.com- Kesehatan Gigi dan mulut sangat penting untuk menunjang kesehatan tubuh secara keseluruhan, karena mulut adalah pintu gerbang dari segala makanan dan minuman yang masuk dalam tubuh. Bahkan gigi tertentu memiliki hubungan yang erat dengan bagian tubuh tertentu. Dengan menggabungkan terapi gusi dan diet golongan darah, ternyata bisa mengurangi berbagai keluhan penyakit.

Pengalaman klinis selama 12 tahun menangani pasien dengan terapi gusi yang digabungkan dengan diet golongan darah tersebut didokumentasikan oleh drg Grace W Susanto, dokter gigi asal Semarang, Jawa Tengah dalam sebuah buku Terapi Gusi.

Terapi ini ditemukan tahun 1999 secara tidak sengaja. Awalnya dari pembersihan karang gigi dan pembersihan jaringan periodontal atau gingiva. Ternyata pasien setelah dilakukan terapi ini merasakan kelegaan. "Banyak pasien yang dilakukan pembersihan mulut secara total, mengaku menjadi lebih baik kesehatannya," ujar Grace pada peluncuran buku Terapi Gusi sekaligus penyerahan SK HAKI atas Terapi Gusi, Sabtu (31/3/2012), di Semarang.

Grace melakukan terapi gusi dengan cara membuang jaringan mati (granulasi) di dalam pembuluh darah perifer, sehingga membantu kelancaran sirkulasi darah dan secara tidak langsung mendukung fungsi sistim limfatik untuk kekebalan tubuh.

Dari pengamatan sejak tahun 2002 Grace juga menemukan ada hubungan yang erat antara bagian gigi tertentu dengan bagian tubuh tertentu. Ia menegaskan, dari literatur diketahui bahwa warna gusi berkaitan erat dengan kesehatan gusi. Dari pengamatan selama ini ternyata ketidakcocokan diet dan keracunan zat kimia dari makanan, misalnya MSG (Monosodium glutamate) berakibat pada perubahan warna gusi.

Pada tahun 2006 dr Peter d Adamo mulai mempopulerkan tentang diet golongan darah. "Saya mencoba menggabungkan antara Terapi Gusi dan diet golongan darah. Di luar dugaan ternyata diet ini mendukung keberhasilan terapi gusi," ujarnya seraya meminta kepada para dokter gigi dan akademisi untuk bersama-sama mendalami fenomena klinis tersebut.

Kendati berbagai pasien menyampaikan testimoni setelah melalui terapi gusi, keluhan penyakit dari pasien berkurang, menurut Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, Prof Dr drg Melanie S Djamil MBiomed yang hadir pada acara tersebut, pengalaman klinis dalam terapi gusi itu hendaknya didukung pembuktian secara ilmiah agar tidak terjadi kesalahpahaman masyarakat dalam bidang kedokteran.  

"Dalam ilmu pengetahuan harus ada bukti. Buku Terapi Gusi bisa kita bedah dari institusi masing-masing. Begitu banyak cabang ilmu yang terkait dengan buku ini, maka kaum intelektual harus meneliti lebih jauh dan menggali lebih jauh," ujar Melanie yang mendorong ada penelitian ilmiah yang lengkap.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.