Mengapa Bidan Butuh Motivasi? - Kompas.com

Mengapa Bidan Butuh Motivasi?

Kompas.com - 01/07/2012, 00:11 WIB

KOMPAS.com - Tak sembarang orang yang mampu berprofesi sebagai bidan, karena pekerjaan ini menuntut bukan semata keahlian dan keterampilan termasuk pengetahuan medis, namun membutuhkan pribadi yang peduli terhadap sesama. Bidan bukan semata bertugas membantu proses bersalin, bukan juga sebatas tenaga kesehatan, namun seorang bidan memiliki kelebihan dan ia mampu memaksimalkan kekuatan dalam dirinya itu untuk membawa perubahan di masyarakat.

Motivasi yang kuat dalam diri bidan dapat membantunya untuk memaksimalkan potensi dirinya. Yakni meningkatkan kadar kepedulian dan rasa cinta kasih terhadap ibu melahirkan dan bayinya, dan pada akhirnya menjadikan dirinya sebagai pribadi mulia, bukan semata bekerja demi uang, tapi untuk hal yang lebih besar.

Inilah sejumlah alasan mengapa motivator kepemimpinan dan pengembangan diri, Ainy Fauziyah dilibatkan dalam kegiatan Seminar Kebidanan Nasional diadakan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM) di Jakarta, yang melibatkan lebih dari 1500 bidan.

"Bidan punya kelebihan yakni peduli yang ditunjukkan dari cara mereka merawat ibu dan bayi. Rasa peduli ini yang perlu digali lebih mendalam lagi. Sepandai apa pun kalau tidak punya peduli jangan berharap bisa menjadi bidan luar biasa. Kalau peduli, ia bisa mengubah mindset, ia bisa membuat perubahan. Namun peduli saja tidak cukup, tapi juga dibutuhkan keyakinan. Problemnya tak semua bidan punya kepercayaan diri dan benar-benar tahu apa yang ia mau," jelasnya di sela kegiatan seminar berlangsung di Plaza Bapindo, Jakarta, Sabtu (30/6/2012).

Bagaimana menjadi bidan yang tahu apa yang mereka inginkan, memiliki mental hidup yang bukan semata mengejar uang, memiliki peduli yang tinggi dan keyakinan, menjadi tujuan motivasi Ainy bertema Superwoman Mulia untuk para bidan muda ini. Bagi Ainy, bidan memiliki potensi besar melakukan perubahan dari segi kesehatan. Karenanya, penting bagi bidan untuk mampu memotivasi dirinya, memiliki keyakinan akan apa yang dilakukannya dan punya jiwa sosial tinggi agar mampu bekerja dengan semangat kepedulian, bukan semata mengejar materi.

"Uang akan datang dengan sendirinya jika kita berbuat baik," jelas motivator yang juga penulis buku Dahsyatnya Kemauan ini.

Rasa peduli yang tinggi perlu dimiliki bidan jika ingin sukses menjalani pilihan kariernya ini. Ainy menyontohkan bagaimana bidan asal Amerika Robin Lim mampu membuat perubahan dengan mendirikan klinik Bumi Sehat di Ubud, Bali, membantu kaum tak mampu untuk melahirkan dengan penanganan yang setara dan memang semestinya didapatkan ibu dan bayi.

Begitu juga dengan bidan Rosalinda Delin dari Belu, Nusa Tenggara Timur yang menggerakkan sosialisasi dari rumah ke rumah mengenai risiko tradisi panggang api untuk ibu baru melahirkan. Perlahan masyarakat setempat mulai meninggalkan kebiasaan yang membahayakan kesehatan ibu. Atas perjuangannya, penghargaan Bidan Inspirasional Srikandi Award 2011 diberikan kepadanya.

Bidan muda Indonesia juga bisa melakukan hal besar, dengan memiliki kepedulian dan keyakinan. Demikian diyakini Ainy, semangat yang berusaha ia tularkan kepada sebanyak mungkin peserta seminar. "Bidan pun pahlawan, dalam arti memiliki esensi sebagai pahlawan dalam bidang kesehatan," tutupnya.

 


Editorwawa

Close Ads X