Kompas.com - 23/08/2012, 10:58 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Pria ternyata memiliki berbagai "misi" ketika membeli layanan seks. Hal pertama yang Anda ketahui tentunya untuk menikmati seks itu sendiri, entah untuk menyalurkan hasrat seksualnya, memuaskan rasa ingin tahu jika berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK), atau kesulitan menemukan pasangan. Selain itu, sebagian pria ternyata juga membeli layanan seks untuk menemukan cinta.

Demikianlah hasil analisa Christine Milrod dan Ronald Weitzer, setelah mendalami lebih dari 2.442 posting-an di sebuah discussion board dari sebuah situs peninjau provider seks. Dalam forum online tersebut, lebih dari 1 juta pria pembeli layanan seks membaca dan mem-posting pengalaman mereka. Kedua reporter yang masing-masing memakai nama alias "Milrod" dan "Weinenrubber" ini menemukan fakta menarik, yaitu hampir sepertiga dari posting-an tersebut membicarakan keintiman emosional antara pekerja seks dan kliennya.

Diungkapkan pula bagaimana para pria ini tergila-gila dengan para pekerja seks yang melayani mereka. Banyak dari mereka yang mengungkapkan hasratnya untuk mengubah hubungannya dari sekadar hubungan fisik menjadi saling berbagi mengenai isi hati dan pikiran yang terdalam. Menurut Milrod, hal ini sesuai dengan pengamatan pakar lain dalam beberapa tahun terakhir. Jika hubungan mereka terus berlanjut, tak sedikit yang akhirnya menemukan kisah cinta.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat suatu normalisasi bertahap dari pendamping prostitusi independen, di mana pertemuan seksual  telah menyerupai hubungan asmara semu," ujar Milrod. “Studi kami menunjukkan bahwa pelanggan dari provider seks tertentu sering mengalami perasaan sayang yang dalam, yang dapat berkembang menjadi kisah cinta sejati."

Dalam wawancara lanjutan yang dilakukan Weinenrubber dan Milrod terhadap para pelanggan layanan seks, terungkap bahwa 32 persen pelanggan (yang ditangkap karena membujuk para PSK) mengaku membeli seks karena mereka tak punya waktu untuk mencari pasangan secara konvensional. Kemudian, 28 persen dari mereka tidak menginginkan tanggung jawab yang melekat pada tipe hubungan tetap, dan 18 persennya mengatakan bahwa mereka lebih memilih berhubungan seks dengan PSK daripada memiliki hubungan konvensional dengan seorang perempuan. Bagian kecil ini lebih memilih membayar untuk layanan seks ketimbang membayar kencan, seperti makan malam atau belanja-belanja di toko peralatan rumah tangga.

Kedua reporter ini juga mengungkapkan berbagai perasaan yang dialami, dari keintiman palsu hingga ikatan emosional yang nyata antara para pekerja seks dengan pelanggannya. Yang mengejutkan, banyak dari pelanggan yang diwawancara menyatakan bahwa hubungan pribadi yang masih mereka jalani tidak memiliki elemen emosional. Kebutuhan emosional tersebut justru mereka dapatkan dari para perempuan pekerja seks. Bahkan, para perempuan ini merasa lebih dihargai dan diperhatikan oleh para pelanggan mereka, ketimbang pria-pria lain dalam kehidupan pribadi mereka.

Tak heran, karena mendapat perlakuan yang sangat baik dari pelanggan, sepertiga dari para PSK tersebut berharap pelanggan mereka akan mengundang mereka untuk minum kopi di penghujung hari. Ternyata, "Hollywood dreams" seperti yang digambarkan dalam film Pretty Woman kerapkali terjadi dalam dunia nyata. Dan, banyak dari para perempuan ini yang berharap hal tersebut terjadi pada diri mereka.

Namun, seperti telah disebut sebelumnya, kisah cinta ini hanya terjadi di Hollywood. Di belahan dunia lain, kenyataannya mungkin tidak seindah itu. Prostitusi tetaplah suatu bentuk penindasan terhadap kaum perempuan....

Baca juga:
Mengapa Pria Membeli Layanan Seks?
1001 Cara Melawan Bisnis Layanan Seks Perempuan
Prostitusi, Bentuk Penindasan Tertua di Dunia
Hilangnya Peran Lelaki dalam Bisnis Seks Perempuan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.