"Status Tanpa Hubungan" Makin Marak di Indonesia

Kompas.com - 15/05/2012, 22:09 WIB
EditorDini

KOMPAS.com — Setiap pasangan pasti menginginkan pernikahan yang bahagia. Tak ada satu pun orang yang ingin pernikahannya hancur berantakan dan berakhir dengan perceraian. Sayangnya, keinginan tersebut tak cukup kuat menimbulkan komitmen untuk mempertahankan hubungan sehingga berakhir dengan perceraian.

"Ini merupakan suatu fakta pernikahan yang ada di Indonesia, di mana banyak rumah tangga yang bercerai walaupun dari luar terlihat aman," ungkap konsultan pernikahan Indra Noveldy dalam seminar pernikahan di Hotel Maharadja, Jakarta, Minggu (13/5/2012) lalu.

Menurut survei, setiap tahunnya tercatat sekitar 200 pasangan bercerai di Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pemegang rekor perceraian nomor satu di Asia Pasifik. Perceraian ini disebabkan karena berbagai hal, 97 persennya merupakan faktor ketidakharmonisan antarpasangan. Diungkapkan Indra, sebenarnya kondisi ketidakharmonisan antarpasangan ini lebih merupakan karena ketidaksiapan pasangan untuk menikah dan juga tingkat kedewasaan mereka.

"Seratus persen pasangan yang menikah sebenarnya punya masalah, dan sekitar 90 persennya dialami di kota besar. Tidak ada pernikahan yang benar-benar bebas dari masalah," tukasnya. Hanya saja, penyelesaian masalah tergantung pada tingkat kedewasaan dan ego masing-masing orang.

Indra menambahkan, banyak orang yang merasa sudah tidak nyaman dengan pernikahannya, tetapi masih tetap mempertahankannya. Hal ini kelak akan menyebabkan pasangan menikah terjebak dalam "status tanpa hubungan".

"Biasanya orang lebih mengenal 'hubungan tanpa status', tapi dalam kasus ini yang terjadi adalah 'status tanpa hubungan'. Statusnya suami atau istri, tetapi tanpa hubungan yang baik sebagai suami istri," paparnya.

Status tanpa hubungan ini merupakan situasi ketika pasangan sudah tidak harmonis satu sama lain, tetapi mereka tetap terikat dalam pernikahan. Kondisi ini tentunya menjadi tidak sehat karena cinta semakin lama semakin pudar, dan kehangatan keluarga pun makin menurun.

"Mereka memilih untuk bertahan hanya karena faktor takut dengan orangtua, kasihan pada anak, bahkan takut akan berdampak pada karier mereka," ujar Indra.

Pasangan seperti ini takut bercerai karena berbagai hal, tetapi juga tidak berusaha untuk memperbaiki kondisi pernikahannya. Sikap acuh seperti ini akan berbahaya karena semakin memperburuk kondisi perkawinan mereka. Dalam hubungan yang dingin seperti ini, pasangan tidak berusaha membangun komunikasi layaknya suami istri. Sapaan yang terjadi hanya dilakukan untuk basa-basi. Hal ini akan membuat perkembangan psikologis anak-anak akan terganggu.

"Salah satu kondisi yang menjadi pertanda adanya masalah status tanpa hubungan ini adalah ketika pasangan menjadi lebih rajin lembur bekerja atau workaholic dan jarang di rumah," katanya.

Pasangan berusaha saling menghindar dan merasa lebih nyaman ketika tenggelam dalam pekerjaannya. Ketika masing-masing sedang berada di rumah, hubungan yang dingin membuat situasi rumah tangga lebih mirip rumah kos karena suami istri saling mengacuhkan.

Cinta saja ternyata tak cukup untuk membangun hubungan pernikahan agar tetap hangat. Sebelum menikah, pasangan harus menyiapkan banyak "bekal", terutama kedewasaan diri.

"Pacaran dalam jangka waktu yang lama tidak akan menjamin bahwa sebuah pernikahan akan langgeng dan bahagia," tukasnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X