Cut Nadirasari: Dokter yang Juga Model - Kompas.com

Cut Nadirasari: Dokter yang Juga Model

Kompas.com - 30/07/2012, 10:59 WIB

KOMPAS.com - Cut Nadirasari menjalani dua kutub kehidupan yang berbeda. Gadis mungil asal Aceh ini merampungkan pendidikan dokter sekaligus menjadi Puteri. Ia mengalir mengikuti langkah kaki. Ringan, tanpa beban.

Keseharian Nadira di rumahnya jauh dari kesan seorang model yang telah beberapa kali memenangi kontes kecantikan. Meskipun tinggal di rumah tiga lantai yang sangat luas, hidupnya terbebas dari kesan glamor.

Menjumpai Nadira di rumahnya butuh perjuangan. Jalan menuju rumah bergaya klasik yang dibangun di tengah perkampungan padat penduduk di Jatibening, Bekasi, itu, penuh lubang dan lebar jalan hanya muat untuk satu mobil.

Keceriaan menjadi sajian utama saat bertemu Nadira. Ia tak pernah berhenti bercerita. Setengah berlari, ia menaiki tangga dan membuka pintu ruang keluarga di lantai dua. Di tempat duduk di samping ranjang besar, Nadira segera mengungkapkan kegembiraannya karena baru saja lulus sebagai dokter muda.

Sebelum melanjutkan perbincangan, ia menyajikan udang tepung goreng plus semangkuk es krim cokelat. ”Saya masak lho tadi. Saya hobi masak, tapi enggak suka nyuci piring,” katanya sambil tersenyum manis.

”Hari ini masak spageti. Kalau enggak buru-buru, saya suka nasi goreng dan sapo tahu,” katanya.

Mata tercantik
Nadira mulai jatuh cinta pada dunia model sejak masih SMA. Ia sempat minder karena dari kecil merasa tidak cantik. Kecuali orangtua, menurut Nadira, tidak ada seorang pun yang pernah memujinya cantik.

Namun, tampaknya, Nadira dan orang-orang lain itu keliru. Mata Nadira yang bulat dan selalu lekat menatap lawan bicara menjadi daya pikat yang khas. Ia lolos kompetisi pemilihan model dan kemudian masuk sepuluh besar ajang Miss Indonesia dan ikut tur ke Eropa.

Masih menggunakan kawat gigi, ia terpilih mewakili Indonesia ke Hongkong dalam kontes Asia’s Most Beautiful Eyes. Matanya cocok dengan deskripsi kecantikan mata orang Indonesia, yaitu ”almond shape eye”. Mata Nadira semakin menarik dipadukan dengan wajahnya yang mudah tersenyum.

”Di ajang Beautiful Eyes, gigi belum rata dan jempol cantengan sehingga enggak bisa pakai hak tinggi. Sementara yang lain kurus dan prepare. Saya bersyukur dari segi modeling ternyata wajah saya menjual,” ujar Nadira sembari tertawa.

Kegiatannya di bidang modeling sempat hendak distop ketika Nadira mulai kuliah kedokteran. Namun, Nadira tak kuasa menolak ketika kenalannya di ajang Miss Indonesia meminta dia terlibat di kontes Puteri Pariwisata 2008. Ia bersedia ikut asalkan dibolehkan bolos untuk mengikuti ujian akhir semester.

Tiga kali dalam sepekan selama masa karantina Puteri Pariwisata, Nadira bolak-balik dijemput sopirnya. Nadira mengikuti ujian semester dengan alis yang tinggal separuh karena dikerok dan masih mengenakan sepatu hak tinggi. Sebaliknya, ketika kembali ke tempat karantina, Nadira masih harus melek belajar ketika kontestan lain sudah lelap tidur.

Banyak yang harus dikorbankan ketika memadukan antara profesi dokter dan dunia model. Beberapa kali, ia mendapat tawaran menjadi model setelah jaga malam di rumah sakit. Tubuhnya sering kali sudah terlalu letih akibat tur ke daerah sehingga tak lagi bisa belajar.

”Saya orangnya bosanan. Ilmu kedokteran itu menarik dan there’s something that money can’t buy. Tapi, saya juga perlu dunia di luar itu. Saya ikut kontes untuk memperoleh kesenangan. Fun-nya itu bikin kecanduan,” ujar Nadira.

Paling mahal
Cita-cita menjadi dokter dipupuk Nadira sejak kecil. ”Saya nanya ke orang-orang, kuliah apa yang paling susah dan paling mahal. Kedokteran ternyata paling susah dan paling mahal sehingga saya ambil. Saya suka tantangan,” kata Nadira.

Saat ini, Nadira sedang mempersiapkan pendidikan lanjutan dokter bedah saraf atau dokter kecantikan. Sebuah gedung yang dipersiapkan untuk klinik juga sedang dibangun di lahan kosong di samping rumahnya.

”Kepenginnya, sih, ambil bedah, tapi sedang mikir sanggup enggak enam tahun lagi kurang tidur, stres fisik dan mental, harus mental jawara banget,” kata gadis yang menguasai lima bahasa, yaitu Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, dan Mandarin, ini.

Kuliah kedokteran melatih kedisiplinan Nadira. Ia sudah bangun sejak pukul 04.00 dini hari. ”Saya enggak manja. Buktinya saya bisa menjalani empat tahun naik bus. Turun dari bus, kan, tidak bisa langsung plek kayak Puteri. Saya menjalani itu semua,” ujar bungsu dari enam bersaudara ini.

Menjadi dokter, menurut Nadira, merupakan wadah sosial paling benar untuk berbuat baik kepada orang lain. Sebagai Puteri, kegiatan sosial yang dilakukan sering kali hanya sebatas peliputan oleh media massa.

Nadira menutup perbincangan sore yang panjang hingga selepas maghrib itu dengan menyajikan masakannya. Nadira segera melahap suapan besar spageti. Sembari menahan rasa pedas, ia bercerita tentang sulitnya menjaga berat tubuh ideal dengan tidak makan pada malam hari.

Apalagi, Nadira tergolong doyan makan. Darah koki diwarisinya dari almarhum ayahnya yang pernah membuka restoran masakan Indonesia di Belanda. Seorang kakaknya kini juga membuka restoran di Qatar.

Nadira mencoba bersenang-senang dengan berburu restoran baru, pergi ke klub, atau bermain golf. Sering kali teman-temannya sampai malu ketika Nadira memesan lontong sayur, burger, hingga nasi uduk dalam sekali pesan untuk dirinya sendiri.

Di depan makanan enak, diet ketat itu dilupakan sudah....

(Mawar Kusuma)


EditorDini
Close Ads X