Gaun Malam yang Terinspirasi dari Red Carpet - Kompas.com

Gaun Malam yang Terinspirasi dari Red Carpet

Kompas.com - 27/05/2012, 18:56 WIB

KOMPAS.com - Event Jakarta Fashion & Food Festival menjadi kesempatan bagi para desainer untuk mengeksplorasi kreativitas mereka. Dalam show bertema Bold and Elegance, empat desainer Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), yaitu Harry Lam, Misan, Fomalhaut Zamel, dan Jimmy Fei-Fei, menunjukkan bahwa kesan berani dan elegan bisa ditampilkan melalui banyak cara.

Koleksi busana Harry Lam yang bertema The Lady, misalnya, hadir dengan tambahan sedikit aksen bling-bling. Gaun malamnya bergaya sangat feminin dengan cutting yang membentuk siluet tubuh. "Inspirasinya didapatkan dari desain susunan tangga tempo dulu yang elegan dan unik," ungkap Harry Lam, saat konferensi pers di Hotel Harris, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (23/5/2012) lalu.

Aksen tangga ini diaplikasikan dalam busana dengan teknik lipit bersusun dalam busananya. Gaun malamnya sendiri banyak menggunakan rancangan strapless, mermaid, dan one shoulder. Untuk menyempurnakan penampilannya, Harry menggunakan aksen couture dan bordir yang kaya detail di bagian atas gaunnya. Bahan yang digunakannya antara lain satin, lace, dan taffeta.

Tema senada untuk mempercantik dan menambah keanggunan para perempuan juga dihadirkan oleh Misan. Koleksinya terinspirasi dari keanggunan para perempuan yang berjalan di atas red carpet. "Penampilan mereka yang sangat ditunggu di atas red carpet pasti akan membuat semua orang berdecak kagum ketika melihat gaun indah yang mereka kenakan. Dan saya ingin menampilkan perasaan yang seperti ini dalam gaun pestanya," tukas Misan.

Koleksi Misan tampil lebih ceria dengan paduan warna-warna yang cerah seperti hijau, kuning, dan merah. Gaun yang serba bling-bling makin semarak dengan permainan lilitan kain, serta tambahan detail couture. Material yang dipilihnya antara lain sutera sifon, satin, dan lace.

Serunya, di bagian akhir mini show-nya, Misan justru menghadirkan koleksi gaun pengantin yang terkesan simpel berwarna putih gading. Gaun pengantin ini dilengkapi dengan jubah tipis dari lace dan membentuk ekor gaun yang indah.

Sensasi yang berbeda dihadirkan Fomalhaut Zamel karena ia banyak berkreasi dengan bahan rajut dari Bukittinggi dalam The Knitting of Love. "Perjalanan cinta yang panjang, rumit, dan berliku-liku diibaratkan dengan benang kusut yang jika dirajut dengan terampil akan menjadi sebuah karya yang indah dan membahagiakan," ujar Fomalhaut Zamel.

Zamel banyak menuangkan perasaan cinta ke dalam warna-warna lembut, antara lain off white, krem, peach, khaki, dan warna nude lainnya. Aplikasi rajutan ini dikombinasikan dengan tambahan bahan lain seperti lace, tulle, dan katun. Rajutannya banyak diaplikasikan dalam model bolero, mini dress, gaun strapless, dan gaun backless dengan tambahan draperi.

Di sesi terakhir, Jimmy Fei-Fei juga menghadirkan suasana yang berbeda. Dengan tema Appocalyptica, ia menghadirkan nuansa peperangan di masa Romawi kuno. Dengan inspirasi dari gaya gladiator, ia menghadirkan kesan perempuan yang kuat dan tangguh namun tetap elegan dan cantik.

"Busana ini basic-nya adalah gaun malam, namun tambahan aksesori lain membuat gayanya seperti pejuang perempuan. Namun busana ini lebih tepat digolongkan sebagai kostum," tukas Jimmy.

Ada sekitar 10 kostum yang ditampilkan Jimmy dengan dominasi warna perak, emas, dan hitam. Sebagai detail pelengkapnya, kostum yang terkesan bling-bling ini dikombinasikan dengan tambahan aplikasi alumunium foil dan aksen batu-batuan.


EditorDini

Close Ads X