Hijab Tak Membatasi Perempuan

Kompas.com - 03/09/2012, 17:47 WIB
Editorwawa

KOMPAS.com - Pemilihan duta muslimah bertalenta dan berprestasi, The World Muslimah Beauty, tak semata mencari figur perempuan berwajah cantik berpenampilan menarik. Fisik memang menjadi pertimbangan, namun kepribadian dan kualitas diri menjadi saringan utamanya.

Ikon juga duta muslimah yang terpilih dari ajang pemilihan ini, harus mampu mewakili perempuan berhijab yang terbukti mampu berprestasi dan eksis di berbagai bidang. Namun tentu utamanya adalah memiliki kepribadian berlandaskan Islam.

Bagi Rofi Eka Shanty, Pendiri Muslimah Beauty Foundation, pemilihan duta muslimah merupakan bentuk kontribusi untuk mewujudkan harapan baru wajah Islam Indonesia dan dunia. Pesan utamanya, perempuan berhijab tak terbatasi dalam mengembangkan potensi diri dan memberikan kontribusi untuk orang lain.

Rizkitha Aswinda Putri, grand finalist dari DKI Jakarta mengakui, keterlibatannya dalam The World Muslimah Beauty 2012, menjadi cara yang dipilihnya untuk berkontribusi terhadap lingkungan. Eksistensinya di ajang ini sekaligus pembuktian juga untuk memberikan inspirasi, bahwa perempuan berhijab tak perlu khawatir untuk beraktivitas di berbagai bidang.

"Ajang ini membuktikan muslimah berhijab bisa beraktivitas di segala bidang dan berprestasi. Saya bersyukur, dengan acara ini semoga bisa mengubah paradigma di masyarakat yang seringkali mengatakan perempuan berhijab sulit mendapatkan pekerjaan dan lain sebagainya. Bagi saya, rezeki di tangan Allah. Memakai hijab adalah perintah dan saya memahami sudah sepatutnya perempuan menutup aurat, jadi tak perlu takut tidak mendapatkan pekerjaan," jelas perempuan yang akrab disapa Gita kepada Kompas Female.

Keberadaannya bersama 19 Grand Finalist lainnya, memberikan contoh kepada perempuan muda untuk lebih percaya diri mengembangkan diri, tanpa merasa terhambat oleh hijab. Gita kini berprofesi sebagai desainer software games untuk anak-anak, dan aktif dalam kegiatan sosial memberikan edukasi gratis pada anak-anak. Ia juga berwirausaha membuka bisnis pet shop online.

Gita sendiri mendapatkan arahan dari orangtua untuk mengenakan hijab sejak remaja, tepatnya ketika ia duduk di SMP tingkat satu. Karena belajar di sekolah umum, dan remaja berhijab masih sedikit jumlahnya, di kelasnya hanya Gita yang mengenakan hijab saat itu.

Memasuki SMA, Gita semakin memahami makna hijab. Ia sempat goyah, karena tergoda gaya hidup di dunia mode yang banyak menawarkan busana untuk perempuan tak berhijab. Anggapan yang datang dari orang terdekat, kecuali keluarga intinya, juga sempat membuatnya goyah. Yakni, anggapan bahwa perempuan berhijab akan sulit mendapatkan kesempatan bekerja, atau tak seluas kesempatan yang didapatkan perempuan tak berhijab.

"Ternyata saya bisa membuktikan, hingga lulus kuliah saya bisa beraktivitas tanpa melepas hijab.Saya pernah bekerja di perusahaan asing dan dipercaya memegang jabatan. Jika perusahaan asing bisa menerima saya, kenapa orang Indonesia tidak bisa menerima keberadaan perempuan berhijab?" ungkap finalis Abang Mpok Depok 2012 ini.

Gita mengaku tak melihat adanya kendala bagi perempuan berhijab dalam beraktivitas. Kerabatnya yang tinggal di Jerman, juga diakuinya tak menemui kendala memakai hijab. "Saya tidak menemukan kendala, namun mungkin berbeda kondisinya di Amerika Serikat, yang masih memandang Islam sebagai teroris, perempuan berhijab mungkin terkendala di sana," tutur perempuan muda yang namanya pernah masuk di dalam daftar 50 orang semifinalis di pemilihan Muslimah Beauty 2011 ini.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X