Kompas.com - 06/07/2012, 19:02 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

JAKARTA, KOMPAS.com - Konsumsi obat-obatan untuk masalah ereksi tidak boleh sembarangan, dan harus dengan pengawasan dokter. Terlebih lagi, obat-obatan yang dijual bebas dengan mengklaim sebagai obat kuat .

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan meningkatkan pengawasan terhadap obat kuat di Indonesia yang dijual bebas dan terang-terangan, mulai dari kios permanen hingga gerobak di pinggir jalan. Kandungan kimia dalam obat kuat , berdasarkan penelitian BPOM, antara lain sildenafil sitrat, tadalafil, dan vardenafil.

Seksolog dan spesialis andrologi, Heru Oentoeng, mengatakan, Jumat (6/7/2012), obat-obatan untuk mengatasi disfungsi ereksi aman sepanjang dipergunakan di bawah pengawasan dokter, dibeli di tempat yang benar, digunakan sesuai dosis, serta  mempertimbangkan kondisi dan keberadaan penyakit lainnya .

"Yang berbahaya itu jika seseorang termakan mitos obat kuat , membeli obat sembarangan, dan menggunakannya tanpa pengawasan dokter," ujar Heru.

Jika obat yang dibeli itu palsu, dapat saja mengandung tepung, obat kencing manis, obat hipertensi, ekstasi, dan campuran bahan yang tidak sesuai dengan yang didaftarkan, sehingga berpengaruh pada kesehatan. "Dampaknya sangat tergantung dengan bahan yang terkandung di dalamnya," ujarnya.

Begitu pula jika obat yang dibeli sembarangan itu mengandung sildenafil sitrat, tadalafil, dan vardenafil dengan dosis dan campuran tidak sesuai.

Heru mencontohkan, penderita jantung koroner tidak dapat mengonsumsi campuran obat golongan nitrat dengan vardenafil. Campuran itu dapat menyebabkan hipotensi atau turun drastisnya tekanan darah yang berbahaya bagi penderita jantung koroner.

Selain itu, terdapat pula orang yang super sensitif dengan obat disfungsi ereksi, sehingga bisa mengalami ereksi terus-menerus selama lebih empat jam karena adanya sumbatan pada pembuluh darah.

"Untuk kasus seperti itu harus ditangani dengan operasi pada penis yang berisiko menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di penis. Tetapi, kasus demikian kecil jumlahnya," kata Heru.

Heru mengatakan, harus disamakan terlebih dahulu persepsi masyarakat tentang obat kuat. Obat-obatan dengan merek dagang cialis dan viagra merupakan obat disfungsi ereksi dan bukan obat kuat.

Apa yang dikenal dengan obat kuat itu sebetulnya dilekatkan pada bahan-bahan untuk meningkatkan stamina tubuh dan kemampuan , misalnya agar lebih lama ereksi.

"Ada berbagai herbal, termasuk ginseng yang dimitoskan sebagai obat kuat. Namun, herbal-herbal itu fungsinya lebih kearah meyegarkan fisik tubuh, jadi tidak langsung ke soal ereksi," kata Heru.

Menurut Heru, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan herbal itu dapat mengatasi masalah disfungsi ereksi. Konsumsi herbal murni yang pada dasarnya menyegar kan tubuh itu, seharusnya tidak berbahaya.

 

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X